Review Novel Dua Dini Hari (Chandra Bientang)

Review Novel Dua Dini Hari dari penulis Chandra Bientang ini adalah ulasan kedua yang aku buat di bulan Oktober. Dan ini juga buku kedua dari seri Urban Thriller Noura Books yang aku baca dan aku buat ulasannya. Meski sempat maju mundur karena agak ngeri-ngeri sedap, akhirnya baca dan buat review bukunya juga. Oke, here we go!

review novel dua dini hari chandra bientang

Dua Dini Hari

Penulis: Chandra Bientang
Penerbit: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)
ISBN: 978-602-385-958-0
Jumlah halaman: 248 halaman
Cetakan pertama: Agustus 2019


Tiga anak jalanan ditemukan tewas, tergantung di pinggir flyover kawasan Jatinegara. Satu mayat lagi menyusul, kali ini terlilit kabel tiang listrik.
Penyelidikan dimulai dengan enggan, para polisi bertindak meski jauh dari kata maksimal.
Pemikiran semua orang sama: mereka hanya gelandangan, lebih baik disingkirkan.
Seolah ada yang bertekad membersihkan jalanan, mengurangi masalah pelik kota. Namun, benarkah anak-anak itu pantas mati?
Dengan cara seperti itukah mereka layak dilenyapkan?
Siapakah psikopat yang melakukan semua kegilaan ini?


Sekilas Novel Dua Dini Hari

Sebagai buku kedua seri Urban Thriller yang kubaca, Dua Dini Hari tidak gagal membuatku merinding disko. Ekspektasi pertamaku full thriller, tapi ternyata kerasa horornya.

Buku ini membahas kejadian di Jatinegara pada dua dini hari. Di awal pagi, sejumlah anak jalanan ditemukan sudah meninggal dan (sengaja?) digantung di bawah flyover. Sebuah tempat yang mudah ditemukan oleh orang banyak.

Penyelidikan kasus ini tampak lambat. Orang-orang memilih tidak peduli, karena korbannya ‘hanya’ anak-anak jalanan. Anak-anak yang bahkan tidak jelas nama dan asalnya. Bahkan ada yang berpikir kalau mereka ini lebih baik disingkirkan saja untuk mengurangi peliknya masalah perkotaan.

Sampai muncul sosok Elang. Seorang taruna akpol yang enggan kembali ke kampusnya dan memilih menelusuri apa yang terjadi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Keterikannya pada kasus ini mempertemukan Elang dengan Kanti, seorang mahasiswa DKV yang tengah cuti. Satu per satu fakta tak terduga terkuak. Tapi, Elang dan Kanti dalam bahaya!


Sisi Lain Jatinegara, Lewat Tengah Malam

Bab pertama dibuka dengan adegan kejar-kejaran di suatu pelosok Jatinegara. Penulis menghadirkan sisi lain kawasan Jatinegara di waktu larut, lewat tengah malah. Meski tadinya kupikir, tidak ada bagian Jakarta yang tertidur, entah kapan waktunya. Nyatanya, dari buku ini diceritakan tentang suatu sudut Jakarta yang mengalami tidur juga. Dan ternyata Jatinegara lewat tengah malam, cukup mengerikan.

Disambung dengan bab-bab berikutnya yang memperkenalkan satu per satu karakter dalam novel ini. Kalau boleh dibilang, tiap bab itu memperkenalkan satu karakter baru. Tapi, tanpa kehilangan ritme cerita.

Membaca novel ini seperti membaca puzzle teka teki. Tiap bab-nya ibarat informasi baru. Sejujurnya, aku perlu membaca sekitar setengah buku dulu sampai bisa menemukan benang merah informasi dari tiap bab-nya. Cukup ngos-ngosan, sebenarnya. Tapi enggan untuk berhenti.


Karakter yang Detail

Selain ceritanya, hal menarik lainnya dari novel ini adalah penggambaran karakter yang dibuat penulis. Chandra Bientang berhasil menunjukkan karakter-karakter secara detail dalam novel ini.

Ibaratnya, tiap bab menceritakan satu karakter dengan nyaris semua detailnya. Ya meski memang jadi agak terlalu banyak informasi sih. Tapi pelan-pelan, aku bisa memahami kalau detail karakter ini memang perlu dibuat. Setiap rahasia yang dimiliki tiap tokohnya membuat novel ini makin menarik dan membuat penasaran.

Ide Cerita tentang Konspirasi

Memang sejak awal menambahkan novel ini dalam koleksiku, aku berharap adanya cerita penuh konspirasi. Meski sebenarnya, sejak awal cerita, aku sudah menebak sih, pasti ada konspirasi terstruktur. Dan well ... begitulah.

Meski sudah menebak dari awal, aku tetap menikmati alur cerita dalam novel ini. Sudut pandang orang ketiga yang digunakan berhasil membuat konspirasinya jadi makin nyesek. Plotnya sendiri dibuat seperti labirin. Ada alur maju dan mundur dengan penanda tanggal pada tiap bab-nya. Memang jadi makin sulit tertebak.


Sebagai sebuah novel yang menyoroti masalah sosial, Dua Dini Hari terasa begitu dekat. Memang sih, aku tidak tinggal di kota besar dengan masalah pelik seperti dalam novel ini. Tapi rasa sesaknya tinggal di perkotaan memang terasa sejak awal. Kecurigaan dan perhatian menjadi dua hal yang tipis batasannya.

Lewat percakapan antar tokohnya, penulis membawa masalah sosial anak jalanan ke permukaan. Bukan untuk menghakimi dan menentukan satu sikap adalah solusi terbaik dan yang lain adalah salah. Tapi untuk mengajak pembaca merenung kembali.

Jujur, aku merasa tertohok dengan hal ini. Di satu sisi, menjadikan anak jalanan sebagai korban tentu saja bukan hal yang bisa dibenarkan. Mereka juga manusia yang berhak atas kehidupannya.

Di lain sisi, solusi yang ditawarkan oleh si psikopat juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Ada alasan untuk melakukan hal ini, lantaran solusi yang selama ini ada belum benar-benar menyelesaikan semuanya secara tuntas.

Jujur, sulit kalau harus memilah mana yang benar dan mana yang salah. Meski dalam hati yang paling dalam, tentu aku memilih untuk menghormati hak setiap orang untuk hidup.


Ending Tertebak tapi Tetap Menyakitkan

Jadi, kamu sudah menebak endingnya? Yup, sebenarnya sejak awal menebak alur ceritanya, aku juga sudah menebak endingnya. Sebuah ending terbuka, seperti halnya buku bertema serupa.

Dalam setiap cerita thriller, pasti ada kematian. Itu jelas yang digunakan dalam ending novel ini. Meski di bab akhir, aku justru berharap kalau si penulis membuat plot twist cerita lewat sudut pandang Kanti. Ya, tapi sepertinya penulis memilih menggunakan pakem biasa.

Kalau boleh aku bilang, ending cerita ini tidak menyelesaikan semua masalah. Ada hal-hal yang akhirnya lebih baik terkubur tanpa orang tahu daripada membuat situasi makin runyam saat diketahui khalayak banyak. Dan ya ... masalah anak jalanan akhirnya jadi masalah yang tidak ada habis dan ujungnya.

Hanya ada satu hukuman untuk para pendosa. Selamanya mereka berbuat dosa.

Kutipan ini jadi kutipan paling uwow sepanjang novel. Dan ya, rasanya hal itu begitu dekat ada di sekitar kita.


Penutup

Aku cukup kagum sebenarnya, karena novel ini ternyata debut pertama penulis Chandra Bientang. Dan tidak tanggung-tanggung, Dua Dini Hari mendapatkan penghargaan dalam Scarlet Pen Award (2020) atau Kusala Pena Merah. Penghargaan ini digagas oleh @detective_id dan Crime Fiction Author Indonesia.
review novel dua dini hari chandra bientang

Penghargaan ini ditujukan bagi para panulis kisah misteri, thriller, detektif, dan kriminal. Dua Dini Hari sendiri mendapatkan tiga penghargaan sekaligus, Best Novel (Major Segment), Best Crime Drama&Thriller (Major Segment) dan Author of the Year.

Meski lega karena bisa menyelesaikan membaca novel ini, rasanya aku masih belum puas dengan ceritanya. Cerita yang realistis dan dekat dengan masyarakat seperti ini membuatku merasa gemas sekaligus kesal. Ya tapi, kalau sudah berurusan dengan realitas di masyarakat, mau apa lagi?

Buat kamu yang suka cerita thriller dan cerita yang realistis, maka Dua Dini Hari ini cocok dan aku rekomendasikan. Selamat membaca.

Review Novel Dua Dini Hari (Chandra Bientang) Review Novel Dua Dini Hari (Chandra Bientang) Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

13 komentar:

  1. Sumpah..baca review novel ini jadi kebayang pembunuhan ibu dan anak di Subang Jawa barat yang sampai sekarang belum keungkap siapa pelakunya..
    Review lengkap bikin ikut merinding nih .

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ternyata kasus di dunia nyata ada juga ya, dan kayaknya lebih terasa seramnya deh

      Hapus
  2. Wuih aku suka nih genre thriller kek gini mbak. Jarang nemu penulis indonesia yg bisa bikin genre ni dengan oke makanya penasaran ih pengen baca novel satu ni

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang udah mulai banyak, mbak. keren-keren pun. ayok ikutan meramaikan bacanya

      Hapus
  3. di sini digambarkan kalau anak jalanan sebagai korban pembunuhan cenderung tidak dipedulikan, ya. mungkin tidak banyak orang yang tahu mereka siapa jadi orang-orang tidak peduli. tapi motif pembunuhannya itu apa ya hmmm 🤔

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau motifnya, mending baca sendiri ya, mbak
      takut aku bikin spoiler ,hehehe

      Hapus
  4. Aku suka nih tema thriller misteri gini, bikin kita menebak-nebak gitu. Apalagi soal pembunuhan, sejauh ini aku masih eksplor Agatha Christie sih, aku belom hafal penulis lokal di genre ini. Bisa masuk list~

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, penulis lokal mulai banyak yg muncul dengan genre thriller nih, dan enggak kalah keren loh
      malah lebih berasa, karena deket dengan kehidupan kita

      Hapus
  5. Duh... belum baca kok sudah takut. tapi kepengen tahu...
    hehe... dasar nih, kepo kepo takut

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh ngintip dulu bukunya sedikit, nanti kalau udah berani, tinggal dilanjutin
      enggak ada hantunya kok, hehe

      Hapus
  6. Dari sinopsis saja sudah menarik ya jadi penasaran cara penulisannya apalagi dapat penghargaan keren, aku jarang baca novel thriller lokal, novel ini bisa jadi pilihan..

    BalasHapus
  7. Novel Chandra Bientang yang ke-2 sudah ada juga lho, mba. Judulnya "Sang Peramal"

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih, tapi belum sempat beli, hehehe. masih masuk antrian

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.