Review Novel Urban Thriller: Ve

Review Novel Urban Thriller: Ve ini akhirnya jadi juga, gaes. Sebenarnya sudah ngidam buku ini sejak lama. Dan akhirnya kebeli juga saat ada promo dari Mizan, hehe. Oke lah, biar enggak penasaran, langsung cek Review Novel Urban Thriller: Ve dari penulis Vinca Callista berikut:

review Novel Urban Thriller: Ve

Urban Thriller: Ve

Penulis: Vinca Callista
Penerbit: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)
ISBN: 978-602-385-707-4
Jumlah halaman: 202 halaman
Cetakan pertama: Desember 2018

Bapak bilang, perempuan itu kodratnya di bawah lelaki.
Peraturan Bapak: Orangtua berhak membunuhmu.
Perempuan tidak usah banyak membaca karena ilmu selain dari Bapak itu sia-sia.
Jika tidak patuh, pukuli sampai sekarat atau kubur sekalian


Sekilas Novel Urban Thriller: Ve

Pertama baca blurb-nya ini sudah serem duluan. Tulisan di halaman sampulnya sih urban thriller, tapi kok seperti rasa horor ya. Sejujurnya, agak horor juga mau mulai baca novel ini. Tapi rasa penasaran mengalahkan semuanya.

Kisah diawali dari tokoh utama Ve (lulus SMA, sekitar 18 tahun) yang baru pulang dari sebuah pesta di perpustakaan kawannya. Ve menemukan ayahnya sedang duduk dengan tatapan kosong dengan baju-baju berantakan di kamarnya. Ayah Ve, Doni mengatakan kalau ibunya, Wineu kabur bersama pacarnya ke luar negeri.

Terguncang oleh fakta yang baru ditemuinya, Ve akhirnya ikut ayahnya untuk pulang dan tinggal di rumah nenek dari ayahnya, Nenek Unung. Tapi, Ve tidak pernah menyangka kalau itu adalah awal malapetaka yang sama sekali tidak pernah dia duga sebelumnya.

Baca juga Review Novel Java Joe (J.H Setiawan)

Tema Sensitif tapi Asyik

Waktu buku ini baru datang, aku sempat menunjukkannya pada salah seorang kawan lelaki. Saat membaca blurb-nya, dia mengatakan: “Saya boleh baca buku ini?” sambil menunjuk sederet tulisan di sampul novel Ve ini.

Saat itu aku Cuma ketawa sih, “Emangnya ada peraturan yang melarang cowok baca novel?” Dan setelahnya, aku baru sadar. Memang blurb novel ini cukup memancing pertanyaan dan cenderung sensitif. Meski bagiku, lebih kental nuansa horornya sih dibandingkan tema sensitif satu itu.

Saat membaca bab-bab awal, aku memang sempat dibuat gedeg dan kesel. Terutama setelah karakter Nenek Unung ini muncul. Apalagi bagi seorang Ve, remaja yang baru lulus SMA. Secara usia, Ve jelas masih sangat muda. Tidak heran jika karakter Ve di novel ini cenderung meletup-letup.

Apalagi Ve harus berurusan dengan neneknya dan juga situasi tidak terduga saat berada di rumah sang nenek. Menurutku, tidak hanya Ve saja yang masih muda, mungkin bagi orang yang lebih dewasa pun, bisa bertindak lebih nekat dibanding Ve.

Tema yang diusung novel ini menyerempet tentang sistem patriarki. Agak sensitif, memang. Meski menurutku, itu biasa saja. Penulis nyatanya berhasil membalut tema ini dalam kisah penuh ketegangan dan intrik hingga akhir. Dan jujur, aku pun merasa terbawa suasana. Antara takut, ngeri, hingga geram sendiri.

Baca juga Review Novel Pasukan Matahari (Gola Gong)

Tokoh dengan Karakter Kuat

Kemarin habis baca di mana ya? Agak lupa juga. Salah satu rumus cerita suspense atau thriller adalah memunculkan tokoh antagonisnya sejak awal cerita, tanpa membuatnya tampak antagonis. Hmmm ... kira-kira begitulah.

Karakter yang muncul dalam novel ini bisa dibilang lengkap dan kuat. Ada karakter Ve atau Vermillion yang cerdas. Ada nenek Unung yang tampak ramah tetapi menyimpan rahasia. Ada ayah Ve, Doni yang juga menyimpan rahasia masa lalu. Lalu ibu Ve, Wineu yang juga tidak kalah cerdas seperti putrinya.

Selain itu ada juga Akar, sahabat Ve yang bisa dibilang sangat beruntung. Ibaratnya, keberadaan Akar ini adalah pelengkap Ve. Lalu ada Pepep yang digambarkan sebagai pemuda kampung yang agak bodoh tapi ambisius. Karakter baik juga ditemukan lewat Oma, ibu dari Wineu atau nenek Ve yang berpikiran terbuka.

Semua karakter muncul sesuai porsinya. Ibaratnya, karakter itulah yang sebenarnya membentuk cerita. Entah, yang jelas aku bisa merasakan marah dan kesalnya Ve pada karakter yang berlawanan dengan dirinya.

Baca juga Review Novel Deal With Mr. Celebrity

Sudut Pandang yang Menarik

Dalam pelajaran bahasa saat di sekolah dulu, sudut pandang cerita ada tiga. Yakni sudut pandang orang pertama, orang ketiga dan orang kedua. Nah dari ketiga sudut pandang ini, yang paling sering digunakan adalah sudut pandang orang pertama dan ketiga.

Sementara itu, (menurut penilaian pribadi nih, kalau salah silakan perbaiki ya), novel Ve ini mengambil sudut pandang orang kedua, serba tahu. Aku sendiri sulit untuk bisa menulis dengan sudut pandang ini. Butuh konsistensi dan fokus yang tinggi, agar tidak terbawa dan akhirnya menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Nah, di novel Ve ini, penulis berhasil menuliskannya dengan rapi. Seingatku sih ya, rapi dan tidak terkecoh. Meski memang (lagi-lagi karena tidak terbiasa), butuh usaha ekstra juga untuk membacanya.

Baca juga Review I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 
 

Ketegangan di Nyaris Sepanjang Cerita

Mengusung tema urban thriller, bisa dipastikan lah ya, kalau akan ada banyak sekali unsur ketegangan sepanjang cerita novel ini. Dan ya, aku menemukan ini di nyaris seluruh ceritanya.

Sejak awal Ve tinggal di tempat neneknya, aku sudah bisa merasakan aura ketegangan hanya dari deskripsi wajah maupun gestur Nenek Unung. Sebenarnya, Ve cukup kuat juga bisa bertahan beberapa hari tinggal di rumah neneknya itu.

Sebenarnya, dari awal aku sudah menebak-nebak sih, siapa pelaku utamanya. Namanya juga thriller, pasti ada karakter antagonisnya. Cuma agak tidak menyangka saja, kalau alur ceritanya akan menjadi lebih seram dan menegangkan.

Kalau bahas endingnya, sebenarnya aku kurang puas. Kenapa harus ada karakter ‘baik’ yang meninggal? Tapi ya, namanya cerita thriller, sepertinya tidak akan seru kalau lurus-lurus saja. Sebuah plot twist yang cukup berani dengan mengakhiri cerita lewat kematian tidak terduga.

Quote Favorit

Dari novel Ve ini, aku menemukan beberapa ucapan atau quote menarik. Terutama dari karakter Ve dan juga ibunya.
 ... jadi manusia yang berpikiran terbuka dan mampu mencerna dengan akal sehat! Manusia yang mampu berdiskusi secara baik-baik! (hal. 78)
Quote ini dikatakan oleh Ve saat dia bertengkar dengan ayahnya. Lewat didikan sang ibu--Wineu--, Ve tumbuh menjadi remaja yang mengedepankan pemikiran terbuka dan logis. Ini membuat Ve menjadi karakter yang sangat menarik bagiku.  
Jarak pikir yang terlalu jauh dapat menyulitkan generasi dengan kehidupan yang sudah lebih canggih karena generasi yang tertinggal tidak mampu menyamai pekembangan cara pikir dan pola hidup yang mutakhir. Pikiran mentah. Pikiran belum matang. Tapi tidak mau membuka diri pada ilmu-ilmu yang telah diperbaruidan memperbarui zaman. (hal. 104)
Kalimat ini dikatakan Ve saat bertengkar dengan nenek Unung. Dengan usia yang masih sangat muda, Ve digambarkan sebagai remaja yang punya visi masa depan jelas dan jauh lebih dewasa.

Kesimpulan

Aku menyelesaikan novel ini hanya dalam beberapa jam saja. Tidak butuh seharian. Dan ya, aku bisa menikmatinya. Aku tidak merasa bosan atau kehilangan ketertarikan karena disodori ketegangan terus menerus tiap membuka halaman demi halamannya. 

review novel urban thriller ve
 
Di akhir cerita, nyaris semua rahasia akhirnya terbuka. Dan penulis berhasil menjawab semua pertanyaan yang ada sejak awal cerita. Meski tidak terlalu suka endingnya, aku bisa menerima endingnya yang seperti ini.

Oke, itu review Urban Thriller: Ve dari penulis Vinca Callista. Habis ini aku akan melanjutkan bacaan urban thriller berikutnya. Soalnya aku beli tiga buku urban thriller, mumpung diskon. Hehe. Selamat membaca.

Review Novel Urban Thriller: Ve Review Novel Urban Thriller: Ve Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

12 komentar:

  1. Nah....
    Baru tahu dr review ini :D
    lumayan ada yg bikin review JD update ttg buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiraaaaa gimna kabar?
      Lama gak muncul, kangen ih 🤭

      Hapus
  2. Menarik bgt review novelnya, dan aku baru tau kalau di novel itu ada 3 sudut pandang. Jdi penasaran sm novel ini tpi ga horror bgt kan ya 🙈🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. enggak horor banget sih, cuma bikin deg-degan, hehehehe

      Hapus
  3. wah ... mbak berhasil bikin Bunda penasaran. kayaknya cari juga nih bukunya... mau membuktikan secara langsung

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, hayuk atuh ikutan baca juga. seru ini, tapi enggak dibaca malam hari, soalnya agak horor, hahaha

      Hapus
  4. Blurbnya saja sudah bikin deg-degan sama bapaknya huhu jadi penasaran deh novelnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih tepatnya bikin kesel sama si bapaknya ini, mbak
      pokoknya pengen hihhhhh gitu

      Hapus
  5. Ini horornya dengan sudut pandang berbeda. Menarik banget, jadi inget novelku yang judulnya "kim jiyeong". Persis premisnya tentang patriarki. Jadi penasaran loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iya, ya. kim jiyong juga bahas ini
      saya malah belum sempat baca, ah semoga bisa meluangkan waktu baca kim jiyeong juga deh

      Hapus
  6. cukup berbobot ya ini topiknya. kalo biasanya novel isinya cinta-cintaan, ini bahas isu patriarki. bisa dijadiin bahan analisis nih novelnyaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, betul. isunya cukup sensitif
      tapi dikemas rada horor gitu

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.