Review – Mitomania: Sudut Pandang (Ari Keling)

Bullying atau perundungan belakangan jadi hal yang populer dibicarakan banyak orang. Bisa terjadi di sekitar kita, baik disadari maupun tidak. Bahkan hal kecil saja bisa berubah jadi perundungan, tanpa disadari. Hmmm ... bagaimana sudut pandang membahas hal ini?

Sampul mitomania

Mitomania: Sudut Pandang

Penulis: Ari Keling
Penerbit: Penerbit Indiva Media Kreasi
ISBN: 978-623-253-028-7
Jumlah halaman: 256 halaman
Cetakan pertama: 2021
Harga: Rp65.000

Kefiandra (Kefi) merasa kalau selama ini ia mendapatkan perundungan dari teman-temannya. Oleh karena itu, dia melaporkan hal ini pada Guru BK (Pak Joni) dan Kepala Sekolah (Pak Beni). Nama Lisa, Amanda, dan Morgan pun meluncur dari mulut Kefi sebagai pelaku perundungan yang dialaminya. Kefi hanya mau menceritakan detail perundungan yang dialaminya jika Lisa, Amanda, dan Morgan juga dihadirkan di sana. Bagaimana cerita berikutnya? Dan sudut pandang siapa yang mengungkap kebenarannya?

Judul di sampulnya, Mitomania, saja sudah menarik perhatian. Bahkan kalau boleh jujur, ini pertama kalinya saya tahu kata itu. Dan saat mencoba mencari artinya di kamus, cukup terkejut dengan penjelasan di sana. Hmmm ... sepertinya buku ini akan menarik. 
 
Baca juga Review Novel Ayah, Aku Rindu

Cerita dimulai dari kisah Kefi yang mengaku dirundung oleh teman-temannya. Menyusul kemudian cerita dari sudut pandang tertuduh, Morgan, Lisa, dan Amanda. Agak berbeda dengan buku biasanya yang hanya menggunakan satu sudut pandang saja, maka dalam novel ini, sejak awal pembaca sudah diajak untuk melihat dari kaca mata berbeda tiap tokoh.

Menggunakan alur yang tidak selalu maju, alias campur, novel ini menceritakan kisah versi Kefi, Morgan, Lisa, maupun Amanda. Pembaca akan diajak menyelami karakter mereka satu per satu. Ibarat puzzle, pembaca akan diajak memilah puzzle demi puzzle dari tiap karakter utama tadi. Dari cerita yang diungkapkan tiap tokoh, kita belajar kalau tidak ada manusia yang benar-benar bersih putih tanpa cela. 

 
Nah puzzle yang terbentuk dari cerita masing-masing karakter utama novel ini mengajak pembaca untuk menyelesaikannya dalam sekali duduk. Bahkan kalau boleh jujur, ada godaan untuk mengintip ending ceritanya, hehehe. Rasanya memang sayang sekali kalau harus melewatkan lembar demi lembar novel ini. Karena apa yang dibahas di bagian depan, adalah bagian dari informasi berharga yang terungkap nantinya.

Tapi kalau memang belum bisa langsung menyelesaikannya sekali duduk, juga enggak masalah kok. Agar tidak aneh, sebaiknya baca hingga sudut pandang satu karakter selesai. Nah, baru lanjutkan untuk membaca karakter lainnya di waktu lain.

Dengan cerita dari berbagai sudut pandang karakter yang sama-sama kuat dan detail, memang agak sulit memihak mana yang paling benar. Bagi tokoh guru BK, Pak Joni dan Kepala Sekolah, Pak Beni, ini jadi tantangan mereka untuk tetap netral. Pak Joni dan pak Beni dituntut mencari informasi selengkap mungkin untuk mengungkap perundungan yang terjadi. Di satu sisi, mereka ingin mengungkap kebenaran seluruhnya tanpa ada yang ditutupi sama sekali. Sementara di sisi lain, ada hal-hal yang tidak bisa mereka lewatkan juga, terkait orang tua para siswa dan’nama’ sekolah yang tetap harus mereka jaga. 
 
Meski fokus utama novel ini tentang perundungan dan sudut pandang, bukan berarti meniadakan kisah cinta khas remaja. Seperti umumnya novel remaja, kisah cinta juga dimunculkan dalam novel ini. Yang menarik, kisah cinta dalam novel ini bukan sekadar tempelan belaka. Melainkan menjadi salah satu latar belakang cerita kasus perundungan yang dialami Kefi.

Memiliki profesi yang sama dengan Pak Joni, membua saya berkaca pada diri sendiri. Perundungan adalah hal yang bisa saja terjadi, baik disadari atau tidak. Belum tentu yang melakukan perundungan menyadari kalau ia merundung orang lain. Pun belum tentu juga korban menyadari kalau ia juga dirundung. Terlepas dari semua itu, perundungan bukan hal sederhana yang bisa diabaikan begitu saja. Ada begitu banyak PeeR yang harus dilakukan terkait hal ini. Ah, rasanya menyelami masalah yang terjadi pada remaja masa kini, seperti tidak ada batasnya, hehehehe.

Sampul belakang mitomania

Baru kali ini saya menemukan buku yang bicara soal perundungan, tetapi tidak hanya diceritakan dari sudut pandang si remaja saja. Melainkan juga dari sudut pandang guru. Guru di sini juga tidak hanya berperan sebagai penengah atau ‘superhero’ penyelamat saja. Tetapi orang-orang biasa yang juga mengalami kesulitan pada awalnya untuk mencari solusi, hingga berusaha mencarikan solusi terbaik yang mereka bisa. Bukan, bukan solusi terbaik sebenarnya. Tapi solusi yang memiliki paling sedikit keburukannya. Karena memang tidak bisa membuat semua orang merasa puas. Bahkan untuk solusi yang ditawarkan ini saja, tetap ada kerugiannya. 
 
Terakhir, buku ini tidak hanya layak dibaca oleh para remaja. Tetapi juga orang tua dan guru. Sebagai orang dewasa, kita tidak bisa lagi menganggap perundungan sebagai hal biasa. Perundungan bukan hanya bisa terjadi antar teman di sekolah saja. Tetapi bisa juga terjadi dalam lingkungan terkecil, seperti keluaga. Yang mana itu, bukan hal benar untuk membiarkan perundungan terjadi. 
Mungkin bagi seseorang, cerita perundungan ini hanya bagian kecil masa sekolahnya. Tapi bagi yang lain, mungkin saja ini berhubungan dengan hidup dan mati.

Review – Mitomania: Sudut Pandang (Ari Keling) Review – Mitomania: Sudut Pandang (Ari Keling) Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

14 komentar:

  1. jadi mitomania itu bukan hanya judul y mba ? baru tahu ada istilah mitomania , spertinya menarik ya mba isinya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, mbak. saya juga baru tahu dan memang menarik setelah disimak lebih dalam

      Hapus
  2. seru nih kayanya mba, aku jadi penasaran juga ini sama isinya.

    BalasHapus
  3. Wah suka nih kalo ada buku yg alurnya campur2 gini. Apalagi ceritanya ga hanya dari sudut pandang tokoh utama. Penasaran euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, mbak. menarik banget karena multi sudut pandang. kalau enggak teliti, agak bingung. tapi seru

      Hapus
  4. Premisnya menarik banget. Aku jadi inget drakor2 pembunuhan, bedanya ini ceritanya ke perundungan ya. Unik banget ambil banyak sudut pandang, bikin pengen nebak-nebak

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau di drakor, tema seperti ini kayaknya sering ada memang. terutama school drama. dan sama serunya dengan bukunya

      Hapus
  5. Asyik, nanti buku ceritaku mau juga direview kayak gini, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh, boleh. dengan senang hati, hihihihi

      Hapus
  6. Tema perundungan masih jadi topik yang banyak menarik minat untuk diangkat di buku dan film karena memang relate banget dengan kehidupan saat ini..sudut pandangnya menarik nih dari berbagai tokoh

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali. tema perundungan selalu punya cerita menarik untuk disimak dan stoknya tidak ada habisnya

      Hapus
  7. Baru tau jg istilah mitomania, sampe lgsg gugling. Jdi ini novel tpi menyerupai kondisi real ya, jdi bs skalian belajar memahami dr berbagai kondisi ttg perundungan. Keren si dr ringkasannya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, kasus perundungan kan memang berdasarkan kisah nyata. keren juga bukunya, yuk dibaca

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.