Review Novel Ayah, Aku Rindu (S. Gegge Mappangewa)

Akhirnya bisa nulis review lagi. Dan buku kali ini adalah buku kedua penulis S. Gegge Mappangewa yang gue baca. Awalnya ragu mau baca buku ini, soalnya sudah kapok dibikin mewek saat baca buku sebelumnya yang berjudul Sayat-sayat Sunyi. Tapi akhirnya ya dibaca juga. Kira-kira seseru apa ya? Yuk ah cek review novel Ayah, Aku Rindu berikut.

Sampul Ayah, Aku Rindu

Ayah, Aku Rindu

Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Penerbit Indiva Media Kreasi
ISBN: 978-602-495-290-7
Jumlah halaman: 192 halaman
Cetakan pertama: 2020

Samar-samar kudengar suara ayah. Ya, suara ayah. Suara yang telah lama kurindukan itu terdengar dari ruang tamu. Ada sebuah rasa yang menyusup ke dalam dadaku. Rasa bahagia yang melonjak-lonjak.

Doa itu ...?

Doa yang selama ini kupanjatkan dengan menyebut nama ayah di dalamya, ternyata begitu cepat dikabulkan. Padahal saya pernah pesimistis, toh ayah sendiri yang pernah bilang bahwa tidak semua doa langsung dikabutlkan. Butuh penantian. Butuh kesabaran.

Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan.

 

Tema Remaja Unik Khas GenZ

Dengan tagline GenZ di bagian atas halaman sampulnya, jelas sekali novel Ayah, Aku Rindu ini memang ditulis untuk usia remaja. Mengusung tema yang unik menjadikan novel ini berbeda dari novel remaja lainnya.

Masih menjadikan tema ‘cinta’ sebagai wajah utamanya, Ayah, Aku Rindu menyajikan cinta secara universal. Tanpa meninggalkan kesan remaja-nya, novel ini justru lebih menonjolkan cinta dalam keluarga, antara anak dan ayah. Pelan tapi pasti, interaksi antara Ayah dan anak dalam novel ini disajikan secara manis. Ikatan yang jarang ditunjukkan secara nyata, ternyata bisa diceritakan tanpa harus terkesan menggurui. 
 

Tokoh Remaja, tetapi Pemikirannya Jauh Melebihi Usianya

Mengangkat tema ‘cinta dalam keluarga’ novel ini memasangkan si anak, sebagai tokoh sentral utamanya. Dalam suatu situasi yang tidak biasa, si tokoh utama dipaksa untuk berpikir melebihi usianya. Meski memang, tidak menghilangkan sifat dan ciri khas remaja yang tetap ditonjolkan dalam berbagai situasi.

Dalam novel ini, penulis mengajak pembaca melihat dari sudut pandang si anak. Baik cara berpikirnya yang khas remaja hingga caranya bersikap serta berinteraksi dengan orang-orang ataupun lingkungan di sekitarnya. Rasanya seperti kembali ke masa remaja. Iya enggak sih?
 

Sebuah Tempat yang Menarik dengan Kisah Menarik

Tokoh utama novel ini, diceritakan tinggal di sebuah kampung yang sebenarnya tidak terlalu menarik, karena bukan tujuan wisata. Tapi sebuah kampung dengan ciri khasnya yang unik. Keunikan ini yang menjadikannya tempat yang berbeda dan mudah diingat oleh banyak orang.

Jika sebuah tempat selalu identik dengan cerita turun temurun para leluhurnya, tidak berbeda juga dengan tempat yang menjadi latar novel ini. Selain dibangun oleh alurnya, cerita dalam novel ini juga dibangun dari kisah turun temurun latar tempatnya. Sejumlah lokasi diceritakan secara menarik lewat narasi tapi sama sekali tidak terasa sebagai tempelan. Tempat terjadinya cerita ya menjadi bagian dari cerita itu sendiri, menyatu dengan kisah yang melingkupinya.

Baca juga Review Novel Lucida Sidera 

Alur Maju yang Mengalir Pelan tapi Tidak Membosankan

Seperti tadi gue sebutkan tadi, latar kisah dalam novel ini menyatu dengan ceritanya. Alurnya dibangun dari latar tempatnya. Sehingga tidak terasa jika sedang membaca sebuah cerita. Ada hubungan erat antara latar dengan alurnya.

Meski secara umum alur novel Ayah, Aku Rindu ini adalah alur maju, ada beberapa bagian flash back yang menjadi latar belakang ceritanya. Tetapi disampaikan dengan begitu smooth, hingga tidak terasa seperti flash back. Rasanya justru seperti seseorang tengah mendongengkan masa lalunya, tetapi tanpa kehilangan keindahan cerita.
 

Gaya Bahasa

Dengan tokoh utamanya yang remaja, akan sedikit lucu jika selalu menggunakan kalimat baku dalam percakapannya. Ini ditunjukkan dari interaksi sang tokoh utama dengan ibunya. Tapi perlahan, gaya bahasa si tokoh utama disampaikan dengan sedikit lebih cair. Makin ke belakang, gaya bahasa yang digunakan makin mengalir dan enak dinikmati.

Perbedaan terlihat jelas saat berinteraksi dengan teman-temannya, si tokoh utama menggunakan gaya bahasa yang benar-benar remaja. Mungkin ini yang kemudian menjadikan cerita lebih hidup dari sebelumnya. Mengingatkan pembaca kalau karakternya adalah remaja, bukan sosok berusia dewasa yang justru bicara dengan cara lebih kompleks.
 

Pesan tanpa Menggurui

Mengikuti perjalana hidup si tokoh utama novel ini, ternyata tidak hanya menyimak rasa kasihan dan membangun rasa empati saja. Lewat interaksi antara si tokoh utama, Rudi dengan orang tuanya ditunjukkan rasa sayang sebuah keluarga. Meski goncangan besar sempat membuat keluarga ini berada di ujung jurang, tapi rasa cinta yang ada membuat Rudi tetap menemukan arti keluarga. Seperti judul bab dua buku ini, Di Rumahku Banyak Cinta.

Tidak hanya soal keluarga, pesan lain dalam buku ini juga ditunjukkan dari sisi si tokoh utama, Rudi. Rudi menjalani masa remajanya yang tadinya normal menjadi luar biasa akibat kematian. Dari sinilah titik tolok Rudi belajar menjadi dewasa. Bahwa menjadi sosok dewasa ternyata bukan hal mudah. Bahwa menjadi orang dewasa ternyata rumit.

Pesan-pesan yang disampaikan dalam buku ini tidak memberikan kesan menggurui. Kehadiran Pak Sadli setelah kematian yang terjadi dalam keluarganya membantu Rudi menjadi dewasa. Dan ternyata memang tidak ada manusia sempurna. Satu per satu rahasia terkuak. Tidak ada orang yang benar-benar bersih pun benar-benar kotor. Selalu ada sisi yang memang tersembunyi menunggu untuk ditunjukkan.


Penulis yang Jago Bikin Mewek

Seperti kekhawatiran gue di depan tadi, baca novel ini pun gue akhirnya mewek. Meski baru baca dua buku penulis S. Gegge Mappangewa, tapi gue sudah bisa menduga kalau beliau memang jago sekali membuat pembacanya mewek alias terharu.

Penulis piawai menarik simpati dan empati pembaca novelnya lewat karakter-karakter yang ditulisnya. Rasanya sulit untuk tidak ikut sedih dan berempati pada sosok Rudi maupun Pak Sadli. Alasannya? Sama, yakni kematian. Kematian masih jadi alasan yang sama untuk menarik simpati dalam cerita apapun.

Belakang sampul Ayah Aku Rindu


Nah untuk membuktikan kalau penulis memang benar-benar jago membuat cerita sedih, sepertinya gue juga perlu untuk membaca buku-buku beliau yang lain. Jadi, untuk kali ini cukup sekian dulu review novel Ayah, Aku Rindu. Sampai jumpa di review lainnya.
Review Novel Ayah, Aku Rindu (S. Gegge Mappangewa) Review Novel Ayah, Aku Rindu (S. Gegge Mappangewa) Reviewed by Bening Pertiwi on Februari 18, 2021 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.