Review Buku – Lucida Sidera, Tetaplah Bersinar Terang, di Manapun Kamu Berada

“Kalau kamu sayang sama seseorang yang nggak mungkin kamu miliki, kira-kira kamu akan gimana?” 

Ada yang pernah ditanya gini? Apa jawaban kamu? Ada yang akhirnya menyerah dan memilih mundur teratur. Dan ada pula yang memilih memperjuangkannya. Hasilnya? Ada yang akhirnya memetik manisnya tapi tidak jarang juga yang mendapati pahitnya berkali-kali lipat. Semua itu kamu yang perlu memilihnya. 
gambar sampul depan buku lucida sidera

 Lucida Sidera 

Penulis: Wiwien Wintarto 
Penerbit: Republika Penerbit 
ISBN : 978-623-2790-83-4 
Jumlah halaman : viii+352 halaman 
Cetakan pertama : September 2020 

Abe berasal dari keluarga kalangan atas, yang tentu sangat kaya raya. Begitu gelar S2 dia tamatkan di Amerika, Abe langsung menduduki jabatan direktur di perusahaan properti keluarganya. Hidupnya bergelimang harta dan kemudahan tampak begitu indah. Dan ya, ia pun merasa begitu. 

Hingga ia ditugaskan sang ayah untuk melakukan negosiasi dengan pemilik tanah di Jogja, ang memang sudah diincar lama oleh perusahaan ayahnya untuk membangun resort terbaru mereka. Di tengah penyamaran dalam melakukan misi ini, Abe bertemu Riris, gadis yang memaksa dirinya berhadapan pada hal-hal yang ia tinggalkan di masa lalu. 

Bertemu Riris membuat Abe yakin dirinya akan merengkuh bahagia, tapi gadis itu tidak. 

Berbeda dengan cerita yang populer di kalangan remaja umumnya saat ini, sosok Abe pada novel ini tidak digambarkan sebagai sang pangeran narsis maupun arogan, meski berasal dari keluarga kaya dan memiliki latar belakang keluarga yang tidak terlalu baik. Sebuah sudut pandang yang sangat berbeda dan menyenangkan untuk disimak. 

Perjalanan Abe menjadi manusia yang memanusiakan manusia diawali dari pertemuannya dengan sosok Riris. Riris tidak digambarkan sebagai sosok malaikat yang baik dan tahu semua hal serta bisa menyelesaikan semua masalah. Bahkan sama sekali tidak ada karakter menggurui dalam diri Riris. Alih-alih, sosok Riris justru memberikan ruang yang lapang bagi Abe untuk berpikir dan mengubah cara pandangnya soal kehidupan. Bukan Cuma Abe dan Riris saja sebenarnya, karakter yang menarik dari novel ini. Ada Ana—adik Abe—yang diceritakan sebagai gadis nekat, ada mas Awan—sang pelukis—yang hummble sekaligus kaya dan juga Seno—sahabat Abe—yang memang benar sahabat. 

Pada halaman-halaman awal, cerita dimulai dari kisah membosankan Abe dengan lingkungannya. Tapi cerita mengalir menjadi lebih menarik saat Abe bertemu dengan Riris. Interaksi keduanya membangun sebuah hubungan yang hangat. Bukan hanya sebagai partner, sahabat bahkan orang yang istimewa. Kerennya, kisah cinta dan romantisme Abe-Riris tidak ditunjukkan dengan adegan-adegan mainstream ala novel dan drama romantis. Alih-alih, rasa tertarik keduanya ditunjukkan dengan obrolan-obrolan serta sikap yang lebih dewasa. Well ... enggak perlu kata-kata romantis sok manis lah untuk mengatakan cinta. Tapi dari obrolan dan interaksi Abe-Riris, pembaca sudah bisa dibuat baper. 

gambar sampul belakang buku lucida sidera

‘Kedua orang bisa saling jatuh cinta karena kesamaan visi dan misi mereka.’ 

Kira-kira kutipan itulah yang cocok untuk menggambarkan kisah Abe dan Riris. Bukan karena fisik semata, tapi kesamaan visi-misi dan interaksi mereka lah yang akhirnya memupuk rasa cinta. Meski memang, rasa cinta saja belum cukup buat Abe dan Riris. Bahkan Riris sejak awal sudah melarang adanya rasa ‘memiliki’ yang menurutnya bisa kedaluarsa. 

Konflik dalam novel ini dibangun dari interaksi Riris-Abe, Abe-mas Awan, Abe-keluarganya. Masing-masing konflik itu dijabarkan secara jelas. Secara ide cerita, sebenarnya idenya pun sederhana. Tapi pengemasan yang menarik serta tidak memaksa membuat novel ini punya daya tarik tersendiri. Sekali lagi, meski membahas soal cinta, novel ini bukanlah novel yang menjual cerita romantisme remaja ala drama romantis. Justru novel ini mengajarkan tentang cinta-cinta lainnya, yang sebenarnya perlu untuk disadari, dipahami dan diterima. Cinta pada sahabat, pada orang tua, bahkan pada lingkungan sekitar menjadi sudut pandang menarik dari novel ini. Dan bahkan novel ini mengajarkan arti mencintai diri sendiri, hingga akhirnya berani untuk mengubah pola pikir dan mengambil sikap, meski berbeda dengan mulanya. Satu hal yang menarik, meski tidak akur dengan orangtuanya, sosok Abe tidak digambarkan sebagai sosok pemberontak urakan. Abe adalah pemberontak cerdas dan berjuang keluar dari jeruji obsesi ayahnya dengan cara yang cerdas juga, tanpa menanggalkan rasa hormatnya pada sang ayah. Well ... love it. 

Dan pada akhirnya, Abe maupun Riris menemukan cara masing-masing untuk keluar dari masalah mereka. Bukan menjadi akhir dari suatu hal, tapi menjadi awal dari hal lain yang lebih luas dan lebih jauh lagi 

Pada halaman 162, Riris mengatakan soal usia. 
Age is just a number. Don’t just add days to your life. Add life to your days. 
Menarik karena ini dikatakan oleh Riris yang masih berusia 22 tahun. Tapi lebih menarik lagi karena ternyata ungkapan ini bisa berlaku untuk siapa saja dan pada usia berapapun. Riris mengajarkan kita untuk melihat sekeliling dengan cara pandang berbeda dan lebih luas. 

Oh iya, ada juga ungkapan Seno (ini lupa halama berapa) yang mengatakan, “... coba ubah sudut pandang. Dia jadi orang baik karena waktunya tinggal sedikit.” Hmmm, menarik kan? 

Terakhir, Lucida Sidera ini adalah novel pertama penulis Wiwien Wintarto yang saya baca. Seperti kata Riris, age is just a number, usia memang hanya angka. Tapi pengalaman dan jam terbang yang membuat novel ini berbeda, tetap menarik tetapi tidak kehilangan keindahan serta pesan yang harus disampaikan. 

8/10 deh. Terima kasih dan selamat membaca 

Review Buku – Lucida Sidera, Tetaplah Bersinar Terang, di Manapun Kamu Berada Review Buku – Lucida Sidera, Tetaplah Bersinar Terang, di Manapun Kamu Berada Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

22 komentar:

  1. Aku ingin jadi penulis juga

    BalasHapus
  2. Wow. Umurku hampir dua kali umur Riris

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak, enggak usah diperjelas dong, hahahaha
      yang penting kan energi dan semangatnya masih dan selalu muda

      Hapus
  3. Wah, saya jadi tertarik sama quote nya, "kedua orang bisa saling jatuh cinta karena kesamaan visi dan misi mereka", huhu jadi kok ngena sekali di saya hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak. lucu kan quote-nya. mak jleb banget ini

      Hapus
  4. Penasaran,e pjudul buku memakai bahasa asing, karena cuma biar ngetrend atau ada hubungannya gak, dengan isi cerita? Hehe ... Semoga para remaja suka baca novel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. eits, ini judulnya ada alasannya, mbak. nah penjelasannya ada di bukunya. biar enggak spoiler, lebih baik baca sendiri ya, hehe

      Hapus
  5. menarik keknya ya karakter si abe ini. Riris yang terbilang muda dari usianya ternyata cukup wise untuk mengutip kata2 age is just a number. saya samaan sama riris, cuma kalo riris beneran 20an klo saya tiap tahun 'ngakunya' selalu 20an hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah orang macam riris ini yang jarang ada, tapi ada dan unik.
      enggak apa2 selalu 20an, yang penting semangatnya selalu muda

      Hapus
  6. Aku suka banget quote ini ‘Kedua orang bisa saling jatuh cinta karena kesamaan visi dan misi mereka.’ aku stuju, karena cocok itu maksudnya kecocokan visi dan misi. Karena kalo cocok full cocok ya ga mungkin ada~ seru kayanya ya ini novelnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, mbak. katanya cinta saja memang enggak cukup, bisa kadaluarsa. tapi visi,misi, mimpi selalu bisa diperbaharui

      Hapus
  7. AKu jadi penasaran sama bukunya^^ kayanya bukunya asik kalo lihat nilai yang mbak kasih ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyik banget, mbak. enggak nyangka juga, kalau isi bukunya tuh ringan, asyik tapi banyak nilai yang bisa diambil dari sini

      Hapus
  8. Waduh, saya ni, termasuk yg gak setuju dg kutipan: age is just a number. Gak pa pa, ya, beda pendapat itu biasa. Wong beda pendapatan saja sering kok, ya.. Maaf, kl kebanyakan bercanda. Sukses review novelnya. Saya terkesan dg ulasan di awal yg menyebutkan bhw penggambaran tokoh-tokohnya tidak stereotype. Yang begini biasanya yg bikin asik dibaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, enggak apa-apa, mbak. beda itu jadi warna kok, saling melengkapi.
      nah iya, harus baca sendiri langsung deh. karakternya itu sederhana tapi enggak menye-menye dan unik

      Hapus
  9. Penulis Magelang tinggal di Semarang nih say, produktif banget berkarya..sudah ada yang baru lagi novelnya..keren Mas Wiwien..

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh iya, kah? wah ternyata orang jawa tengah juga. semoga bisa kenalan dan baca karya-karya beliau yang lain lagi

      Hapus
  10. Makasih reviewnya mba, bisa dimasukkan dalam list ni. Dari reviewnya, seperyinha anti mainstream ni novelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip, mbak. sama-sama. nanti kalau sudah sempat baca, boleh kok ngobrolin lagi novelnya di sini, hehe

      Hapus
  11. Ringan ya mba novelnya..
    Mudah2an bisa masuk list daftar buku yg mau dibaca segera.. 😁😁
    Aku seneng novel2 ringan kadang 1 buku bisa semalem dibacanya smp2 ga tidur 😅😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. ceritanya ringan sih, cuma agak tebal, mbak. kalau saya enggak kuat sekali baca, hehehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.