Review Buku – Bapang sang Superhero

Kalau ada yang tanya, gimana sih caranya menyelesaikan membaca suatu buku, jawabannya gampang sih. Cari tempat pewe, buka bukunya lalu baca. Hahaha ... iya, enggak selalu gitu. Tapi salah satu tips bisa membaca buku dengan tenang adalah dengan mematikan ponsel atau minimal menonaktifkan mobile data di ponsel lalu letakkan ponsel di tempat yang cukup jauh atau sulit terjangkau (karena sudah telanjur pewe). Beneran loh ini. Ponsel pun jadi sepi, dan aktivitas membaca bisa dilakukan dengan tenang. Selesai? Jelas selesai. Kadang yang model gini memang perlu dipaksa sih ya. 

gambar sampul depan bapangku bapunkku

Judul: Bapangku Bapunkku 

Penulis: Pago Hardian 
Penerbit: Penerbit Indiva Media Kreasi 
ISBN : 978-602-1614-47-1 
Jumlah halaman : 232 halaman 
Cetakan pertama : April 2015 

Baca novel ini itu rasanya ... seperti naik roller coaster. Serius. Ada sedih, senang, kesel, dongkol, terharu, heran, dan macam-macam perasaan lain. Oke, gini sinopsisnya. 

Ini kisah antik keluarga bersama ayah yang tidak mau dipanggil Ayah, maunya dipanggil Bapang. Itu panggilan untuk ayah dalam bahasa Semende. Tak cukup sampai di situ, diam-diam Bapang menganut aliran PUNK. Itu aliran yang mengagung-agungkan kebebasan. Mulai dari kebebasan berpikir, kebebasan berekspresi, hingga kebebasan berkarya dan mengeluarkan pendapat. Syukurlah, Bapang tidak menata rambutnya gaya buah duren masak di pohon atau gaya sapu ijuk dari Yunani. Sebab, Bapang mengaku kalau dia itu PUNK muslim! Meski demikian, pemikiran dan tindakan Bapang sehari-hari nyentriknya minta ampun! Apa-apa diprotes; sistem pendidikan diprotes, pembangunan masjid diprotes, kepala sekolah diajak ribut, dokter ditantang, maling jemuran dijadikan sahabat, dan petugas KB di Puskesmas diajak berdebat! 

Klimaksnya, pada hari Senin sehabis liburan kenaikan kelas, Bapang melarang anak-anaknya pergi ke sekolah! Seragam sekolah kami dimasukkan ke dalam karung untuk dibakar. Bunda meradang melihat kenyataan itu. Berpikir bebas boleh saja, tapi membakar seragam sekolah anak-anak adalah tindakan yang tidak bisa lagi ditoleransi. Bunda melawan Bapang dengan garang. Dan kebahagiaan keluarga kami berada di ujung tanduk; akta cerai nyaris diteken! 

Bagaimana usaha Bapang untuk menyelamatkan keluarga dengan empat anaknya? Bagaimana cara Bapang mendidik keempat anaknya hingga jadi orang-orang yang sukses? Silakan baca kisah ini dan jangan menyalahkan jika nanti tertular virus PUNK ala Bapang. Kisah ini akan membuat siapa pun berpikir keras, tertawa ngakak, hingga menangis sedih, lalu bangkit dan berdiri tegak untuk berkarya dan bekerja keras! Sebab, dunia sudah lama menanti karya-karya besar kita semua! 

Seperti yang tertulis di sinopsisnya, novel ini memang bikin campur aduk. Karakter Bapang digambarkan dengan begitu detail dan unik. Tapi tiap kenyentrikan ucapan maupun sikapnya ternyata dapat dijelaskan asal muasalnya dan semuanya memang punya alasan yang jelas. Akhirnya, Cuma bisa angguk-angguk saja. 

Karakter Bapang digambarkan dengan kuat dalam novel ini. Meski tidak sedikit, ucapan dan tingkah laku Bapang ini bikin kesal. Dan kekuatan karakter inilah yang menjalankan cerita. Bahkan hanya dengan menceritakan sosok Bapang saja, sudah jadi cerita berlembar-lembar yang cukup panjang. 

Ada beberapa bagian ucapan dan karakter Bapang yang sebenarnya tidak saya setujui. Tapi well ... tiap orang memang punya pemikiran dan pertimbangan masing-masing. Toh hal yang memang menurut Bapang benar dan berlaku untuknya dan keluarganya, belum tentu berlaku juga untuk orang dan keluarga yang lain. 

Dalam sudut pandang Bapang, seperti itulah cara dia mendidik keluarga dan menjadi pemimpin keluarganya. Jelas, ada banyak tips dan trik dari Bapang dalam mendidik anak-anaknya. Tapi sekali lagi, belum tentu yang jadi cara Bapang benar berlaku pada orang lain. Bisa iya, atau tidak. Cukup jadikan inspirasi saja. Kalaupun memang ada cara Bapang yang mau diterapkan dalam kehidupan nyata, paling tidak harus tahu benar bagaimana kondisinya dan siap dengan segala konsekuensinya. Karena menjadi Bapang sendiri, bukan hal mudah, hehehe. 

Saya tidak mengatakan kalau semua hal yang dilakukan Bapang pasti benar, tapi memang selalu ada benarnya. Meski tidak semua sikapnya bisa diterima dan disetujui orang banyak, nyatanya karakter Bapang memang jadi penghidup cerita. 

Ada satu kutipan menarik di halaman 160:
Dunia itu jangan diletakkan di hati, tapi letakkan di tangan.
Penjelasannya? Baca sendiru bukunya aja ya, hehe

Kisah hidup dan pemikiran Bapang adalah sebuah kritik atas banyak hal yang terjadi di sekeliling kita. Tentang keluarga, pendidikan, bahkan masalah keuangan. Bagi keluarganya, Bapang menjelma jadi superhero dengan segala pemikirannya. Sayangnya, hal ini tidak sama dengan pemikiran orang lain di sekitarnya. Tapi pada akhirnya, memang tidak semua orang benar-benar peduli. Karena yang benar-benar peduli tidak pernah pergi. 

Dan satu lagi sebuah nasihat menarik:
Yang menakutkan itu adalah marahnya orang yang sabar, kecewanya orang yang setia, dan manyunnya orang yang biasa tertawa.


Rasanya memang tidak heran jika cerita Bapang yang PUNK ini menjadi pemenang di kompetisi menulis Indiva tahun 2014. Meski tema yang diambil adalah tema biasa, yakni keluarga, tapi cerita yang ditampilkan benar-benar baru dan masih fresh. Sudut pandang yang dibuat pun tidak biasa. Tidak ada protagonis ataupun antagonis dalam novel ini. Karena tiap orang nyatanya punya sisi abu-abu dan berbeda-beda dalam menjalani kehidupan. 

Well, dari saya 8/10 untuk novel ini. Menghibur, bikin ketawa, nangis sekaligus membuat kita dipaksa berpikir ulang soal pendidikan dan keluarga. 



Review Buku – Bapang sang Superhero Review Buku – Bapang sang Superhero Reviewed by Bening Pertiwi on Oktober 28, 2020 Rating: 5

2 komentar:

  1. Baca seperti naik risoles coaster itu gimana sih?

    Nggak mual mual sama haus karena teriak teriak?

    BalasHapus
  2. Ya ampun, netijen rempong😤
    Udah dibetulin tuh
    Weeeee 😝

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.