Review Novel Petualangan Tiga Hari (Dian Dahlia)

Review Novel Petualangan Tiga Hari ini awalnya mau diikutsertakan dalam lomba resensi. Tapi eh tapi, enggak selesai tepat waktu. Berhubung sudah separuh jalan buatnya, jadi ya diselesaikan aja deh. Habis itu seperti biasa, tayang di blog ini. Udah deh ya, curhatnya. Oke, yuk ah cek review Novel Petualangan Tiga Hari karya kak Dian Dahlia berikut. 

sampul novel petualangan tiga hari

Petualangan Tiga Hari

Penulis: Dian Dahlia
Penerbit: Penerbit Indiva Media Kreasi
ISBN: 978-623-253-003-4
Jumlah halaman: 256 halaman
Cetakan pertama: 2020
Harga: Rp60.000

Mukhlis nekat menjadi penumpang gelap sebuah kapal yang disewa Pak Rustam, Pak RT kampungnya, Pallawa Lipu, untuk membawa orang sakit ke kota seberang. Di tengah lautan dia terpergok, tetapi kapal itu tidak bisa serta merta mengembalikannya ke kampung. Ia harus ikut rombongan. Malang, sampai di dermaga tujuan, tak sengaja ia tertinggal rombongan. Peristiwa apa saja yang dialaminya di kota yang sama sekali tak dikenalnya itu? Dapatkah ia kembali berkumpul dengan keluarganya?

Petualangan Tiga Hari adalah novel ketiga dari pemenang Kompetisi Menulis Indiva 2019 yang saya baca. Dua buku lainnya, Ayah, Aku Rindu dan Perempuan Misterius juga sudah saya review. Cek langsung aja ya.

Masih mengusung genre remaja atau GenZ, ketiga novel ini sebenarnya bersaudara. Tapi dibandingkan dua novel lainnya, Petualangan Tiga Hari agak berbeda karena tokoh utamanya paling muda, berusia 12-13 tahun. Novel dengan karakter tanggung di Indonesia memang tidak banyak. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Detektif Imung karangan Arswendo Atmowiloto.

Mukhlis, sang tokoh utama novel Petualangan Tiga Hari ini adalah seorang anak kelas 6 SD yang tingal di sebuah kampung laut bernama Pallawa Lipu di Selat Makasar. Karena sering mendengar cerita dari kakak laki-lakinya, Mukhlis berkeinginan untuk mengunjungi Kota Bontang yang dianggapnya sebagai kota besar yang keren. Sayangnya, janji yang sempat didapat dari sang ayah batal dilakukan karena suatu hal. Akhirnya, Mukhlis jadi satu-satunya anak kampung yang belum pernah melihat kota sama sekali. Didorong rasa kesal dan kecewa, saat ada sebuah kapal yang akan ke kota, yang merapat, Mukhlis pun menyelinap masuk. Sayangnya, dia ketahuan di tengah perjalanan. Karena tidak mungkin membawanya kembali, Mukhlis pun ikut serta. Turun di kapal yang membawanya, Mukhlis terpisah dari rombongan. Dan cerita petualangan Mukhlis di kota yang sama sekali belum pernah didatanginya ini pun dimulai.

Sebagai sosok bocah dari kampung laut yang pertama kali datang ke kota, Mukhlis digambarkan sebagai sosok yang polos. Bahkan saking polosnya, sandal pun jadi alasan ribut karakter Mukhlis dan dua teman ditemuinya dalam petualangan. Bisa dibilang, karakter Mukhlis ini sangat realistias, polos, apa adanya, jujur dan tidak dibuat-buat. Dua sosok lain yang muncul dalam petualangan Mukhlis juga memberikan warna tersendiri.

Dari segi ceria, jujur ini benar-benar menarik dan seru. Awalnya, sulit membayangkan petualangan apa yang terjadi pada anak dari kampung laut yang tiba-tiba saja haru berada di kota yang tidak ia kenal sama sekali. Tapi Mukhlis berhasil membawa petualangannya jadi seru untuk diikuti. Beberapa ketegangan muncul sebagai pemanis cerita. Hal menarik lainnya adalah situasi yang realistis di Indonesia, misalnya berhubungan dengan Satpol PP, kepolisian, ketentaraan, Dinas Sosial, dan lain-lain. Detail seperti ini yang memang hanya bisa ditemukan di Indonesia saja.

Selain detail cerita, novel ini menarik juga karena detail deskripsi tempatnya. Sebagai orang yang belum pernah sama sekali datang ke kota Bontang, novel ini berhasil membuat saya bisa membayangkan tempat-tempat yang ada di sana. Lengkap dengan jalan, penunjuk arah dan sejumlah plang.

Ngomongin gaya bahasa, novel ini ringan dan enak untuk dibaca. Tidak hanya untuk remaja saja, tapi siapa saja akan menemukan bahasa yang mengalir tanpa kehilangan karakteristik khas daerah Pallawa Lipu. Alur ceritanya sendiri maju, meski memang ada beberapa bagian kilas balik. Tetapi sama sekali tidak mengganggu ceria atau membuat bingung. Pilihan kata yang digunakan juga tidak terlalu tinggi. Sesuai dengan karakter bocah dalam novel ini yang memang polos, jadi bahasanya juga ringan dan enak serta mengalir.

Bagian menarik lainnya dalam novel ini adalah isu yang diangkat soal situasi alam, orang-orang pinggiran, human trafficking dan juga mimpi. Meski mengusung tema yang tidak biasa, tapi sudut pandang anak kecil dari novel ini membuat ceritanya tetap ringan dan enak disimak. 
 

sampul belakang novel petualangan tiga  hari
 
Terakhir, ada beberapa catatan untuk novel ini. Pertama, ada beberapa dialog dan paragraf yang tidak sesuai. Harusnya sih paragraf baru, tapi mungkin lupa belum di-enter. Kemudian deskripsi tentang sekolah Mukhlis yang muridnya hanya 30 hari serta gurunya. Saya menemukan ini beberapa kali. Entah memang sengaja diulang-ulang untuk menegaskan cerita, atau bagaimana. Tapi menurut saya, tidak perlu diulang. Cukup sekali atau dua kali saja. Selain itu, tidak ada masalah sih.

Dan, akhirnya saya ingin mengatakan kalau novel ini memang remaja banget. Terima kasih untuk penulis Mbak Dian Dahlia atas novelnya yang sangat lokal, menginspirasi dan seasyik ini. Selamat membaca.


Review Novel Petualangan Tiga Hari (Dian Dahlia) Review Novel Petualangan Tiga Hari (Dian Dahlia) Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.