Cerita Majalah Cetak – Annida

Ada pernah denger majalah satu ini? yes, Annida adalah salah satu majalah kategori sastra-sekaligus islami. Iya, gue sengaja memasukkannya ke dalam dua kategori itu karena memang : 1. Banyak penulis lahir dari eksistensi majalah ini. 2. Majalah ini jadi ikon hijrah yang lumayan terang di masa puncaknya. Sejujurnya, nggak yakin juga sejak kapan majalah ini terbit. Menurut beberapa informasi, majalah ini pertama kali terbit pada tahun 90-an. Ya sekitar 1991-1992 lah.
Majalah remaja annida

Eits, tapi gue nggak akan bahas sejarah majalah ini ya. Karena ini murni cerita gue.

Awal mula perkenalan majalah ini saat gue masih SMP. Salah seorang kawan membawa majalah ini, dari kakaknya yang sudah kuliah. Dan dengan kerakusan membaca gue saat itu, gue pun langsung kesengsem dengan majalah satu ini. Pinjam beberapa majalah membuat gue bener-bener sukaaa banget. Cerpennya banyak dan keren-keren. Sayangnya, majalah ini enggak ada di kota gue. Sampai agen tabungan keliling yang biasa narik ke rumah, nawarin buat langganan majalah ini. Enggak butuh waktu lama buat gue untuk mengiyakan tawaran emak untuk langganan majalah ini. Btw, saat itu majalah ini terbit dua mingguan, alias terbit dua majalah tiap bulan.

Sebenarnya, kerakusan membaca gue tersalurkan di sekolah yang perpustakaannya langganan majalah MOP dan majalah remaja lainnya (HAI, Gadis, dll). Tapi kehadiran Annida membawa sudut pandang berbeda dalam masa remaja gue.

Saat gue beranjak SMA, gue masih langganan majalah ini. Tiap kali pulang dari kos, di rumah selalu sudah siap sedia majalah ini. Tapi itu enggak lama, karena agen tabungan keliling yang juga agen majalah itu nggak lagi bawa Annida favorit gue, hiks. Akhirnya, gue menemukan satu toko jilbab di kota tempat gue sekolah SMA yang masih menyediakan majalah ini. hasyeeeek ... gue pun kembali ngebucin majalah satu ini. Sayangnya, lagi-lagi makin susah menemukan majalah satu ini.

Pun ketika akhirnya, gue lanjut kuliah di kota yang lebih besar lagi, butuh perjuangan lebih panjang untuk mendapatkan majalah satu ini. Gue mesti menyeberang Solo, ujung ke ujung. Yes, setelah beberapa lama, akhirnya gue nemu majalah ini lagi di agen dekat kampus UMS. Itu pun nggak selalu ada. Kadang, gue pun terpaksa harus beli edisi bulan lalu karena yang terbaru lama datang.

Hingga akhirnya, Annida benar-benar hilang versi cetaknya dan beralih ke digital. Itu sekitar 2008-2009an. Awalnya, gue enjoy sih dengan versi digital. Sayangnya, berbeda dengn versi cetak yang selalu menghadirkan tulisan, rubrik, liputan, dan cerpen baru, versi digital jauh dari itu. Pun jarang apdetan baru, hiks.

Dan ya ... versi cetak majalah favorit gue itu pun akhirnya berakhir. Memang nggak bisa dipungkiri sih, perubahan dari versi cetak ke arah digital nggak bisa dihindarkan. Pun meski sebenarnya majalah lain yang satu perusahaan dengan Annida (Ummi) waktu itu masih ada versi cetak, tetap saja semua berubah. Annida yang memang memiliki target pembaca/konsumen remaja, akhirnya tenggelam dan tertinggal. Memang ada beberapa hal yang membuat Annida semakin tertinggal. Selain keberadaan versi digital, juga karena perubahan identitas. Ya, Annida di akhir terbitnya, tidak lagi sama dan se-idealis versi awalnya. Gue nggak mau menyalahkan sih. Urusan pasar dan selera memang berubah. Dan ya ... mungkin itu salah satu awal sebelum akhirnya hilang.

Sudah sangat lama sejak terakhir kali gue nengokin site-nya Annida. Dan ya, barusan saat gue cek, domain Annida-online.com memang sudah tidak ada. Annida tinggal kenangan. Tapi siapapun yang pernah kenal dengan Annida, dan merasakan tumbuh bersama Annida, pasti punya ceritanya tersendiri.

Annida, sosok jilbabar berkacamata bulat besar dengan jilbab-nya yang bak ekor panjang di belakang, hehehe. Annida, I miss U
Cerita Majalah Cetak – Annida Cerita Majalah Cetak – Annida Reviewed by Bening Pertiwi on April 21, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.