Sertifikasi Penulis non-Fiksi

Lama banget rasanya nggak nulis. Kan nggak lucu gitu, masak penulis enggak nulis. Yang pertama, alhamdulillah akhirnya nulis lagi. Yang kedua, happy b-day to me. Terimakasih sudah lahir, tumbuh dan berjuang hingga saat ini. Hmmm ... btw, ini pertama kalinya nggak ada yang ngasih ucapan ultah. Bukan ngarep perayaan seperti zaman sekolah dulu. Cuma ... plis, adalah satu aja yang inget kalau gue ultah. Iya, sekarang bukan anak kecil lagi, ah ... sudahlah. Kebanyakan curhat. 

Sertifikasi penulis

Jadi, setelah melewatkan beberapa kesempatan, akhirnya kesempatan itu sertifikasi penulis pun akhirnya datang. Yang dulunya Cuma bisa mupeng aja dengan alasan tempat jauh, waktu yang sulit serta biaya besar, akhirnya semua bisa terselesaikan dalam satu kesempatan, hehe. Yes, ketiga masalah tadi pun terselesaikan saat acara yang sudah lama diimpikan ini akhirnya diselenggarakan tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya sekitar 2 jam perjalanan naik bis. Jauh? Enggak lah, daripada yang delapan jam dari rumah. 

Ini gimana ceritanya, penulis nonfiksi malah kebanyakan curhat sih. Jadi, informasi sertifikasi penulis ini muncul secara enggak sengaja, saat ada kawan kerja yang membaginya di grup kerjaan. Nah, mupeng kan tuh. Apalagi tempatnya cukup dekat. Ditambah dengan biaya yang sangat lebih terjangkau jika dibanding acara serupa yang biasanya diadakan. Iya lah, orang ini Cuma tes aja, nggak ada pelatihannya. 

Alhasil, dengan modal nekat dan uang saku terbatas, tanpa koneksi dan kenalan siapapun ditambah modal latar belakang terbatas, akhirnya gue pun berangkat. Dari rumah lepas shubuh. Sampai di tempat acara masih cukup pagi. Pake drama nggak bawa berkas pun. Untung tempatnya di kampus, yang otomatis ada rental dan copy area di sekitarnya. Sampai di tempat acara cukup pagi, memang masih pagi sih. Ketemu dengan orang-orang yang sebagian besar dosen dan beberapa saja guru serta umum seperti gue. 
sertifikasi penulis dan editor di STIKES Aisyiyah Cilacap

Setelah acara pembukaan, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dengan asesor masing-masing. Dengan modal nekat—pake banget—dan beberapa tips dari kawan penulis/editor, gue pun mengikuti rangkaian tes kali ini. Karena karya yang gue bawa dan cantumkan hanya dua (kalau nyantumin minimal tiga, enggak tes, cukup wawancara aja), maka gue pun mengikuti tes dengan deg deg ser. Iya lah, dasar udah lama nggak nulis, eh tetiba harus buat matriks naskah. Tapi gue mau berterimakasih pada editor dan penerbit lama yang pernah kerjasama dengan gue. Paling enggak, berkat mereka, gue nggak buta banget urusan perbukuan, hehe 

Selain membuat matriks dan bab pertama, tes juga dilakukan dengan mengerjakan soal dari web sertifikasi penulis. Dari 30 nomer soal, gue salah 6 nomer, gitu kata asesornya. Kebetulan asesor yang mewawancarai gue dari koran di Yogya, jurnalis gitu. Nah, tapi gue banyak bego-nya waktu wawancara. Serius, banyak banget hal yang gue enggak tahu. Ya ... mungkin untuk praktik menulis-nya, gue udah pernah. Cuma istilah perbukuan dan per-editoran yang gue nggak banyak ngerti. Nyari bahan di inet pun terbatas. Meski beberapa—sebagian kecil aja—ada bahan dari temen editor, tetep aja rasanya masih kurang. 

Alhamdulillah naskah lancar. Wawancara penuh kebego-an gue juga selesai. Dan sebelum ashar, gue udah beres. Sengaja sih, gue berusaha agar sebelum ashar bisa kelar, karena gue harus segera balik, paling enggak biar masih kebagian bis pulang. Hasil? Terserah deh. Yang penting udah beres, hehehe. (dan yang penting banget, biaya yang enggak sedikit untuk tes ini nggak sia-sia. amiiin) 

Butuh waktu satu minggu setelahnya sampai hasil asesor keluar. Alhamdulillah, ternyata gue dinyatakan kompeten, hehehe. Nggak sia-sia dong modal nekat, hehehe. Meski awalnya sempat khawatir juga sih, karena yang lain hasilnya cepet keluar. Eh punya gue lama. Tapi akhirnya keluar dengan hasil yang melegakan. Secara resmi di web, hasil udah keluar dengan hasil ‘kompeten’. Cuma untuk hasil resmi berupa sertifikat yang masih harus nunggu. Terimakasih mas asesor yang baik, hehehe. 

Btw, ini kebanyakan curhat aja ya. Serius, gue udah lama nggak nulis. Jadi ini benar-benar berantakan. Masih mending lah ya, bisa diisi curhat, biar nggak sepi2 banget ini blog. 

Waktu gue cerita ke orang lain, mereka tanya, apa bedanya dengan yang belum sertifikasi? Sertifikasi penulis nonfiksi bertujuan agar kegiatan menulis nonfiksi yang gue lakukan nantinya menjadi profesi resmi, alias dianggap profesional. Selain lebih mudah—dan nantinya wajib—dicari penerbit terutama untuk menulis naskah nonfiksi, sertifikasi penulis juga jadi kek payung hukum yang membuat gue punya legalitas menulis nonfiksi, terlindungi secara hukum pun dengan segala konsekuensinya nanti. Well ... mungkin belum terasa sih sekarang. Tapi semoga ke depannya nanti, bakalan ada bedanya yang bener-bener kerasa. 

Buat orang yang berkecimpung dalam dunia perbukuan terutama buku-buku teks dan harus dinilaikan, sertifikasi ini perlu dan penting. Bahkan bisa jadi wajib, nantinya. Yang jelas buat gue, punya sertifikasi penulis nonfiksi duluan aja deh, sebelum punya serdik, hehehe 

Semoga gue bisa kembali aktif nulis lagi. Rajin lagi, update lagi dan nggak males lagi. Amiiin. Buku terbit lagi, amiiin 

Sekali lagi ini tulisan curhat. Kalau kamu nggak sengaja terdampar di sini, baca tulisan ini dan merasa perlu info yang lebih detail, valid serta penting, sila DM aja ya ke surel bening.ip2389@gmail.com

Sertifikasi Penulis non-Fiksi Sertifikasi Penulis non-Fiksi Reviewed by Bening Pertiwi on Februari 27, 2020 Rating: 5

4 komentar:

  1. wah ada yg ultah ya ^^ happy milad.wish u the best

    Congrats u sertifikatnya. gak sia2 nekatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo hira ... Kangen. Terimakasih udah mampir dn komen di sini. Hira apa kabar? Sehat2 semua kan ya 🤭

      Hapus
  2. Aku yakin tulisan ini muncul bukan karena sertifikasi penulisnya, tapi karena ulang tahun...

    Kayaknya bener nih :D

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.