Nostalgia Majalah Annida

Cerita ini berawal dari beberapa hari yang lalu. Saat berangkat kerja, tetiba aku ingat dengan sosok Si Nida, akhwat yang jadi ikon majalah Islami, Annida. Si Nida muncul dengan ciri khasnya jilbab lebar yang mirip ekor dan berkacamata besar. Dan ya, aku tumbuh bersama majalah satu ini.

majalah annida

Sebagai sebuah majalah, Annida pernah terbit satu bulan dua kali dan juga satu bulan sekali. Dari banyak penelusuran, aku juga baru tahu kalau majalah ini sudah terbit sejak 1991. Karena pertama kali mengenalnya, sudah tahun 2003.

Yang aku suka dari majalah ini adalah tema-nya yang sangat remaja. Sebagian besar isinya berupa cerita pendek—cerpen—maupun cerita bersambung. Ternyata di tahun 2000-an awal itu oplah majalah Annida bahkan mencapai 100.000 eksemplar tiap bulannya. Uwoooow


Sekilas Sejarah Majalah Annida

Saat pertama terbit di tahun 1991, majalah Annida menggunakan moto ‘Seruan Wanita Solehat’. Majalah Annida bisa dibilang adiknya ‘Ummi’, majalah keluarga Islami yang sudah terbit sejak beberapa tahun sebelumnya.

Annida adalah kata yang berasal dari Quran Surah Maryam ayat 3, yang memiliki arti menyeru dengan lemah lembut. Nama ini adalah nama yang dicetuskan pendirinya Agus Sudjatmiko dan istrinya, Ika Astuti.

Seperti motonya, majalah Annida versi paling awal berisi artikel tentang perempuan dari sudut pandang Islam. Majalah ini pun terbit satu bulan sekali.

September 1993 majalah Annida bergabung dengan grup penerbitan Ummi PT Kimus Bina Tadzkia (sekarang PT Insan Media Pratama). Ini menjadi penanda perubahan segmen majalah Annida menjadi majalah remaja. Motonya pun berubah menjadi "Seri Kisah-Kisah Islami".

Pimpinan Redaksi majalah Annida bergeser pada Helvy Tiana Rosa pada 1999. Dengan moto ‘Sahabat Remaja Berbagi Cerita’ ini majalah Annida terbit dua kali dalam satu bulan. Majalah Annida pun memperluas segmen pembacanya tidak hanya di kalangan remaja wanita saja, tetapi juga di kalangan laki-laki.

Pada 2003, moto majalah Annida berubah menjadi "Cerdas, Gaul, dan Syar'i". Kayaknya majalah Annida pertama yang aku baca ya yang vesi ini deh. Perubahan juga terjadi pada tahun 2006, majalah Annida dengan motonya "Inspirasi Tak Bertepi".


Orang-Orang di Balik Annida

Dirikan oleh Agus Sudjatmiko dan istrinya, Ika Astuti, majalah Annida mengalami beberapa kali perubahan pimpinan redaksi. Dan tiap pimred punya ciri khasnya masing-masing.

Ada nama-nama seperti Helvy Tiana Rosa, Haula Haula Rosdiana, Dewi Fitri Lestari, Inayati, dan Dian Yasmina Fajri yang menggawangi majalah Annida selama bertahun-tahun.

Tahun 1999, majalah Annida dipimpin oleh penulis cerpen ‘Ketika Mas Gagah Pergi’, Helvy Tiana Rosa. Aku mengenalnya sebagai penulis saja. Dan baru belakangan tahu kalau beliau juga seorang dosen di Universitas Indonesia.

Setelah massa Helvy Tiana Rosa, majalah Annida dipimpin oleh Dian Yasmina Fajri atau yang dikenal dengan Dian YF. Baru di tahun 2005, pimpinan redaksi majalah Annida dipegang oleh Muhammad Yulius.

Selain para redaksinya, banyak nama-nama penulis yang awalnya muncul di majalah Annida, kemudian menerbitkan buku.


Tampilan Majalah Annida

Yang kuingat dari majalah Annida pertama kali adalah ukurannya yang lebih kecil dibanding majalah pada umumnya. Bahkan lebih mirip buku tulis biasa. Jadi lebih enak disimpan.

Majalah Annda dicetak dengan ukuran 15,5 cm x 24 cm, cukup kecil kan? Kertasnya sendiri beberapa berupa kertas buram tetapi berwarna. Cenderung tipis dan enak dipegang. Bindingnya pun masih dengan stepler, bukan dengan lem. Kebayang kan, imutnya majalah Annida di tahun 2003-2004 itu?


Untuk sampulnya sendiri kebanyakan berupa sketsa. Entah orang, bunga, binatang, olah foto maupun pemandangan. Sampulnya berupa kertas luks tebal dan mengkilap. Bagian dalam sampulnya biasanya berisi iklan.

Perubahan terjadi mulai 2005. Majalah Annida mulai menggunakan model orang di sampulnya. Banyak yang protes sih. Tapi majalah Annida menekankan kalau hanya orang berprestasi saja yang bisa jadi sampulnya, tidak sembarangan.

Akhirnya, Menyerah

Seperti siklus pada umumnya, majalah Annida yang pernah sangat populer pada masanya, akhirnya menemukan jalan akhirnya.

annida lama

Aku tidak ingat persis, tapi ketika awal kuliah, sulit sekali mencari majalah Annida. Hingga akhirnya aku tahu kalau majalah Annida tidak lagi mengeluarkan versi cetaknya. Majalah Annida berubah menjadi majalah online. Padahal saat itu, dari sekian cerpen yang kukirim ke majalah Annida, belum ada satupun yang lolos dan diterbitkan.


Menyambangi majalah Annida online, nyatanya belum semenarik versi cetaknya. Tidak ingat juga kapan terakhir mengakses website-nya, karena ternyata tidak se-update jika dibandingkan dengan versi cetaknya.

Dan akhirnya, Majalah Annida benar-benar jadi sebuah kenangan. Web-nya tidak bisa diakses lagi. Ya, kangen rasanya membaca kembali majalah seperti satu ini. Selalu greget dengan cerpen-cerpennya. Salah satu majalah yang menemani masa awal remajaku.

Oh iya, curhatan soal majalah Annida ini belum selesai ya. Karena masih dilanjutkan di bagian lainnya. Sampai jumpa di tulisan lainnya.

Btw, tulisan ini kubuat 22 Februari, saat hari jadi Forum Lingkar Pena (FLP) ke-25. Selamat milad FLP ke-25 ya

2 komentar:

  1. Kalo majalah hidayah?
    Bakal di ulas juga ngga ya?

    Masa remajaku ditemani majalah doraemon sama one piece.

    BalasHapus
    Balasan
    1. enggak langganan majalah hidayah, jadi nggak mungkin dibahas
      aku aja baru kenal komik pas SMP, boro2 kenal majalah doraemon sama one piece
      ngertinya cuma bobo

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Blognya Bening Pertiwi. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.

Diberdayakan oleh Blogger.