Flash Fiction - Pantang Patah Hati, tanpa Jadi Royalti

Jika aku berharap kau mangatakan ‘You look so beautifull in white’ seperti yang Shane Filan katakan dalam lagunya, maka itu hanya hayalanku saja. Aku sadar benar, menjadi bagian cerita ini saja sudah keliru. Salah dan keliru sejak awal. Seperti sudah hancur bahkan sebelum memulainya. Bukan, bukan karena aku tidak mau berusaha lebih keras lagi. Tetapi memang seperti ini adalanya.

Dania menggenggam undangan warna krem cerah di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menghapus lelehan yang mengalir di pipi berwarna cerah itu sejak sejam lalu. Ia tahu benar, tidak ada gunanya terus menangis. Tapi siapa yang bisa menahan agar air mata itu tidak keluar? Semuanya terjadi begitu saja.

Gambar patah hati

“Selamat ya. Semoga lancar sampai hari H,” ujar Dania dua jam lalu, sejak pertama kali undangan berwarna krem cerah itu ada di hadapannya.
 

Orang yang namanya tercetak dalam undangan itu, yang secara khusus memberikannya pada Dania. Bukan dengan alasan apapun. Hanya meluangkan waktu sejenak di tengah kesibukan persiapan pernikahan yang tidak pernah sederhana.

Dania masih sempat menampilkan senyum terbaiknya di hadapan orang itu. Demi bisa memberikan waktu bagi ruang hatinya yang mendadak kosong. Demi bisa memberikan kesempatan pada dirinya untuk tak menjadi pecundang di depan sebelum berjuang. Meski akhirnya Dania tetap dikalahkan oleh lelehan tak tertahankan yang mengalir setelahya, dalam kesendirian. Dania tahu benar, ini sudah berarkhir. Hanya saja, ia butuh waktu lebih banyak untuk bisa menenangkan diri dan siap menerima apa yang terjadi setelahnya.

 
Menjadi pengagum rahasia bukan hal baru bagi Dania. Meski demikian, menjadi pengagum rahasia tetap saja memberikan sensasi rasa sakit yang sama. Tetap saja memberikan sebuah kehilangan yang tidak sederhana. Tetap saja meninggalkan ruang kosong yang terlalu sunyi untuk dilihat lagi.

Dania menghapus lagi air mata yang masih meleleh di pipinya. Kepalanya terlalu pusing untuk memikirkan apa yang akan terjadi besok. Badannya terlalu lelah untuk menahan isak agar tidak perlu ada yang mendengarnya. Dan tangannya sudah kebas karena basah sejak tadi oleh air mata yang terlalu sulit untuk ditahan lagi.
 

Ponsel Dania berbunyi. Ada pesan dari Mbak Deva, editornya.

Dania, bagaimana perkembangan naskah? Kapan bisa saya terima di meja redaksi?

Dania buru-buru menutup ponselnya lalu beralih ke depan laptop yang sudah menyala sejak semalam. Sebuah rasa kehilangan sudah cukup mengisi penuh energinya untuk menuliskan cerita sedih. Dan sekarang, saatnya menyelesaikan naskah yang sudah mangkrak. Naskah tentang patah hati. Ah, bukan. Sebenarnya Dania tengah bersandiwara. Tangis tadi adalah bagian terbaiknya. Ia hanya butuh menangis, agar benar-benar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh karakter naskahnya.
 

Sebelum benar-benar menulis, Dania mengetik balasan untuk editornya.

Naskah segera selesai, Mbak. Semuanya berjalan dengan baik. Jatuh cinta dan patah hati sudah siap untuk dituangkan menjadi tulisan.

Dania tersenyum. Kali ini ia menang. Pantang patah hati, tanpa jadi royalti.
Flash Fiction - Pantang Patah Hati, tanpa Jadi Royalti Flash Fiction - Pantang Patah Hati, tanpa Jadi Royalti Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

2 komentar:

  1. Hehe.... pernah ngalamin yg model gini. Ditinggal nikah :D
    Pasti klo orang yg suka nulis atau kerja di bidang seni, patah hati malah Jd duit, karena biasanya karyanya lebih makjleb ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahaha ... iya sih, karena berdasar kisah nyata. tapi ya, masa demi bisa nulis harus patah hati dulu, ya capek dong

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.