Daftar Isi [Tampil]
Pernah gak sih, pas denger kata "nol", pikiran langsung melayang ke nilai rapor yang jeblok, dompet yang tipis banget, atau rasa hampa alias zonk setelah ngalamin kegagalan? Nah, buku yang mau aku bahas hari ini bisa bikin kita melihat angka nol dengan cara yang 180 derajat berbeda. Yuk, simak review buku-nya berikut!
· Ketebalan Buku: 190 halaman
· Genre: Non-Fiksi / Pop-Filosofi / Self-Development
Dari semua isi buku in, poin pentingnya adalah: kekosongan bukanlah akhir, tapi rahim dari segala kemungkinan. Penulis mengungkap sudut pandang nol dalam dua sisi berbeda. Nol bisa jadi faktor pengali. Maksudnya? Sekeren apapun potensi, bakat atau kesuksesan, kalau dikali ‘nol’ (alias kehilangan kejujuran, adab, karakter), maka semuanya jadi nol alias hilang dalam sekejap.
Di sisi lain, nol juga bisa jadi faktor pelipatganda. Maksudnya? Kalau nol ditempatkan di posisi yang tepat, maka bisa melipatgandakan nilai. Contohnya ada uang, kalau bertambah nol-nya, maka nilainya bertambah berlipat-lipat.
Tapi saat membuka buku NOL ini, lha koq ... mana daftar isinya? Agak oleng sih, karena akhirnya hanya bisa menduga-duga isinya. Duh padahal kalau ada daftar isinya, pasti lebih keren ini, pikirku begitu. Meski akhirnya ya sudahlah, aku pun menjelajahi isi buku in satu per satu, lembar demi lembar.
Analogi sehari-hari juga banyak digunakan, contohnya seperti gelas kosong yang justru berfungsi karena ruang kosongnya, atau ilustrasi gajah sirkus yang terikat rantai mental masa kecilnya. Selain itu ada banyak istilah keren juga seperti hedonic treadmill, learned helplessness, unlearning process, hingga neuroplastisitas. Ini membuat ‘rasa’ non-fiksinya begitu nyata, karena berdasarkan sumber yang valid. Bukan hanya omong kosong saja. Cuma, terlalu banyak istilah ilmiah ternyata membuat menulis review buku ini rada bikin pusing, euy.
Kalau hidup kita memilih yang kedua, artinya semua sudah selesai. Berbeda kalau kita memilih yang pertama, maka kita masih punya kesempatan untuk bangkit lagi.
Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang sedang merasa down dalam hidup. Mengajarkan kalau kegagalan bukanlah akhir. Buku ini bisa jadi penghibur, kalau kamu tidak sendirian. Kalau kamu bisa kok melihat sisi lain dari kegagalan. Buku ini juga cocok buat para pencinta sains yang ingin melihat sisi humanis dari sebuah angka. Itu tadi rekomendasi pembaca dari aku.
So dari aku 7/10 untuk buku keren ini. Yuk, luangkan waktu akhir pekan ini buat baca buku ini. Happy reading, fellas! Jangan takut kembali ke titik nol, ya!
NOL, Rahasia Angka yang Mengubah Peradaban, Teknologi, dan Kehidupan
· Penulis : A. ROIA· Ketebalan Buku: 190 halaman
· Genre: Non-Fiksi / Pop-Filosofi / Self-Development
Ringkasan Buku: Si Kosong yang Ternyata Berisi
Lewat buku NOL ini kita akan diajak berpetualang, melintasi berbagai disiplin ilmu—mulai dari sejarah kuno, sistem awal matematika hingga dunia industri dan kecerdasan buatan. Ada area pribadi, dunia psikologi sampai dunia spiritualitas. Paket lengkap deh.Dari semua isi buku in, poin pentingnya adalah: kekosongan bukanlah akhir, tapi rahim dari segala kemungkinan. Penulis mengungkap sudut pandang nol dalam dua sisi berbeda. Nol bisa jadi faktor pengali. Maksudnya? Sekeren apapun potensi, bakat atau kesuksesan, kalau dikali ‘nol’ (alias kehilangan kejujuran, adab, karakter), maka semuanya jadi nol alias hilang dalam sekejap.
Di sisi lain, nol juga bisa jadi faktor pelipatganda. Maksudnya? Kalau nol ditempatkan di posisi yang tepat, maka bisa melipatgandakan nilai. Contohnya ada uang, kalau bertambah nol-nya, maka nilainya bertambah berlipat-lipat.
Review Buku NOL
Tampilan fisik
Seperti kebiasaan lama, tiap kali buka buku (baik buku fisik maupun buku digital) maka aku akan mencari daftar isinya dulu. Lewat jendela satu ini aku bisa mengintip isi buku secara keseluruhan sebelum akhirnya berpetualang membaca tiap bab-nya.Tapi saat membuka buku NOL ini, lha koq ... mana daftar isinya? Agak oleng sih, karena akhirnya hanya bisa menduga-duga isinya. Duh padahal kalau ada daftar isinya, pasti lebih keren ini, pikirku begitu. Meski akhirnya ya sudahlah, aku pun menjelajahi isi buku in satu per satu, lembar demi lembar.
Struktur & Gaya Penulisan
Kalau bicara struktur tulisan, jujur rapi banget. Dimulai dari hal-hal besar dan sejarah lalu menuju hal-hal kecil dan personal. Gaya bahasanya juga enak, mengalir. Tidak kaku seperti buku matematika sekolah pada umumnya. Lha memang ini kan bukan buku teks, hehe.Analogi sehari-hari juga banyak digunakan, contohnya seperti gelas kosong yang justru berfungsi karena ruang kosongnya, atau ilustrasi gajah sirkus yang terikat rantai mental masa kecilnya. Selain itu ada banyak istilah keren juga seperti hedonic treadmill, learned helplessness, unlearning process, hingga neuroplastisitas. Ini membuat ‘rasa’ non-fiksinya begitu nyata, karena berdasarkan sumber yang valid. Bukan hanya omong kosong saja. Cuma, terlalu banyak istilah ilmiah ternyata membuat menulis review buku ini rada bikin pusing, euy.
Fakta vs Pendapat Penulis
Kelebihan buku ini adalah kelihaian penulis menggabungkan data sejarah dan banyak fakta sains. Lalu dilengkapi dengan pendapat filosofis. Contohnya saat membahas bab teknologi, penulis memaparkan fakta bahwa dunia digital bekerja lewat logika biner 0 dan 1. Namun, dia langsung mengimbanginya dengan argumen humanis: secanggih apa pun masa depan, manusia gak akan pernah bisa direduksi menjadi sekadar deretan angka karena kita punya cinta, moral, dan intuisi.Insight Unik yang Paling "Daging"
Berikut 4 hal yang aku temukan paling menarik dan berkesan dari buku ini:1. Perbedaan Mendasar antara “Saya Gagal” dengan “Saya adalah Kegagalan”
Dari sekian banyak bab, aku menemukan hal menarik di bab 18. Ketika seseorang mengatakan ‘saya gagal’, ternyata kalimat itu menunjuk pada tindakan dan bersifat dinamis, so masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Tapi kalau seseorang berpikir ‘saya adalah kegagalan’, ini ibarat ending atau hasil akhirnya. Label ‘saya adalah kegagalan’ merupakan akhir yang tidak bisa diubah lagi. Nah kan repot.Kalau hidup kita memilih yang kedua, artinya semua sudah selesai. Berbeda kalau kita memilih yang pertama, maka kita masih punya kesempatan untuk bangkit lagi.
2. Seni Mengosongkan Pikiran
Seni mengosongkan pikiran aku temukan di bab 17. Dari bab ini, kita sebagai manusia modern diajak untuk berpikir ulang. Selama ini kita berhenti berkembang karena sudah telanjur punya label status, jabatan atau pencapaian masa lalu. Padahal, kalau mau terus tumbuh ke tingkat yang lebih tinggi, maka kita harus berani keluar dari label ini. Harus berani kembali mengosongkan pikiran, memposisikan diri jadi pemula lagi dan mau menyerap ilmu yang baru lagi.3. Benteng Pertahanan Manusia di Era Kecerdasan Buatan
Bagi siapa saja yang khawatir posisinya akan tergantikan oleh teknologi, Bab 19 memberikan sudut pandang yang sangat menenangkan. Secanggih apa pun sistem AI di masa depan, tapi mereka tetaplah mesin. Manusia tetap punya keunggulan yang tidak akan bisa digantikan oleh mesin, yakni empati, cinta dan moral.4. Filosofi Hidup sebagai Deretan Angka Nol
Pada bagian penutup, penulis memberikan perumpamaan matematis yang sangat indah. Waktu, usia, dan seluruh rangkaian peristiwa dalam hidup kita diibaratkan seperti deretan angka nol yang berbaris panjang. Deretan nol tersebut tidak akan memiliki nilai apa pun jika dibiarkan berdiri sendiri.Catatan Kritis: Apa yang Perlu Diperbaiki?
Walaupun isi buku ini sebenarnya sangat keren dan membuka mata, menurut saya ada beberapa hal yang masih bisa diperbaiki agar pembaca merasa lebih nyaman. Berikut kelebihan dan kekurangan buku Nol :1. Banyak Pembahasan yang Mengulang
Bicara soal kerapihan isi, mungkin ini perlu jadi perhatian. Ada beberapa tema/bagian yang agak timpah tindih. Topik tentang bagaimana kegagalan bisa membentuk karakter kita dibahas terlalu sering. Sebenarnya idenya bagus sih, karena ingin menekankan tentang ‘kegagalan dan karakter’, tapi kalau dibahas terlalu sering ya bisa bosan juga.2. Perpindahan Topik yang Terlalu Mendadak
Beberapa tema atau topik masih loncat-loncat. Enggak salah sih, tapi menurutku akan lebih bagus lagi kalau lebih rapi. Bab-bab yang temanyat/topiknya mirip bisa dikelompokkan jadi satu bagian besar. Nah nanti ada bagian yang menghubungkan bagian satu dengan bagian lainnya. Jadi pembaca tidak merasa bingung.3. Terlalu Romantis Menilai Kegagalan
Salah satu poin utama buku ini adalah membahas tentang kegagalan. Sayangnya, pembahasan ini terkesan terlalu didramatisir, menurutku sih begitu. Bagi sebagian orang, cara penyampaian ini bukannya memberikan motivasi tapi malah agak menggurui saja. Mungkin butuh penegasan yang lebih manusiawi, kalau merasa hancur di titik nol itu adalah hal yang wajar, dan proses untuk bangkit kembali itu butuh waktu, tidak bisa instan.4. Fokus Pembaca yang Kurang Jelas
Arah buku ini agak membingungkan bagiku. Bab awal sih cocok untuk pencinta sains dan sejarah, bagian tengah dipenuhi unsur bisnis kantoran, sedangkan bagian akhir seperti buku self motivation. Menurutku sih ini jadi membuat bukunya kurang fokus. Memang sih, penulis ingin menunjukkan kalau angka nol itu bisa muncul dalam semua hal. Tapi akan lebih rapi kalau penulis bisa lebih fokus untuk siapa buku ini ditulis.5. Daftar Isi
Dear penulis, plis tiap membuat tulisan jangan lewatkan daftar isinya ya. Selain kebutuhan tampilan, keberadaan daftar isi juga membuat pembaca atau calon pembaca punya gambaran isi secara keseluruhan, tanpa memberikan spoiler.Penutup & Rekomendasi
Pada akhirnya, buku NOL ini memberikan banyak insight baru buatku. Banyak hal baru tentang angka nol yang menjadi pengetahuan baru bagiku. Berada di titik terendah bukan berarti hidup kita selesai, melainkan semesta sedang memberikan selembar halaman kosong baru yang siap kita tulis ulang dengan tinta kebijaksanaan yang lebih matang.Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang sedang merasa down dalam hidup. Mengajarkan kalau kegagalan bukanlah akhir. Buku ini bisa jadi penghibur, kalau kamu tidak sendirian. Kalau kamu bisa kok melihat sisi lain dari kegagalan. Buku ini juga cocok buat para pencinta sains yang ingin melihat sisi humanis dari sebuah angka. Itu tadi rekomendasi pembaca dari aku.
So dari aku 7/10 untuk buku keren ini. Yuk, luangkan waktu akhir pekan ini buat baca buku ini. Happy reading, fellas! Jangan takut kembali ke titik nol, ya!



Tidak ada komentar:
Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Blognya Bening Pertiwi. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)
Note :
Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.