Review Novel Placebo Pia Devina

Daftar Isi [Tampil]
    Baca cerita romantis itu tidak kenal usia. Bahkan di usia yang dikenal sudah matang pun, cerita romantis tetap menarik untuk dinikmati.

    Setelah menikah, cerita romantis yang paling sering membuat saya campur aduk adalah tentang pernikahan. Bukan karena ceritanya penuh adegan manis, tetapi justru karena konflik emosinya terasa terlalu dekat dengan kehidupan nyata. Cerita tentang cinta lama yang belum selesai. Dan cerita tentang seseorang yang tiba-tiba menyadari bahwa dirinya mungkin hanya menjadi pengganti. Tema seperti ini sebenarnya juga pernah saya temukan dalam novel tentang cinta lama yang kembali, Islah Cinta, meskipun konflik dan latar ceritanya berbeda.

    Perasaan itulah yang muncul ketika membaca novel Placebo karya Pia Devina. Novel ini awalnya saya kira hanya akan menjadi kisah romance biasa dengan konflik segitiga cinta. Tetapi setelah masuk ke dalam ceritanya, ternyata konflik yang dihadirkan jauh lebih emosional. Bukan sekadar soal siapa memilih siapa. Tapi tentang satu pertanyaan yang sangat menyakitkan: Apakah orang yang kita cintai benar-benar mencintai kita… atau hanya bersama kita karena keadaan?


    Placebo

    Penulis: Pia Devina
    Penerbit: Noura Books
    Tahun terbit: 2019
    Jumlah halaman: sekitar 292 halaman
    Genre: Urban Romance


    Ketika Masa Lalu Datang Kembali

    Cerita dalam novel Placebo berpusat pada tiga tokoh utama: Maharani, Danu, dan Lucy Makaila. Maharani adalah seorang istri sekaligus ibu yang hidupnya terlihat baik-baik saja. Ia memiliki keluarga kecil yang tampak utuh dari luar. Tidak ada konflik besar yang terlihat, tidak ada drama yang terlalu mencolok. Setidaknya, sampai seseorang dari masa lalu kembali muncul. Lucy Makaila.

    Lucy bukan sekadar orang asing yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan mereka. Ia adalah mantan kekasih Danu. Lebih dari itu, Lucy juga pernah menjadi sahabat Maharani. Kehadiran Lucy membuat sesuatu yang selama ini tersembunyi perlahan muncul ke permukaan. Kenangan lama. Perasaan lama. Dan pertanyaan lama yang belum pernah benar-benar terjawab.

    Bagi Maharani, Lucy adalah mimpi buruk yang ia harap tidak pernah kembali. Ia ingin hidupnya berjalan seperti cerita dalam novel romantis yang sederhana: seorang suami mencintai istrinya, mereka membesarkan anak bersama, dan hidup berjalan tenang. Namun kenyataannya jauh lebih rumit. Karena ternyata, di dalam hati Danu masih ada ruang yang belum pernah benar-benar kosong. Ruang untuk Lucy.

    Ketika Pernikahan Tidak Sesederhana yang Terlihat

    Salah satu hal yang membuat Placebo terasa menarik adalah konflik rumah tangga yang ditulis dengan cukup realistis. Novel ini tidak menggambarkan pernikahan sebagai sesuatu yang selalu indah dan penuh cinta. Sebaliknya, kita justru melihat bagaimana hubungan bisa menjadi sangat rapuh ketika masa lalu yang belum selesai kembali muncul.

    Danu berada dalam posisi yang sangat rumit. Di satu sisi, ia memiliki keluarga yang harus ia jaga. Ia memiliki seorang istri dan anak yang bergantung padanya. Namun di sisi lain, Lucy adalah perempuan yang pernah benar-benar ia cintai. Bahkan mungkin satu-satunya perempuan yang pernah membuatnya merasa seperti itu.

    Ketika Lucy kembali hadir, perasaan yang selama ini ia kubur perlahan muncul lagi.

    Dan di sinilah konflik emosional cerita mulai terasa. Karena bagi Maharani, mengetahui bahwa suaminya masih memiliki perasaan terhadap orang lain adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi ketika orang itu adalah sahabatnya sendiri.

    Makna Judul “Placebo”

    Salah satu hal yang menurut saya cukup menarik dari novel ini adalah judulnya. Dalam dunia medis, placebo adalah sesuatu yang terlihat seperti obat tetapi sebenarnya tidak memiliki efek penyembuhan yang nyata. Orang yang mengonsumsinya mungkin merasa lebih baik, tetapi perubahan itu sebenarnya hanya berasal dari sugesti. Jadi boleh dibilang, placebo ini ‘semacam pengganti’.

    Konsep ini terasa sangat pas dengan hubungan dalam cerita. Kadang seseorang bertahan dalam sebuah hubungan bukan karena benar-benar bahagia, tetapi karena merasa itu adalah pilihan yang paling aman. Seolah-olah hubungan tersebut menjadi “obat” untuk rasa sepi, rasa takut, atau rasa tidak ingin kehilangan sesuatu. Padahal sebenarnya, hubungan itu tidak benar-benar menyembuhkan luka yang ada.

    Melalui kisah Maharani dan Danu, novel ini seperti mengajak pembaca bertanya pada diri sendiri: Apakah cinta yang kita jalani benar-benar nyata? Atau hanya placebo yang membuat kita merasa semuanya baik-baik saja?

    Maharani: Tokoh yang Sangat Manusiawi

    Dari semua karakter dalam cerita ini, Maharani adalah tokoh yang paling terasa dekat dengan pembaca. Ia bukan tokoh perempuan yang selalu kuat dan penuh kebijaksanaan. Ia justru sangat manusiawi. Ia bisa cemburu. Ia bisa marah. Ia bisa merasa tidak cukup baik.

    Ada bagian-bagian dalam cerita yang membuat pembaca mungkin ikut merasakan kegelisahan yang dialami Maharani. Terutama ketika ia mulai mempertanyakan posisinya dalam pernikahan. Apakah Danu benar-benar mencintainya? Atau selama ini ia hanya menjadi pilihan yang paling mudah ketika Lucy tidak ada? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terasa sangat menyakitkan, tetapi juga sangat realistis.

    Cinta yang Tidak Hitam Putih

    Hal lain yang saya sukai dari novel ini adalah cara Pia Devina membangun karakter yang tidak sepenuhnya hitam atau putih. Tidak ada tokoh yang benar-benar jahat. Danu bukan sekadar suami yang tidak setia. Ia adalah seseorang yang terjebak antara masa lalu dan tanggung jawabnya saat ini.

    Lucy juga tidak digambarkan sebagai perempuan yang sengaja ingin merusak rumah tangga orang lain. Ia hanya bagian dari cerita lama yang belum pernah benar-benar selesai. Ketika membaca novel ini, pembaca mungkin akan merasa kesulitan menentukan siapa yang sepenuhnya salah. Dan mungkin memang begitulah kehidupan nyata. Tidak semua konflik memiliki jawaban yang sederhana.

    Gaya Penulisan yang Ringan tetapi Emosional

    Sebagai penulis romance yang cukup produktif, Pia Devina memiliki gaya penulisan yang ringan dan mudah diikuti. Bahasanya tidak terlalu rumit sehingga cerita bisa dinikmati dengan nyaman. Namun di balik kesederhanaan itu, emosi para tokohnya tetap terasa cukup kuat.

    Dialog-dialog dalam novel ini juga terasa natural. Percakapan antar tokoh terasa seperti percakapan nyata yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat konflik dalam cerita terasa lebih hidup.

    Hal yang Membuat Novel Ini Menarik

    Ada beberapa hal yang membuat Placebo cukup menarik untuk dibaca: Pertama, konflik emosinya kuat. Cerita tentang cinta lama yang muncul kembali selalu memiliki daya tarik tersendiri.

    Kedua, karakter tokohnya terasa realistis. Mereka memiliki kelemahan, keraguan, dan keputusan yang tidak selalu benar.

    Ketiga, tema yang diangkat cukup dewasa. Novel ini tidak hanya berbicara tentang cinta remaja, tetapi juga tentang pernikahan dan tanggung jawab. 

    Kalau tertarik membaca cerita lain yang menjadikan pernikahan dan pilihan hidup sebagai bagian penting dalam konflik, kamu juga bisa membaca novel tentang pernikahan dan pilihan hidup dalam A Moment to Decide.

    Penutup

    Setelah selesai membaca Placebo, saya merasa novel ini meninggalkan perasaan yang cukup mengganggu. Bukan karena ceritanya sedih semata, tetapi karena ia menyentuh sesuatu yang cukup dekat dengan kehidupan nyata.

    Kadang kita ingin percaya bahwa cinta selalu sederhana. Bahwa seseorang yang menikah dengan kita pasti mencintai kita sepenuh hati. Namun kenyataannya tidak selalu begitu.

    Kadang cinta datang pada orang yang salah. Kadang seseorang menikah dengan orang yang bukan cinta pertamanya. Dan kadang seseorang harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanya menjadi tempat berhenti bagi hati orang lain.

    Novel Placebo tidak memberikan jawaban yang mudah. Namun ia meninggalkan satu pertanyaan yang mungkin akan terus teringat setelah buku ini ditutup: Dalam hubungan yang kita jalani sekarang, apakah kita benar-benar menjadi cinta… atau hanya placebo bagi seseorang?

    Kalau kamu menyukai novel dengan kisah cinta yang lebih dewasa, Lucida Sidera juga menarik untuk dibaca karena romantismenya dibangun lewat interaksi antartokoh. 



    Tidak ada komentar:

    Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Blognya Bening Pertiwi. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

    Note :

    Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.

    Diberdayakan oleh Blogger.