Review Novel Flaga by Eva Kurniasari

Daftar Isi [Tampil]
    Usia mungkin sudah dewasa. Tapi kadang, rasa kangen membaca buku romantis ala remaja, suka muncul juga. Apalagi saat kenangan masa sekolah ternyata tidak benar-benar hilang. Dia hanya bersembunyi dalam salah satu sudut ingatan, dan siap muncul kembali kapan saja.

    Itu yang saya rasakan saat membaca novel Flaga karya Eva Kurniasari. Cerita yang awalnya populer di Wattpad ini terasa seperti membuka kembali album kenangan masa remaja—tentang cinta pertama, rasa malu, gengsi, dan luka yang ternyata masih tertinggal hingga bertahun-tahun kemudian.

    Novel ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ia lebih mirip perjalanan emosional tentang bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalu, terutama ketika orang yang pernah menyakiti justru datang kembali membawa penjelasan. Lalu, apakah semua luka bisa sembuh? Dan apakah cinta pertama selalu pantas diberi kesempatan kedua? Kalau kamu suka novel romance yang menghadirkan persoalan hubungan dan pilihan hidup, kamu juga bisa membaca novel romance dengan kisah cinta yang tidak sederhana dalam A Moment to Decide.

     

    Flaga

    Penulis: Eva Kurniasari
    Penerbit: Noura Books
    Tahun terbit: 2019
    Jumlah halaman: 280 halaman
    Genre: Romance

    Sinopsis Novel Flaga

    Flaga itu singkatan Fla dan Aga. Dua tokoh utama dalam novel ini. Bagi Fla, masa SMA bukanlah kenangan manis yang ingin ia ingat terus-menerus. Justru di masa itulah ia mengalami pengalaman yang cukup memalukan sekaligus menyakitkan.

    Dulu, ketika masih remaja, Fla pernah dengan berani mengungkapkan perasaannya kepada Aga—salah satu siswa populer di sekolahnya. Ia menyukai Aga dengan cara yang polos dan jujur, seperti kebanyakan remaja yang baru pertama kali mengenal rasa cinta.

    Namun keberanian itu justru berakhir pahit. Alih-alih mendapat jawaban yang baik, perasaan Fla malah ditolak dengan cara yang membuatnya merasa sangat dipermalukan. Sejak saat itu, kenangan tentang Aga menjadi bagian dari masa lalu yang ingin ia lupakan. Fla kemudian menjalani hidupnya seperti biasa. Ia tumbuh, berubah, dan perlahan mencoba menutup luka masa remajanya. Sayangnya, hidup sering kali punya rencana yang berbeda.

    Bertahun-tahun kemudian, Aga muncul kembali dalam kehidupan Fla. Bukan sekadar sebagai teman lama yang kebetulan bertemu kembali, tetapi dengan niat yang sangat serius: ia ingin menikahi Fla.

    Bagi Fla, hal itu terasa hampir tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang dulu menolak dan menyakitinya kini datang membawa niat untuk membangun masa depan bersama?

    Sementara itu, di sisi Aga, ada cerita yang selama ini tidak pernah Fla ketahui. Penolakan yang dulu terjadi ternyata bukan sekadar sikap dingin tanpa alasan. Ada kesalahpahaman, ada gengsi masa muda, dan ada perasaan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang.

    Kini Aga mencoba memperbaiki semuanya. Ia ingin menjelaskan masa lalu yang keliru, sekaligus membuktikan bahwa perasaannya kepada Fla bukan sekadar nostalgia. Namun bagi Fla, menerima Aga kembali bukanlah keputusan yang mudah. Karena terkadang luka lama tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga meninggalkan rasa takut.

    Kisah Cinta Pertama yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

    Kekuatan utama novel Flaga adalah tema cinta pertama yang terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak orang.

    Cinta pertama hampir selalu memiliki tempat khusus dalam ingatan. Bukan karena ia selalu menjadi yang terbaik, tetapi karena ia adalah pengalaman pertama ketika seseorang belajar tentang rasa suka, harapan, dan juga patah hati.

    Dalam cerita ini, pengalaman Fla terasa cukup realistis. Ia adalah remaja yang pernah merasa sangat berani karena mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Namun keberanian itu justru membuatnya terluka.

    Banyak pembaca mungkin bisa memahami posisi Fla. Tidak semua orang cukup beruntung mendapatkan jawaban yang indah ketika menyatakan perasaan. Kadang yang datang justru rasa malu yang sulit dilupakan. Novel ini menggambarkan perasaan itu dengan cukup halus, tidak meledak-ledak, tidak terlalu dramatis, tetapi tetap terasa emosional. Bagi pembaca yang ingin kembali menikmati cerita remaja dengan karakter perempuan yang kuat, novel teenlit dengan kisah remaja seperti D'Angel: Rose juga bisa menjadi pilihan.

    Sudut Pandang yang Membuat Cerita Lebih Utuh

    Hal menarik lain dari novel Flaga adalah penggunaan sudut pandang dari dua tokoh utama. Pembaca tidak hanya melihat cerita dari sisi Fla, tetapi juga dari sisi Aga.

    Melalui sudut pandang Fla, kita bisa merasakan bagaimana luka masa lalu membuatnya sulit percaya lagi. Ia tidak ingin terlihat lemah, tetapi di dalam hatinya masih ada bekas rasa sakit yang belum sepenuhnya hilang. Sementara melalui sudut pandang Aga, pembaca mulai memahami bahwa masa lalu yang terlihat sederhana ternyata memiliki cerita yang lebih kompleks.

    Kadang seseorang melakukan kesalahan bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena ia terlalu muda untuk memahami perasaannya sendiri. Pendekatan ini membuat konflik dalam cerita terasa lebih seimbang. Pembaca tidak hanya diajak bersimpati pada satu tokoh, tetapi juga mencoba memahami kedua sisi.

    Nostalgia Masa SMA yang Manis

    Selain konflik romantisnya, novel ini juga menghadirkan suasana masa SMA yang cukup terasa. Ada dinamika pertemanan, gengsi remaja, popularitas di sekolah, hingga drama kecil yang sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan nyata. Kalau kamu juga sedang ingin kembali menikmati cerita remaja dan suasana sekolah, kamu bisa membaca novel teenlit yang membawa nostalgia masa remaja seperti Best of the Best.

    Hal-hal seperti ini membuat cerita terasa lebih hidup. Pembaca yang pernah merasakan masa remaja dengan segala dramanya mungkin akan merasa cukup dekat dengan situasi yang dialami oleh para tokohnya. Kadang masalah yang terlihat sepele di usia remaja justru meninggalkan dampak yang cukup besar ketika kita mengingatnya kembali di masa dewasa.

    Karakter yang Tidak Terlalu Sempurna

    Salah satu hal yang saya sukai dari novel ini adalah karakter tokohnya yang terasa cukup manusiawi. Fla bukan tokoh perempuan yang selalu kuat dan percaya diri. Ia pernah merasa malu, rapuh, dan ragu pada dirinya sendiri. Begitu pula dengan Aga. Ia bukan tokoh laki-laki sempurna yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia pernah membuat kesalahan besar dan membutuhkan waktu lama untuk menyadarinya.

    Justru ketidaksempurnaan inilah yang membuat hubungan mereka terasa lebih realistis. Dalam kehidupan nyata, hubungan manusia jarang berjalan sempurna. Selalu ada kesalahpahaman, ego, dan keputusan yang diambil terlalu cepat. Novel Flaga mencoba menggambarkan hal itu dengan cukup sederhana.

    Kelebihan Novel Flaga

    Ada beberapa hal yang membuat novel ini cukup menyenangkan untuk dibaca.

    Pertama, bahasanya ringan dan mudah diikuti. Gaya penulisan Eva Kurniasari terasa santai sehingga pembaca bisa menikmati cerita tanpa merasa terbebani oleh narasi yang terlalu berat.

    Kedua, emosi tokohnya terasa cukup kuat. Konflik yang dialami Fla dan penyesalan Aga digambarkan dengan cara yang cukup menyentuh.

    Ketiga, alur ceritanya mengalir dengan nyaman. Cerita bergerak dengan ritme yang stabil sehingga pembaca bisa mengikuti perkembangan hubungan kedua tokohnya secara perlahan.

    Kekurangan Novel

    Meski menarik, novel ini juga memiliki beberapa hal yang mungkin terasa kurang bagi sebagian pembaca.

    Konflik utama dalam cerita sebenarnya cukup klasik dalam genre romance. Beberapa bagian mungkin terasa mudah ditebak bagi pembaca yang sudah sering membaca novel dengan tema kesempatan kedua dalam cinta. Selain itu, fokus cerita yang sangat kuat pada hubungan dua tokoh utama membuat dunia cerita terasa tidak terlalu luas. Namun bagi pembaca yang menyukai kisah romantis yang ringan dan emosional, hal ini kemungkinan tidak akan menjadi masalah besar.

    Penutup

    Novel Flaga adalah cerita tentang masa lalu yang belum selesai. Tentang bagaimana satu keputusan kecil di masa remaja bisa meninggalkan luka yang bertahan cukup lama.

    Namun di saat yang sama, novel ini juga berbicara tentang kesempatan kedua—tentang kemungkinan bahwa seseorang bisa berubah, belajar dari kesalahan, dan mencoba memperbaiki sesuatu yang pernah rusak.

    Memaafkan memang tidak selalu mudah. Apalagi jika luka yang ditinggalkan cukup dalam. Tetapi kadang hidup mempertemukan kembali dua orang bukan untuk mengulang kesalahan yang sama, melainkan untuk memberi kesempatan memperbaiki cerita yang dulu terhenti di tengah jalan.

    Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan dalam kisah Fla dan Aga, tidak semua cinta pertama harus berakhir sebagai kenangan yang menyakitkan. Beberapa di antaranya mungkin hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali menemukan jalannya.

    Tidak ada komentar:

    Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Blognya Bening Pertiwi. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

    Note :

    Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.

    Diberdayakan oleh Blogger.