Review Buku Rahasia Menjadi Istri dan Menantu Idaman

Halo, kali ini aku kembali membuat ulasan tentang buku non-fiksi. Buku terpilih kali ini adalah buku dari seorang penulis super produktif Ririn Astutiningrum, yakni Rahasia Menjadi Istri dan Menantu Idaman. Eh tapi kalau begini enggak rahasia lagi ya. Enggak apa-apa lah, kan berbagi kebaikan bisa jadi kebaikan juga untuk diri sendiri. Here we go!

review buku rahasia menjadi istri dan menantu idaman

Rahasia Menjadi Istri dan Menantu Idaman

Penulis: Ririn Astutiningrum
Penerbit: Syalmahat Publishing
ISBN: 978-623-5269-06-1
Jumlah halaman: vi+186 halaman
Cetakan pertama: 2022


Mengintip Isi Buku Rahasia Menjadi Istri dan Menantu Idaman

Buku Rahasia Menjadi Istri dan Menantu Idaman ini terdiri dari tiga bagian utama. Bagian pertama berisi tentang Rahasia Menjadi Istri Idaman, bagian kedua berisi tentang Rahasia Menjadi Menantu Idaman, dan bagian ketiga berisi tentang Uswatun Hasanah.

Sekilas membaca judul di sampulnya, bab utama dari buku ini adalah tenang ‘menjadi istri idaman’ dan ‘menjadi menantu idaman’. Dan ternyata, dilengkapi juga dengan bagian ketiga yang lebih banyak berisi tentang keteladanan.

Bagian Pertama

Pada bagian pertama tentang menjadi istri idaman, terdapat 17 bab yang masing-masing terdiri dari 3-4 bab. Tiap bab ditulis secara runtut, dimulai dari bab-bab awal yang banyak berisi interaksi istri dengan suami, hingga cerita tentang masalah-masalah yang terjadi dalam rumah tangga.

Yang menjadi unik dari tiap bab-nya, selalu ada kisah atau cerita yang menjadi contoh tiap masalah yang terjadi. Dari cerita dan kisah itu, bisa diambil hikmahnya. Dan tiap akhir bab, akan dilengkapi juga dengan tips serta saran yang bisa dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi masalah yang terjadi.

Bagian Kedua

Pada bagian kedua, fokus pada ‘menjadi menantu idaman’. Menjadi seorang menantu yang apalagi tinggal bersama orang tua dari suami atau mertua, tentu bukan hal yang mudah. Ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk menyesuaikan diri. Harus hidup satu atap dengan suami saja, butuh penyesuaian. Apalagi harus hidup dengan mertua.

Ada 11 bab yang menjadi isi bagian kedua ini. Seperti halnya bagian pertama, pada bagian kedua ini juga dibahas mengenai berbagai hal yang berhubungan antara menantu dan mertua. Sejumlah masalah yang terjadi dalam interaksi antara menantu-mertua juga dibahas dalam bab ini dengan ringkas.

Ada banyak kisah dan teladan yang ditunjukkan. Dan tidak ketinggalan, selalu dilengkapi juga dengan tips dan saran di akhir tiap bab-nya. Meski pada bagian ini yang menjadi bagian utama adalah mertua dan menantu, tetapi tentu tidak mengabaikan peran suami sebagai kepala keluarga bagi istri sekaligus anak bagi orang tuanya.

Bagian Ketiga

Pada akhir buku ini, ada satu bagian lagi yang tidak kalah menarik untuk disimak, ‘Uswatun Hasanah’. Pada bagian ini terdapat lima bab, yang seperti judulnya, berisi tentang kisah-kisah keluarga yang layak untuk dijadikan teladan. Tidak hanya soal interaksi antara suami dan istri saja, tetapi juga tentang interaksi antara anak, istri, suami, mertua dan juga ipar.

Kesimpulan

Saya pesan buku ini pada sang penulis, sekitar sebulan sebelum saya menikah. Ada gelitik ketika membaca judulnya, ‘Oh, bisa nih jadi bekal saat menikah nanti’.

Dan ya, akhirnya saya bisa membaca buku ini, meski datang setelah hari pernikahan saya. Tapi, saat menjelajah isinya, rasanya seperrti tidak ada ruginya. Ruginya, hanya saya baca kurang awal. Meski saya membacanya agak terlambat—setelah menikah—tapi ternyata ya tidak salah juga. Ada banyak hal baru yang saya temui dan ternyata bisa jadi bekal juga menjalani biduk rumah tangga yang masih baru ini.

Ada banyak hal yang kemudian menohok saya. Merasa kalau persiapan saya memasuki jenjang yang berbeda ini masih kurang. Ah, tidak apa-apa. Bukankah manusia itu punya kewajiban belajar tanpa ujung? Terus belajar meski sudah banyak yang dipelajari.

Saya juga menunjukkan buku ini pada suami. Dia tersenyum. Lucu mungkin yang dipikirkannya. Ngapaian saya harus baca buku seperti itu? Saya hanya bilang, ayok kita belajar bersama. Katanya, itu kan yang mau dilakukan setelah menikah? Terus belajar dan belajar bersama. Karena pernikahan sendiri adalah belajar tanpa ujung?

Akhirnya, saya hanya ingin bilang, buku ini keren. Bisa dibaca siapa saja dan kapan saja. Siapa saja, mau laki-laki atau perempuan, tidak masalah. Kapan saja, mau orang yang belum menikah, tengah mempersiapkan pernikahan ataupun sudah menikah. Karena memang tidak ada kadaluarsanya. Terakhir, terima kasih untuk penulis yang membuat buku keren dan kece ini.

Sampai jumpa di tulisan dan curhatan lainnya ya.

Tidak ada komentar:

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Blognya Bening Pertiwi. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.

Diberdayakan oleh Blogger.