Review Novel - Mencari Jejak Caraka (I’ir Hikma)

Ini buku terakhir (dari beberapa buku yang sengaja kubeli) yang awalnya akan dibuat reviewnya untuk mengikuti lomba resensi dari Penerbit Indiva. Tapi dasar aku! Eh akhirnya enggak selesai baca dan buat reviewnya hingga dateline lomba selesai. Tapi baca tetap lanjut kok. Nih buktinya, sekarang udah jadi reviewnya. Selamat menyimak ya ^_^

Sampul Mencari jejak Caraka

Mencari Jejak Caraka

Penulis: I’ir Hikma
Penerbit: Penerbit Indiva Media Kreasi
ISBN: 978-623-253-015-7
Jumlah halaman: 216 halaman
Cetakan pertama: 2020
Harga: Rp60.000

Bolosnya Raka atau Caraka dari sekolah sebenarnya bukan hal baru lagi. Tapi anehnya, Raka tetap bisa kembali sekolah seperti biasa, seolah tidak terjadi apapun. Raka dikenal sebagai murid yang paling pendiam di kelas bahasa. Dia nyaris tidak berbicara dengan siapapun di kelasnya. Saking bebalnya Raka, teman-temannya bahkan menjulukinya sebagai manusia anti sosial. Tapi Raka tidak peduli.

Raka menghilang, itu biasa. Tapi di tahun ketiga ini, persis seminggu sebelum salah satu rangkaian ujian akhir sekolah, wali kelas bahasa—Sensei—membentuk tim pencari untuk menemukan keberadaan Raka. Hana sang ketua kelas pun ditunjuk oleh Sensei untuk menjadi ketua kelompok Tim Pencari Raka (Tim Peka). Kenapa kali ini Sensei ingin mencari Raka? Dan kenapa Sensei justru melibatkan teman-teman sekelas Raka, tetapi tidak ingin melibatkan guru atau orang tua Raka? Berhasilkah Tim Peka menemukan Raka? Padahal mereka hanya punya waktu satu minggu saja, untuk menemukan Raka sebelum ujian dimulai.


Ide Cerita Unik

Ide cerita Mencari Jejak Caraka ini mengingatkanku dengan tiga buku terbitan penerbit Indiva juga, Altitude 3676 Tahta Mahameru, Altitude 3159 Miquelli, dan Altitude 3088 Rengganis. Ya, dan ketiganya dari penulis yang sama. Ketiganya tentang petualangan ke berbagai tempat, termasuk pendakian. Pantes sih, aku juga kerasan bacanya, hahaha

Aku suka ide cerita seperti ini, karena pembaca akan diajak berpetualang ke berbagai tempat menarik. Bagi orang sepertiku yang tidak punya fisik tangguh untuk naik gunung, bisa naik gunung itu impian. Jadi, kalau orang benar-benar berpetualang secara fisik, maka aku berpetualang lewat tulisan. Oh iya, di masa pendemi sekarang ini, buku dengan ide seperti ini juga bisa jadi alternatif sih. Bisa tetap berpetualang ke berbagai tempat tanpa harus benar-benar datang. Atau, mungkin nanti setelah pendemi usai, bisa benar-benar datang ke tempat-tempat menarik itu.


Cerita dari Dua Sudut Pandang Karakter

Novel ini dibuka dengan prolog yang menarik. Situasi tegang sudah disajikan oleh penulis sejak awal. Rasa empati pembaca juga mulai ditarik dari penggambaran sosok Raka yang mengalami masalah luar biasa besar hingga dia nyaris mengalami kejadian tragis. Jadi, seberapa besar sih masalah yang dialami Raka ini?

Cerita dalam novel ini disajikan dengan dua sudut pandang. Sudut pandang pertama adalah Hana bersama teman-temannya Tim Peka dan sudut pandang kedua, adalah Raka. Lebih detail lagi, sudut pandang Raka berasal dari jurnal catatan perjalanannya selama ini.

Selain Raka dan teman-temannya di kelas bahasa, ada beberapa nama karakter lain yang muncul. Jika Raka digambarkan sebagai manusia anti sosial di kelasnya, maka Hana sang ketua kelas sekaligus ketua Tim Peka diceritakan sebagai karakter yang sangat peduli dengan teman-temannya. Meski cewek, Hana bisa menunjukkan ketegasannya. Hal ini yang sepertinya membuat Hana cocok menjadi ketua kelas.

Selain Hana, ada karakter lain Tim Peka seperti Farel si ahli dunia digital tetapi mudah marah dan juga Alden si penengah. Selain itu ada juga karakter lain seperti Sia, Indira, dan Nata. Anggota Tim Peka ini dipilih langsung oleh Sensei. Dan mereka ini ternyata memiliki karakter yang berbeda-beda. Perbedaan karakter ini yang kemudian membuat konflik di antara mereka. Jadi, bukan hanya soal menemukan sosok Raka. Tetapi juga tentang persahabatan dan kekeluargaan di kelas Bahasa.


Hati-hati dengan Alurnya!

Saat membaca bab awal, sebenarnya aku agak bingung dengan alurnya. Beberapa kali harus melihat halaman sebelumnya untuk memastikan waktu, tanggal, dan juga tempatnya. Tapi, seiring waktu akhirnya terbiasa juga.

Alur yang digunakan oleh novel ini adalah maju mundur, dengan alur utama selama tujuh hari pencarian Raka. Tetapi, dalam sudut pandang Raka, alurnya terjadi jauh lebih lama dari itu. Dari catatannya, Raka bahkan sudah menulis dalam hitungan tahun. Yang memang agak membingungkan adalah catatan Raka. Meski sebenarnya ada waktu, tempat, dan tanggalnya, tapi akan lebih baik dan lebih mudah dipahami jika menggunakan jenis huruf yang berbeda, biar lebih mantap bacanya.

Tapi, meski alurnya maju-mundur, pembaca tidak akan dibuat bingung berlama-lama kok. Tiap cerita yang ditampilkan akan menjadi latar belakang cerita lainnya. Bahkan catatan Raka menjadi pengisi latar belakang pengalaman dari masing-masing Tim Peka saat berinteraksi dengan Raka.


Penutup, Quote Menarik Tiap Bab

Dari sepuluh bab novel ini, sebenarnya ada quote menarik di tiap awal babnya. Tapi yang paling menarik perhatianku justru di bab pertama. Awal yang sebenarnya adalah tujuan akhir dari perjalanan pencarian Raka:
Ketika kamu sakit, ingatlah satu hal. Kamu hanya sedang diberi kekuatan untuk bertahan. Kamu sedang diberi keistimewaan untuk mendapatkan hikmah. Kamu hanya sedang sangat disayang oleh Sang Pencipta.

Bahwa sebenarnya, dalam tiap perjalanan pasti ada waktunya untuk menemukan jalan pulang. Pesan moral yang aku temukan dari kisah Raka ini, adalah pentingnya mengungkapkan sesuatu. Bercerita atau menulis ternyata bisa jadi salah satu cara untuk menyembuhkan luka. Meski tidak selalu langsung terlihat hasilnya, tapi Raka yang menulis lewat jurnalnya adalah usahanya untuk bertahan. Selain itu, kisah persahabatan antara Raka dan Tim Peka juga bisa jadi pelajaran. Bahwa selalu ada teman yang sebenarnya siap membantu. Meski ditinggalkan, ternyata tetap masih ada orang-orang terdekat yang siap membantu dan peduli, asal mau membuka diri. Dan seperti quote di atas, saat merasa tidak ada satupun yang masih peduli, percayalah, masih ada Allah tidak pernah meninggalkan kita.

belakang Mencari jejak Caraka

Terakhir, seperti biasa, buku GEN Z ini adalah makananku beberapa bulan terakhir. Rasanya menyenangkan bisa berpetualang kembali ke masa-masa remaja. Tidak hanya aman dibaca remaja saja, buku GEN Z ini masih aman dan layak untuk semua usia. Sampai jumpa di tulisan lainnya.
Review Novel - Mencari Jejak Caraka (I’ir Hikma) Review Novel - Mencari Jejak Caraka (I’ir Hikma) Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

2 komentar:

  1. Buku buku ku lenyap separuh karena rayap. Banyak yang belum aku baca juga.

    (╥﹏╥)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm ... ya udah beli lagi yg baru. Itung2 bantuin para penulis, biar bisa tetep dapet royalti

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.