Book, Love, Life, Coffee, and Friendship

Halo, nama saya Bening Pertiwi. Nama asli, tapi versi singkat. Sebelumnya pernah juga menggunakan nama pena. Karena enggak sesuai dengan karakter saya, akhirnya diganti deh. Kira-kira begitu perkenalan singkat yang ... kesekian. Dan kali ini saatnya menantang diri sendiri untuk menulis perkenalan yang ‘baru’. 

gambar laptop dan kopi di meja
Sumber: freepik

Sssst! Maaf kalau nanti akan lebih banyak curhatnya daripada kenalannya. Tolong dimaafkan ya. 

Blog beningpertiwi.blogspot.com sudah eksis sejak 2014. Kalau mau cerita lebih jauh, saat itu saya punya dua blog. Satu blog khusus berhubungan dengan hoby saya menonton dan menulis tentang dorama atau drama Jepang. (alamatnya udah enggak ada, soalnya domain enggak diperpanjang, hehe). Dan blog ini adalah khusus blog pribadi. Seperti namanya ‘blog pribadi’, memang isinya hal-hal pribadi. Beberapa tulisan lama, puisi, curhatan, cerita perjalanan, review produk, fanfiction, bahkan flash fiction ada dan menjadi isi dari blog ini. Jadi jangan heran jika memang isinya gado-gado campur aduk. 

Flashback ke zaman mahasiswa dulu, seseorang pernah bertanya, ‘Kenapa tidak membuat blog yang sesuai dengan bidang yang kamu pelajari?’ Ya, saat itu saya masih berkutat dengan angka, rumus, teori, dan segala macamnya. Kalau melihat kartu mahasiswa, ada tulisan ‘fisika’ di sana. Tapi entah kenapa, saya enggan mengikuti saran itu. Alih-alih, saya justru lebih tertarik menuliskan hal lain dibanding hal yang saya tekuni secara resmi. Bukan berarti tidak cinta dan tidak sayang pada jurusan sendiri. Hanya saja ... ‘Masa iya, sepanjang hari sudah berkutat dengan rumus dan angka, lalu blog pun isinya rumus dan angka, hahahaha’. Hal-hal lain ini yang kemudian menjadi keseharian saya. 

Pernah ada kawan yang bertanya ‘Kamu masih nulis?’, bertahun-tahun setelah kami berpisah dari bangku kuliah. Dan ya, pertanyaan ini pernah saya jawab dan ulas cukup panjang di postingan alasan menulis. ‘Ya, saya masih menulis. Kenapa?’ Justru pertanyaan itu saya ajukan balik pada mereka. Ada sebuah gelitik rusuh dalam hati, ‘Pertanyaan itu hanya basa basi saja, atau pertanyaan serius?’ Tidak penting basa-basi atau serius. Nyatanya, pertanyaan itu yang seringkali melecutkan keinginan saya untuk kembali pulang. Ya, menulis seperti sebuah jalan pulang bagi saya. Ada saja alasan untuk tetap menulis. Ada saja hal yang memaksa saya untuk kembali menulis. Apapun itu, nyatanya menulis memberikan rasa nyaman. Selalu ada hal-hal yang membuat saya kembali menulis. 

Kadang, kalau iseng membaca tulisan-tulisan lama, ada gelitik lucu di sana. ‘Ya ampun, tulisan gue sejelek ini sih.’ Tapi nyatanya urung dihapus juga. Saya akhirnya tetap membiarkan tulisan itu ada di sana. Membiarkannya jadi pengingat, kalau tulisan itu pernah saya buat. Entah siapa yang membacanya. 

Akhirnya, blog ini memang berisi tulisan dengan sebagian besar catatan pribadi saya sejak bertahun silam. Dan ya, catatan pribadi itu yang ternyata berhasil mengantarkan saya jadi punya buku solo. Setelah buku antologi bersama beberapa kawan di komunitas, kesempatan kedua datang untuk menuliskan buku solo. Dengan tema yang saya ambil, ternyata ada banyak tulisan dalam blog ini yang sangat sesuai dengan tema si calon buku. Tidak butuh waktu lama, hingga beberapa tulisan pun saya turunkan dari blog ini, kemudian masuk area penyuntingan hingga jadilah sebuah naskah utuh. Dan naskah utuh itu terbit di tahun 2019 dengan judul ‘Are You the One?’ terbitan Diva Press. (Yang penasaran sama buku ini, cek langsung ke penerbitnya ya, hehehe) 

gambar buku are you the one

Dari terbitnya buku inilah saya kemudian belajar pentingnya ‘personal branding’. Ternyata tugas mempromosikan suatu produk, bukan semata tugas tim marketing penerbit saja. Justru peran penulis sangat besar di sana. Saya sadar diri, kalau level sama belum sama seperti Tere Liye dan Raditya Dika. Apalah saya ini, yang Cuma serpihan roti—remah rengginang, belum ada apa-apanya. Karena itulah, saya perlu untuk membangun sebuah image atau penampilan. Dan ternyata untuk bisa mendapatkan semua itu, bukan hal yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. 

Personal branding butuh konsistensi dan usaha yang terus menerus. Bohong kalau penulis tidak ingin tulisannya dikenal. Bohong kalau menulis hanya ingin menyenangkan hati saja, melegakan hati saja. Semua berubah. Kalau menulis bisa bermanfaat untuk pembaca, kenapa menulis tidak bermanfaat juga untuk penulisnya? Kalau pembaca bisa menikmati isi buku dan tulisan dengan puas, kenapa penulis tidak bisa menikmati kucuran kenari yang masuk rekening mereka? Dan ya, saya tidak mengingkari kalau memang saat ini saya merasa perlu berubah. Blog ini tidak bisa begini saja. Harus ada yang berubah. 

Pada akhirnya, tujuan blog ini pun bergeser. Saya butuh dikenal. Blog ini berubah haluan menjadi ‘alat’ personal branding yang tengah saya lakukan. Karena itu, pada postingan beberapa bulan terakhir, saya lebih banyak membuat ulasan buku. Ini sama seperti pada instagram saya, dengan nama yang sama. Saya butuh pengakuan, itu fakta. Saya ingin orang mengenal blog ‘bening pertiwi’ sebagai pengulas buku, orang yang sering membahas soal buku, tulisan, dan menulis. Dengan tujuan akhir, mereka mengenal dan menikmati tulisan saya bukan hanya dari blog ini saja, tapi juga media yang lain. 

Dan untuk mencapai semua itu, memang masih banyak hal yang harus saya benahi. Salah satunya domain. Seperti blog lama yang satunya, blog ini sepertinya butuh domain pribadi. Menjelang akhir tahun ini, ada beberapa penawaran menarik terkait hosting dan domain. Apa kali ini saya benar-benar harus merealisasikannya? Tentu dengan segala konsekuensinya. Tidak hanya soal materi untuk membayar jasa hosting dan domain saja. Tapi juga energi untuk bisa membuat postingan yang konsisten, kriuk dan dibutuhkan oleh pembaca. 

Tapi, btw ... meski memang niche utama blog ini tentang buku, saya tetap tidak akan menutup peluang tulisan lainnya. Seperti tagline blog ini, ‘book, love, life, coffee, and friendship’, saya tetap akan menulis hal-hal menyenangkan lainnya. Selamat menjelajah lebih jauh ^_^ 

Jangan lupa juga mampir dan follow instagram saya ya, @bening_pertiwi
Book, Love, Life, Coffee, and Friendship Book, Love, Life, Coffee, and Friendship Reviewed by Bening Pertiwi on November 24, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.