Review Buku – Sang Pewarta

Ini adalah buku kedua penulis Aru Armando yang saya baca. Gegara baca si ‘Kertas Hitam’ akhirnya tergoda juga untuk membaca buku sebelumnya. Cerita tentang si Satrio ‘Tomi’ Utomo sebelum berpetualang di Kertas Hitam. Lets check! 

Oh iya, yang mau cek juga review sebelumnya, langsung mampir Review Kertas Hitam part 1 dan Review Kertas Hitam part 2 ini ya. 

gambar sampul depan buku sang pewarta

Judul: Sang Pewarta (Cinta, Konspirasi, Investigasi) 
Penulis: Aru Armando 
Penerbit: Penerbit Shofia 
ISBN : 979-602-5862-18-2 
Jumlah halaman : vi + 318 halaman 
Cetakan pertama : April 2019 

Tomi, seorang sarjana hukum yang memilih bekerja sebagai wartawan, melibatkan diri dalam investigasi dugaan penyelewengan proyek pengadaan alat kesehatan di suatu kementerian. Fakta demi fakta, bukti demi bukti, ia kumpul dan rangkai untuk diungkap dalam laporan khusus media tempatnya bekerja. Namun, kian dalam ia menggali sumur informasi, kian dalam pula ia berada dalam lubang hitang yang telah lama menganga di tanah air ini. Tangan-tangan rahasia bekerja dan tak seorang pun yang tahu apakah dirinya pahlawan, korban, ataukan pecundang yang nyata. 

Sementara itu, Dara, perempuan yang hatinya tertambat untuk Tomi, justru bagian dari Kantor Hukum pengacara rekanan perusahaan pemenang tender yang diduga bermasalah. Kantor Hukum tak tinggal diam dengan liputan-liputan yang menyudutkan kliennya. Bisakah cinta, yang juga bekerja secara rahasia, menyatukan mereka? Siapakah pahlawan, korban, atau pecundang di dalam semesta cinta? 

Novel ini adalah novel pertama yang menceritakan kisah Satrio ‘Tomi’ Utomo, sang wartawan. Seperti judulnya, novel ini memang membahas kisah Tomi saat bergelut menjadi wartawan harian Suara Nasional. Sebagai wartawan baru, bisa dibilang sepak terjang Tomi gemilang. Apalagi dia mendapatkan kesempatan untuk meliput salah satu berita penting di negeri ini. Insting wartawannya dan pengetahuannya yang luas di bidang hukum banyak membantu Tomi dalam prosesnya melakukan liputan. 

Kulit demi kulit fakta dikupas oleh Tomi satu per satu. Dukungan dari pemimpin redaksinya dan partner sesama wartawan cukup banyak membantu Tomi dalam segala proses investigasinya. Dan seperti diungkap dalam ringkasan di akhir buku, ternyata semakin dalam Tomi mencari, semakin gelap fakta yang ia peroleh. Tanpa sadar, nyawa Tomi pun jadi sasaran. 

Seperti judulnya, novel ini memang benar-benar menyajikan kehidupan wartawan. Saya memang tidak tahu persis seperti apa seorang wartawan bekerja, jadi tidak bisa membandingkannya. Tapi dari kacamata seorang Tomi, pembaca akan diajak berpetualang dengan segala keribetan dan keabnormalan jam kerja seorang wartawan. Meski demikian, nyatanya di akhir pekan Tomi masih bisa menikmati jam normalnya para pekerja, dengan jalan-jalan, makan di warung burjo bahkan makan siang bersama gebetan. 

Sebagai novel awal pengenalan tokoh Tomi, novel ini bisa dibilang cukup berhasil menghadirkan karakter Tomi dengan gemilang. Tomi sang wartawan yang cerdas ternyata juga memiliki beberapa kekurangan. Dan kekurangan ini ditampilkan dengan ciamik, hingga jadi celah menarik yang nantinya dibahas di novel kedua, ‘Kertas Hitam’. (saya sudah pernah membuat ulasannya). Dan seperti dugaan saya saat menuliskan review Kertas Hitam, saat membaca Sang Pewarta ini saya bisa mengenal sosok Tomi lebih dalam. Serta latar belakang yang dia miliki sebagai seorang wartawan super. 

gambar sampul belakang buku sang pewarta


Jika dibandingkan dengan novel kedua, novel pertama ini lebih selow. Kehidupan Tomi sebagai wartawan digambarkan dengan normal dan wajar. Jika di novel Sang Pewarta ini ketegangan fisik baru saja dimulai pertengahan buku hingga ke belakang, maka pada novel Kertas Hitam, pembaca sudah akan diberikan ketegangan sejak awal bab pertama. 

Kalau bicara keruntutan cerita dan logika cerita, maka novel pertama dibangun dengan logika cerita yang rapi. Karakter demi karakter dikenalkan dengan baik. Kehidupan tampak normal dan wajar, serta dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan novel kedua, Kertas Hitam yang memang lebih banyak menyajikan adegan aksi serta ketegangan tidak biasa. Nuansa ketegangan dan suspense memang lebih terasa pada novel Kertas Hitam. Meski demikian, ini tidak menghilangkan daya tarik karakter Tomi untuk dikenal lebih jauh. 

Secara tema, kedua novel ini, Kertas Hitam dan Sang Pewarta mengusung tema yang sama, ‘white colar crime’. Hanya saja pengungkapannya dengan cara yang agak berbeda. Dan seperti Kertas Hitam, Sang Pewarta juga menawarkan penyelesaian yang agak menggantung. Pada akhirnya, tidak semua hal benar-benar harus diungkapkan secara gamblang dan lengkap ke publik. 

Selain cerita dan penggambaran karakter yang menarik, saya juga suka gaya bahasa penulis. Bukan melulu menggunakan bahasa dan penjelasan rumit. Nyatanya, istilah-istilah kewartawanan dan hukum yang digunakan, dijelaskan dengan cara yang sederhana serta mudah dimengerti oleh orang yang awam dalam kedua bidang itu. Bisa dibilang, bahkan orang yang tidak ngerti hukum maupun kewartawanan tetap bisa menikmati novel ini. 

Jika dibandingkan dengan Kertas Hitam, Sang Pewarta ini memang sedikit lebih tebal. Jadi, pastikan untuk menyediakan waktu lebih banyak untuk menikmati novel ini dan berpetualang bersama Tomi. Karena pada novel kedua, endingnya terbuka, saya berharap ada novel berikutnya yang lebih menantang. Selamat membaca. 

Review Buku – Sang Pewarta Review Buku – Sang Pewarta Reviewed by Bening Pertiwi on November 28, 2020 Rating: 5

16 komentar:

  1. Kehidupan wartawan yg saya dapatkan dr review mbak Bening, saya duga keseharian nyatanya gak jauh-jauh seperti itu atau bisa seperti itu dengan syarat: hidupnya lurus dan berani. Hihihi, jadi tukang terawang dadakan. Maaf, ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah ini syarat berat nih, harus hidup lurus dan berani, hehe

      Hapus
  2. mbak,ini ngereview novel atau membandingkan novel ini dg novel sblm nya? soalnya maaf bgt aku ngerasa lbh ke ulasan pembanding...maaf ya kalo aku slh 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini lebih tepat namanya curhat, mbak
      #jadimalu

      Hapus
  3. Wah sepertinya penghadiran sudut pandang dari novel ini cukup baik ya mbak, apa isinya seperti alur detektif seperti itu atau tidak ya? 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa dibilang, iya, mbak. ada investigasi gitu. tapi enggak sedetektif-detektif banget sih, soalnya karakter utamanya kan wartawan. investigasinya ini lebih umum

      Hapus
  4. Senapsaran nih sama cerita novelnya. Ini buku Sang Pewarta apakah saling nyambung di novel berikutnya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm, sebenarnya di buku dua (Kertas Hitam) kunci masalahnya beda, mbak. enggak harus baca novel Sang Pewarta dulu sih, bisa kok dinikmati sebagai cerita terpisah. tapi kalau ingin kenal lebih jauh dengan karakter si tokoh utamanya, ya baca Sang pewarta.

      Hapus
  5. Lewat novel kita jadi dapat pandangan ya bagaimana pekerjaan wartawan ternyata tidak mudah, biar terasa nyata penulis harus banyak riset biar novelnya terasa lebih nyata ya

    BalasHapus
  6. Jadi penasaran ada masalah apa di sini, gimana beliau jadi wartawan gemilang? Kayanya aku bakal masukin novel ini ke list bacaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalah orang2 kerah putih, mbak.
      Yg mungkin bagi masyarakat biasa, enggak terjangkau

      Hapus
  7. Aku jadi pengen baca bukunya sepertinya seru^^ kalau buku kertas hitam sudah di review kah mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah, mbak. Kertas hitam juga sudah direview. Link ada di paragraf pertama, di atas

      Hapus
  8. Dari cerita nya kebayang tu jurnalis2 dari media besar seperti reuters, the guardian, associated press, tempo yang mengungkapkan kasus2 besar dan menjadi whistle blower. Jadi penasaran saya dengan novelnya setelah membaca reviewnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia. Enggak heran profesi wartawan penuh bahaya, apalagi mengungkap skandal besar

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.