Review Buku - Sayang, Kapan Kita Nikah?

Ada yang langsung tertohok saat pertama kali membaca judul buku ini? Kalau begitu, kita sama. Membaca awalnya saja, sudah bikin panas dingin. Bukan karena bingung mencari jawabannya. Melainkan karena saat jawabannya sudah ditemukan, maka akan bermunculan pertanyaan baru yang butuh jawaban lainnya. 

Sayang, Kapan Kita Nikah? 

Penulis: Mhd. Rois Almaududy 
Penerbit: @semesta_hikmah
ISBN : 978-602-6210-11-1 
Jumlah halaman : 226 halaman 
Cetakan pertama : 2016 

"Ketika kita menyimak cerita cinta, kita akan selalu mendapatkan tiga warna, yaitu pemujaan, ketaatan, dan pengorbanan. Dari dulu, begitulah cinta. Tak pandang siapa, para pencinta sama saja. Penempatannya saja yang berbeda." (Hal 36) 

Bicara soal pacaran dan cinta, jadi dua hal yang tidak terpisahkan. Tapi, benarkah hubungan pacaran benar-benar didasarkan cinta? Cinta yang murni, tidak butuh pembuktian apel malam minggu ataupun memberikan barang-barang mahal. Lebih dari itu semua, cinta yang murni berasal dari hati yang murni pula. Jadi, seperti apa cintamu? 

Lazimnya pacara, tidak jadi jaminan akan langgengnya ikatan pernikahan. Pun sebaliknya, perkenalan yang terburu-buru tanpa didasari niat yang lurus dan dengan cara yang baik, juga tidak menjadi jaminan kekalnya ikatan. 

Buku ini membedah urusan cinta dari soal pacaran hingga cara mencari pasangan. Dari soal niat hingga masalah-masalah yang mungkin saja timbul saat proses pencarian, proses menuju walimah bahkan setelah walimah. Nyatanya, ada begitu banyak hal yang memang harus disiapkan. Dan itu jelas menjadi tanggungjawab semua orang, pria maupun wanita. Tidak bisa membebankan segala persiapan hanya pada satu pihak saja dan membiarkan pihak yang lain tanpa persiapan. Karena pernikahan bukan melulu soal keindahan dan wangi bunga. Menikah artinya siap memulai kehidupan baru dengan segala hiruk pikuk, ombak dan karang tajam dan tentu saja keindahan yang berlandaskan cinta murni dari-Nya. 

Jangan terburu-buru merasa berbunga-bunga ketika seseorang berkata bahwa dia mencintaimu karena Allah SWT. Tanyakan dulu, apakah ia paham apa yang diucapkannya. Jangan-jangan, dia cuma latah: didengarnya orang lain mengucapkan hal serupa, tersimak indah di telinganya, lalu ia pun ikut-ikutan mengatakan, padahal sama sekali tidak paham. (Hal 95) 

Kutipan menarik di halaman 95 ini membuat kita wajib berpikir ulang dan menelaah kembali. Sebelum benar-benar memaknainya sebagai sebuah pengikat, pastikan hati sudah bersih dan murni dari segala napsu. Pastikan tahu benar dan paham ilmunya. Agar apa yang diucapkan bukan hanya omong kosong belaka. 

Bagian terakhir dari review buku 'Sayang, kapan kita nikah?' nih. Jadi ada banyak quote-quote manarik dari buku ini. 

Jangan sampai kita menyia-nyiakan keagungan pernikahan dengan niat yang bengkok. Perhatikanlah niat kita dalam dua hal. Pertama, niat ketika ingin menikah. Kedua, niat ketika kita memilih calon istri atau suami. (Hal 109) 

Orang yang bersegera menikah, ia berusaha mempersiapkan bekal pernikahannya, kemudian menikah setelah siap. Adapun orang yang tergesa-gesa, ia tidak memikirkan persiapan, hanya berpikir bagaimana agar cepat menikah. (Hal 117). 

Jadi, menyegerakan bukan mentergesai. 

Pernikahan itu karunia Allah SWT. Bila sudah tiba waktu yang tepat menurut-Nya, seseorang pasti akan dituntun-Nya untuk menikah. Soal kapan waktunya, hanya Allah SWT yang tahu. Tugas kita adalah berniat dan mempersiapkan. (Hal 132) 

Review Buku - Sayang, Kapan Kita Nikah? Review Buku - Sayang, Kapan Kita Nikah? Reviewed by Bening Pertiwi on Agustus 18, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.