Review Buku - Fighting, Son Seng Nim!

Terbit cukup lama tapi baru sempat baca sekarang, hehe. Dan tiga hari ini lumayan bermanfaat juga deh, karena cukup untuk menyelesaikan 391 halaman. Meski kadang curi-curi juga sih, pengen cepetan baca endingnya. Tapi bukan berarti tidak menikmati prosesnya lho ya, Cuma penasaran aja sih. Oke, ayok kita mulai ghibahin buku kali ini. 

Sampul buku fighting son seng nim

Judul: Fighting, Son Seng Nim! 
Penulis: Nuraisah H 
Penerbit: Penerbit Indiva Media Kreasi 
ISBN : 978-602-1614-50-1 
Jumlah halaman : 392 halaman 
Cetakan pertama : September 2016 

Seperti dua tulis di prolog di atas, tiga hari weekend ini jadi salah satu yang bermanfaat. 391 atau lengkapnya 392 halaman berhasil gue tuntaskan dengan nikmat. Sebuah pencapaian yang menyenangkan, mengingat sekarang membaca perlu dipaksa lebih dulu. Karena ya ... ternyata banyak hal yang terpaksa harus mendapat perhatian lebih dalam skala prioritas. 

Dibuka degan konflik yang dialami tokoh utama novel ini, Fatimah Az Zahra, seorang guru yang terpaksa harus pindah tempat mengajar lantaran keputusan sang kepala sekolah sekaligus pemilik yayasan. Konflik yang disajikan ini terasa apik dan begitu dekat. Well, seperti itu kira-kira yang dirasakan oleh orang kaya gue, yang juga nggak jauh-jauh dari dunia pendidikan. Perubahan dan berada di tempat baru, dengan orang baru dan situasi baru, memang kadang membutuhkan energi ekstra. 

Cerita berlanjut dengan keseharian sang ‘Son Seng Nim’ atau guru—dalam bahasa Korea—saat harus berinteraksi dengan siswa maupun orang tua siswa. Ada banyak fakta baru yang memang baru gue tahu saat membaca novel ini. Memang beda sekolah, beda juga cara mereka memberikan layanan pada siswanya. Dan ini benar-benar terasa. Gue nggak menyalahkan satu atau membenarkan metode yang dilakukan suatu sekolah dan sekolah lain. Tapi dari novel ini gue merasa memang perbedaan yang ada begitu besar. Dari fasilitas sekolah, kualitas—latar belakang pendidikan—guru-guru mereka hingga servis yang diberikan pada orang tua siswa. Benar-benar berbeda. Dan jangan protes jika hasilnya juga berbeda. Rasanya seperti sudah ada ‘pakem’ tersendiri bagi mereka—guru-guru dan sekolah internasional—dalam kurikulum mereka, hingga lulusannya pun benar-benar berbeda. 

Ada satu buku yang pernah gue baca beberapa tahun silam, milik Ghina Amanda, judulnya Asonde Kurete, Arigatou! (Penerbit Diva Press, 2014) dengan tema yang sama. Jika Asonde Kurete lebih ke catatan perjalanan penulisnya saat magang di sebuah TK saat ia berada di Jepang, maka Fighting, Son Seng Nim adalah cerita fiksi yang diramu penulis tentang sebuah TK Korea. Unik, jelas. Keduanya menceritakan apa saja yang terjadi saat di TK dari dua budaya berbeda. Meski jelas keduanya berbeda, yang satu non fiksi dan satu lagi fiksi, tapi kisah yang ada di kedua buku ini seperti menarik gue pada sudut pandang yang berbeda soal pendidikan di level dasar. Bahwa mengajar anak level dasar (PAUD, TK dan kawan-kawannya) ternyata jauh lebih sulit dibandingkan mengajar di level lebih atas. Tanpa mengurangi rasa hormat pada guru-guru lain, tapi pendidikan di TK menempatkan guru-gurunya benar-benar seperti orang tua kedua. Yang tidak hanya ngerti cara mengajar, tapi juga paham serta mengerti perkembangan si anak. Nggak heran sih, kalau di TK satu kelas bisa dipegang beberapa guru sekaligus. Karena memang nggak mungkin mengasuh anak-anak yang unik ini dengan cara yang sama begitu saja. 

Btw, kayaknya gue juga pernah bahas yang Asonde Kurete, Arigatou deh. Tapi di postingan yang mana ya? Entar deh, gue cari dulu ya. Seriusan ini, lupa entah yang mana. 

Oke, kembali ke cerita. Pada novel Fighting, Son Seng Nim diceritakan suka-dukanya guru mengajar. Tidak hanya saat menyenangkan saja, tapi juga saat nggak enaknya. Interaksi Fatimah sang tokoh utama dengan kawan-kawan sesama guru Indonesia maupun guru Korea sudah menjadi konflik tersendiri. Dan semua itu dibawakan dengan mengalir. Pembahasan soal budaya, bahasa, cara pandang, agama bahkan cara berpakaian pun dibahas santai dan ngalir gitu aja. Tanpa harus memojokkan ataupun membuat yang lain tampak unggul sedang yang lain biasa saja. Hal ini yang membuat pembaca kek gue merasa nyaman aja, karena tidak seperti tengah digurui ataupun dihakimi. 

Kalau ditanya bagian yang bikin sedih ya hubungan antara Fatimah dengan ibunya. Lalu hubungan cinta Fatimah dengan sang pacar yang akhirnya kandas. Dan semua itu tetap dibalut dengan manisnya persahabatan beda budaya pada guru serta interaksi mereka dengan para siswa. Serius, gue menikmati setiap bagian novel ini. Ngalir gitu aja. 

Meski memang, tetap ada beberapa bagian yang menurut gue nggak tuntas sih. Contohnya karakter Esty, yang ada awal cerita digambarkan sebagai sahabat Fatimah. Tapi hingga akhir, ternyata tidak ada pembahasan lagi tentang Esty ini. Kan sayang banget. Memang sih, ada kawan-kawan baru buat Fatimah, tapi ya nggak gitu juga dengan tanpa kejelasan hingga ending. Lalu masalah dengan imigrasi juga cukup menarik perhatian gue. Ini benar-benar baru. Ya meski dalam beberapa drama/film ada juga sih hal seperti ini, tapi baru kali ini dibahas di novel—yang gue baca—. Dan akhirnya gue Cuma bisa bilang, ‘oh jadi gitu ya’. Oh iya, untuk urusan imigrasi ini juga ada satu yang kayaknya nggak selesai ya. Soal surat perjanjian antara Fatimah dengan sang kepala sekolah. Terlewatkah? 

Perubahan yang menarik terjadi pada karakter Fatimah. Sekali lagi, gue suka karena tidak serta merta dan tiba-tiba. Ada proses yang terjadi. Interaksi dengan kawan-kawannya hingga masalah yang datang serta dialami Fatimah membuatnya banyak berubah. Intinya sih, semua orang berhak untuk berubah menjadi lebih baik. 

Untuk urusan tata bahasa, gue selalu acungi jempol pada Indiva yang memang selalu rapi. Makannya nunggu novel baru terbitan Indiva itu suka bikin lumutan sendiri, saking lamanya. Tapi penantian itu yang layak sih, karena memang rapi. Dari sekian halaman yang gue baca, gue hanya menemukan dua typo saja, untuk dua huruf saja. Jauh lah dibanding...eh nggak usah dibandingkan lah ya. 

Kalau pertanyaannya bagian yang enggak gue suka, mungkin beberapa bagian di dua bab terakhir. Soal pengetahuan Fatima yang agak maksa sih, hehe. Well ... dia masih proses berubah sih, jadi itu rasanya agak terlalu cepat. Tapi cerita ditutup dengan manis, bahwa tidak selalu ‘pangeran menjemput putri, mereka menikah dan bahagia selamanya’. Ending novel ini lebih bisa diterima sih, bahwa tiap orang punya ceritanya masing-masing. Dan tidak ada hal untuk memaksakan satu hal pada yang lain. Berbeda bukan berarti alasan untuk tidak menghargai. Dan urusan menikah itu ... tetaplah menjadi misteri, yang baru akan terkuak pada saat yang tepat. Hoi ... urusan hidup nggak Cuma ending saat elo nikah. Karena nikah itu justru awal yang baru untuk mengarungi samudra luas yang semakin beragam situasi dan kondisinya nantinya. Keren. 

Oke, segitu dulu ghibahin novel di blog ini. Kali ini jadi satu postingan aja deh. Biar lebih panjang aja. Sampai jumpa di ghibahin buku lainnya.
Review Buku - Fighting, Son Seng Nim! Review Buku - Fighting, Son Seng Nim! Reviewed by Bening Pertiwi on Agustus 03, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.