Resensi Negara Kelima – Sebuah Keresahan (part 2)

Kalau pada tulian sebelumnya, saya membahas tentang karakter Timur yang muncul secara visual dalam Oka Antara di serial Brata, maka kali ini saya akan membahas tentang isi buku ‘Negara Kelima’. Tenang, saya akan berusaha tidak membuat spoiler kok. Paling-paling kebanyakan curhat, hehehe 

Gambar sampul negara kelima
 
Judul: Negara Kelima 
Penulis: E.S Ito 
Penerbit: Penerbit Serambi Ilmu Semesta 
ISBN : 979-16-0095-3 
Jumlah halaman : 518 halaman 
Cetakan pertama : Oktober 2005 


Seperti ada di tulisan sebelumnya, membaca ‘Negara Kelima’ ini bukanlah yang pertama bagi saya. Tapi yang bukan pertama ini pun ternyata tidak membuat pesonanya kikis apalagi hilang. Nyatanya, 500sekian halaman pun tetap lahap dan habis tuntas dibaca. Jika pada artikel sebelumnya saya membahas tentang tokoh Timur (meski tanpa membahas tokoh lainnya), maka pada tulisan ini saya ingin membahas sebagian isinya. 

Seperti novel bergenre suspense lainnya, Negara Kelima juga menghadirkan kasus kematian sebagai pemicu munculnya puzzle-puzzle yang nantinya akan disusun sebagai penyelesaian, pada bab pertama. Kasus ini kemudian berkembang dan terhubung dengan sebuah organisasi bernama ‘Kelompok Patrotik Radikal’ atau Keparad, pake ‘d’ ya. 

Apa yang penting bagi sebuah kasus? Motif atau alasan. Situasi di TKP membawa karakter Timur dan polisi lainnya untuk memburu motif kematian. Dan Keparad jadi salah satu benang merahnya, bahkan ‘pelaku’nya, secara tidak langsung. Dan semua itu butuh latar belakang kuat. Kali ini penulis membuatkan latar belakang ‘sejarah’ bagi Keparad. 

Penelusuran Timur dan partnernya, Eva Duani membawa mereka dalam petualiangan sejarah yang cukup panjang. Tentu dengan tujuan awal, mengungkap kematian pada bab pertama—yang sempat merembet juga pada kematian lain di bab-bab berikutnya—dan menemukan pelaku pembunuhan itu. Tidak tanggung-tanggung, om E.S Ito mengajak pembaca berpetualang—lewat Timur dan Eva—ke masa sekian ribu tahun yang lalu. Tepatnya sebelar ribu tahun yang lalu. Cukup uwow kan ... 

Jadi, jangan heran kalau buku ini cukup panjang. Selain memunculkan kisah pencarian Timur dan mendadak menjad buronan, buku ini juga menyajikan fakta-fakta sejarah yang cukup baru bagi saja. Menariknya, semua fakta sejarah dalam buku ini memiliki benang merahnya masing-masing, yang semuanya terhubung secara rapi dan runtut. Ada awal dan akhirnya, ada tujuan yang perlu dicapai. 

Ada perbedaan menarik saat membaca buku ini bertahun silam dan beberapa hari yang lalu. Oke, ini curhat. Jadi, saat membacanya sekian tahun silam, ketertarikan saya akan fakta-fakta yang dipaparkan dalam buku ini cukup tinggi. Sayangnya, saat itu kepopuleran internet untuk mencari informasi belum didukung dengan perangkat memadai—bagi saya—. Alhasil, banyak fakta-fakta yang akhrinya Cuma saya terima saja, ‘oh, begitu’. 

Berbeda dengan saat ini. Dengan mudah informasi dilacak dan dicari dalam hitungan seper sekian detik saja. Dan akhirnya saya menyadari, wow ... begitu luas dan detailnya E.S Ito membuat dunia bernama ‘Negara Kelima’ dengan segala kedetailan dan fakta sejarahnya. 

Jadi gini, memang benar ada banyak fakta sejarah yang muncul dalam buku ini. Tetapi, tidak sedikit juga hal-hal yang muncul sebagai ‘fakta’ hanya di buku ini saja, alias hanya fiksi di dunia nyata. Bukan hal yang aneh, mengingat buku ini memang sebuah novel, karya fiksi. Hanya saja, saya cukup terkejut dengan kedetailan ceritanya dan kemampuan penulis untuk meramu semua fakta itu dan mengisi kekosongan antaranya dengan fakta imajinasi yang dibuatnya. Menarik. 

Memang, kalau membaca lebih detail, ada beberapa hal yang kurang teliti. Misalnya angka tahun. Beberapa kali saya harus membaca ulang untuk memastikan angka tahun yang tertera. Dan memang ternyata keliru. Nggak salah sih, Cuma kan agak ganggu karena jadi kurang logis ceritanya. Meski memang, bilangan angka itu tidak berselisih banyak. 

Satu lagi fakta yang membuat saya tak berhenti terkesan adalah ... kepopuleran internet yang sudah disebutkan berulang kali dalam novel ini. Novel ini terbit tahun 2005, yang otomatis ditulis sebelum itu. Tetapi saat dibaca di masa sekarang, rasanya fakta teknologi dalam novel ini tidak terlalu tertinggal jauh. Kecuali bagian ponsel pintar, hehe. Yang jelas, masih pantes lah dibaca di masa kini. Kecuali om E.S Ito berniat menuliskan ulang novel ini, menyesuaikannya dengan teknologi masa ini. Ya ... karena memang di tahun 2004-2005, internet baru memulai kepopulerannya di Indonesia. Jadi, jika buku ini sudah menjadikannya ‘hal biasa’, maka imajinasi penulis memang sudah bertahun lebih jauh dibanding saat menulis novel ini. 

Btw, saya bukan fans ‘deskripsi’. Jadi, kalau cerita terlalu banyak deskripsi, saya cenderung bosan. Karenanya, ada beberapa bagian dari novel ini—terutama deskripsi—yan sengaja saya lewatkan. Saya pasrahkan saja imajinasi terbatas itu di otak saya untuk mencerna setiap deskripsi yang ada, tanpa berniat merusak bentuk aslinya. Dan saya berharap ada kesempatan bisa menyamakan imajinasi ‘benda-benda’ yang dideskripsikan dalam novel ini dengan sang penulisnya. 

Pesan saya, jangan terkecoh dengan fakta-fakta sejarah di dalamya. Cek lagi dan pastikan mana yang fakta asli dan mana yang fakta fiksi, hehehe. Sekian, sampai jumpa di tulisan lainnya.
Resensi Negara Kelima – Sebuah Keresahan (part 2) Resensi Negara Kelima – Sebuah Keresahan (part 2) Reviewed by Bening Pertiwi on Juni 30, 2020 Rating: 5

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.