Resensi - Buku ‘Anak Hilang’ yang bikin Betah

Kalau pekan lalu gue bahas Sandhyalaka ning Majapahit karya Sanoesi Pane, kali ini buku kedua yang masih sangat memberikan kesan saat gue SMP adalah Kembalinya si Anak Hilang. Sama seperti Sandhyakala ning Majapahit, buku ini juga gue temukan di selempitan buku-buku lama milik perpustakaan. Jangan ditanya bentuknya. Eh tapi yang ini masih mending sih. Karena dicetak dengan kertas HVS, meski sudah kusut dan kusam, tapi kertasnya masih terhitung putih, errr ... abu-abu sih sepertinya. 
Halaman sampul kembalinya si anak hilang

Kembalinya si Anak Hilang ditulis oleh Jawastin Hasugian dan diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka tahun 1982. Sebagai buku yang ditujukan untuk anak sekolah, 68 halaman bukanlah kategori buku tebal ya. Dan tahun 1982 sampai gue baca buku ini jedanya berarti ... sekitar 25 tahunan. 

Bagi gue yang masih SMP saat itu, cerita karakter Heru dari buku Kembalinya si Anak Hilang ini menarik. Sisi pemberontakan remaja setingkat SMA ditunjukkan dengan lugas oleh karakternya. Termasuk hubungan antara Heru dengan teman-temannya, guru di sekolahnya, keluarga dan saudaranya. Btw, gue nggak akan bahas secara lengkap isi dari buku ini ya, baca sendiri aja, hehe 

Selain Kembalinya si Anak Hilang, ada juga buku yang punya judul mirip, Hilanglah si Anak Hilang. Gue juga pernah baca buku itu, uwoooo. Dan saat ditelusuri, buku Hilanglah si Anak Hilang ternyata terbit lebih jadul dibanding Kembalinya Si Anak Hilang. Tidak ada hubungan apapun antara kedua buku ini. Meskipun judulnya hanya berbeda bagian depannya saja. 

Berbeda dengan Kembalinya si Anak Hilang yang bukunya masih lumayan bagus, buku Hilanglah si Anak Hilang lebih mbluthuk, dengan kertasnya yang khas sudang menguning. Sebenarnya, ada juga buku asing dengan judul yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘Hilanglah si Anak Hilang’ . Tapi yang akan gue bahas kali ini, yang versi Indonesia. Judul boleh sama, tapi isinya jelas beda ya. 

Hilanglah si Anak Hilang ditulis oleh Nasjah Djamin yang awalnya terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar mingguan Minggu Pagi di Yogyakarya tahun 1960. Nah baru di tahun 1963 naskah cerita bersambung ini diterbitkan menjadi novel oleh Penerbit Nusantara, Bukittinggi. Pada tahun 1977, novel ini mengalami cetak ulang oleh Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta. Baru pada tahun 1993, novel ini diterbitkan oleh Penerbit balai Pustaka. Sebagai novel yang memang diperuntukkan untuk anak sekolah, novel ini tidak terlalu panjang, hanya 80 halaman. Ada sepuluh bab dalam nnovel ini yang tidak ditandai dengan judul bab, tetapi angka arab yang dibesarkan dan ditebalkan. 

Hilanglah si anak Hilang menceritakan karakter aku (Kuning) yang mengalami konflik dalam dirinya dan keluarganya. Cerita tentang kehidupan Kuning sebagai pelukis diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Hmmm ... gue nggak akan bahas secara detail cerita ini ya. Baca sendiri aja. 

Nah, itu tadi dua buku ‘Si Anak Hilang’ yang menarik perhatian gue semasa SMP dulu. Nggak tahu juga sih, tapi kedua buku ini menarik perhatian gue dan bertahan dalam ingatan gue hingga hari ini. Sekali lagi gue katakan ya, postinga ini sifatnya curhat aja, bukan review buku. Jadi nggak sudah ngarep ulasan detail dan dalam. Tapi kalau mau ikutan komentar juga boleh kok. 

Jadi kangen perpustakaan SMP deh. Kalau masa SMA buku apa aja yang gue baca ya? Kayaknya perlu pembahasan khusus juga nih. Sampai juga di postingan lainnya. 

Resensi - Buku ‘Anak Hilang’ yang bikin Betah Resensi - Buku ‘Anak Hilang’ yang bikin Betah Reviewed by Bening Pertiwi on Mei 05, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.