Resensi - Aku dan Sandhyakala ning Majapahit

Halo, akhir-akhir ini emang lagi tertarik aja dengan sejarah. Sebenarnya, lebih tepat disebut kembali tertarik. Kalau beberapa hari kemarin lebih banyak berpetualang di wattpad, berkunjung dari satu akun ke akun lain, sekadar menjelajahi cerita tentang sejarah Majapahit dan Prambanan. Entah, hingga saat ini hanya dua hal itu yang menarik dan mudah ditemukan. Hmmm ... rasanya belum menemukan cerita dengan latar belakang lain. Wah, kebanyakan prolog nih. 

Halaman sampul sandyakala ning majapahit

Seperti biasa, ini tulisan ringan bin curhat aja sih. Bukan tipe tulisan serius dengan sumber dan pembahasan yang mendalam.

Nggak sengaja, keinget aja sih sama salah satu buku yang gue baca di perpustakaan SMP bertahun silam. Jadi, kerakusan gue untuk membaca saat itu nggak cukup ditenangkan dengan majalah ataupun buku-buku cerita rakyat biasa. Dan alhasil, nemenin guru penjaga perpus, gue pun menggeradaki buku-buku lain—yang dari tampilannya aja udah buluk—yang menurut gue lebih menarik. Dan gue pun menemukan sebuah buku dengan judul Sandyakala ning Majapahit.

Kata Majapahit bukan hal baru bagi gue, karena sudah berkali-kali muncul di buku pelajaran sejarah maupun dalam cerita guru IPS gue. Tapi Sendyakala—yang sangat dekat dengan kata senja—belum pernah benar-benar dibahas di kelas. Yang gue pahami adalah, tahun runtuhnya Majapahit yang ditandai dengan sengkalan ‘Sirna Ilang Kertaning Bumi’ atau diartikan tahun 1400. Tapi tidak dengan cerita lebih detailnya. Nah, buku yang gue temukan waktu itu, seperti memberikan cerita yang lain.

Jangan tanya bentuknya seperti apa. Sampul dan sebagian besar kertasnya sudah menguning. Bahkan jilidannya pun sudah lepas. Nggak inget persis sih, gimana reaksi guru penjaga perpustakaan saat gue mengajukan peminjaman atas buku itu.

Waktu gue buka, ternyata itu adalah sebuah naskah drama yang dijadikan sebuah buku. Jadi, gini deh ringkasan isinya.

Sendyakala ning Majapahit adalah naskah drama yang ditulis salah seorang sastrawan pujangga lama, Sanusi Pane tahun 1930-an. Awalnya, naskah drama ini dimuat secara bersambung pada majalah Timbul nomer 1 hingga 6, tahun VII, 1932 dan nomor 3-4 tahun 1933. Sekian tahun kemudian, atas inisiatif Ajib Rosidi, tahun 1971 naskah drama ini diterbitkan kembali oleh Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta dalam bentuk buku. Karena ‘laris’ buku ini pun cetak ulang pada tahun 1976 dan menjadi buku bacaan wajib anak sekolah. Dan yang gue baca ini, kemungkinan yang versi 1976. Bisa dibayangkan ya, buku berusia lebih dari 30 tahun itu (saat gue baca).

Drama Sandyakala ning Majapahit ini terdiri dari lima babak. Seperti judulnya, naskah ini membahas waktu sekitar runtuhnya kerajaan Majapahit. Kalau sesuai sengkalan yang ada, berarti sekitar abad 14. Dan sumber penulisannya adalah Serat Pararaton, Serat Kanda, Serat Damarwoelan, dan Babad Blambangan. Dan seperti halnya ‘drama’ yang merupakan hasil karya fiksi, ada tokoh utama dalam naskah ini, dia adalah karakter Damarwulan. Ada banyak versi Damarwulan yang selama ini gue kenal. Dan salah satu ceritanya ya yang ada di naskah drama ini. Meski memang, ending tokoh ini tidaklah sama dengan sumbernya, yaitu Serat Damarwoelan. Nggak sudah protes, namanya juga cerita fiksi.

Banyak tokoh sastra yang pada akhirnya sudah membahas mengenai isi buku ini. Tapi di sini gue nggak akan bahas hal itu ya, soalnya gue kan bukan ahlinya.

Satu hal yang masih membuat gue terkesan adalah, entah bagaimana gue bisa paham dengan isi naskah drama ini. Jelas, dari segi bahasa, bahasa yang digunakan saat itu berbeda jauh dengan bahasa yang biasa gue pakai sehari-hari. Well, sebenarnya cukup mengejutkan juga sih, karena gue (yang saat itu masih SMP) ternyata bertahan dan bisa menyelesaikan hingga halaman terakhir naskah drama ini.

Oh ya, selain Sandyakala ning Majapahit, sebenarnya ada beberapa buku lain yang juga pernah gue baca dari Perpustakaan SMP. Nanti deh di postingan lainnya. Sampai jumpa di postingan lainnya.

(gambar diambil dari google)


Resensi - Aku dan Sandhyakala ning Majapahit Resensi - Aku dan Sandhyakala ning Majapahit Reviewed by Bening Pertiwi on Mei 01, 2020 Rating: 5

2 komentar:

  1. Gilak, smp aja masih ingat baca apaan. Gue aja lupa udah berapa kali upacara pas smp.

    Gud job. Lanjutkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kekekeke
      Inget lah, soalnya bukunya udah buluk, judulnya unik, dan nama penulisnya pernah dibahas sm guru b.indo
      Bentar, gue kumpulin ingatan lagi soal buku lainnnya ya 🙈

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.