Pelatihan Esai di Balai Bahasa DIY

Daftar Isi [Tampil]
    Halo, akhirnya bisa nulis lagi. Jadi, kali ini cerita tentang perjalanan gue ke Yogyakarta—yang bikin kangen—pada sekitar pekan ketiga bulan Oktober.

    pelatihan esai

    22-23 Oktober 2019, nama gue masuk dan terdaftar sebagai pelatihan penulisan Esai di Balai Bahasa Yogyakarta. Acaranya Selasa-Rabu dong. Jadi, gue Cuma bisa izin dua hari. Jadi, gue berangkat dari rumah hari Senin malam dengan travel sekitar jam 8an lah. Dan sampai Yogya sekitar jam 3an pagi.

    Hari pertama, Selasa 22 Oktober 2019

    Satu hal yang sangat gue syukuri dari ojek online adalah kemudahan dalam mendapatkan layanannya. Yup, hari pertama gue pesan ojek online untuk datang ke BB-DIY. Ehm ... jujur, gue enggak tahu posisi ini kantor di mana. Dan gue baru ngeh saat kang ojek mengantarkan gue, lewat stasiun Tugu. Olala ... ternyata tempatnya dekat dari stasiun Tugu.

    Gue nyampe tempatnya cukup awal. Jadi, belum banyak yang ikut. Celingak-celinguk, kok kebanyakan orang berseragam ya? Ehm, ternyata peserta acara ini dibagi dua. Sebagian adalah guru-guru dan tenaga lain yang diundang secara khusus. Mereka ini domisili Yogyakarta. Gue? Gue adalah peserta umum yang terdampar di sini. Btw ... sepertinya gue peserta paling jauh nih.

    Setelah pembukaan, tim dibagi jadi dua kelompok. Dan gue masuk kelompok umum. Kami pindah ke ruangan bawah. Materi pertama diskusi literasi bersama pegiat literasi dari Gunung Kidul. Dilanjut materi tentang Esai.

    Setelah istirahat siang, materi dilanjutkan sekaligus praktik. Dan ... sejujurnya, lama enggak nulis, ternyata membuat tangan gue benar-benar kaku. Rasanya aneh aja sih, kembali menulis. Oh ya, gue kenalan dengan seorang mahasiswa asal Yogya yang juga ikut acara ini. Saat orang lain berpikir gue adalah guru bahasa dan mereka dibuat heran karena ternyata gue guru Fisika, masih ada kebetulan lainnya. Mahasiswi kenalan gue ini ternyata bekerja di iberia. Iya, situs berita tempat dulu gue juga pernah kerja. Dan untuk membuatnya makin yakin, gue tunjukkin deh file-file iberita yang masih tersimpan rapih di laptop gue.

    Hari pertam berakhir jam 4an. Satu per satu para peserta pulang. Gue udah hubungi seorang kawan. Gue kira, dia akan jemput gue dan kita jalan kemanaaaaa gitu. Olala, ternyata enggak. Ya udah, gue putuskan pulang aja ke tempat nginep. Eh ternyata pintu dikunci. Hmmm ... belum berakhir aja nih. Akhirnya—dengan ojek lagi—gue pun menuju rumah kawan gue itu. Panas, capek, lengkap lah. Malamnya, kita akhirnya keluar makan di rumah makan. Dan gue naksir berat dengan tongseng jamurnya yang ... sllllrrrrp, bikin nagih.

    Hari kedua, Rabu 23 Oktober 2019

    Hari kedua, lebih nyantai sih. Gue bahkan diantarkan oleh orang yang rumahnya gue inepi. Sampai di sana masih cukup pagi. Dan kegiata hari kedua ini ... full praktik. Serius ya, lama enggak nulis benar-benar bikin kaku. Butuh setengah hari-an lebih untuk menyelesaikan lima halaman esai. Esai yang sudah jadi ini akhirnya dikumpulkan. Dan nantinya akan diambil 10 besar untuk diterbitkan. Sejujurnya, gue enggak yakin dengan tulisan gue. Tapi ya ... tulis aja lah. Semoga tulisan gue layak terbit.

    Acara hari kedua selesai jam 4an. Sedikit lebih cepat dari jadwal. Yogya masih terang benderang dong. Tergoda buat jalan-jalan, apalagi sudah dekat dengan malioboro? Jelas! Tapi gue enggak bisa gitu.

    Setelah dapat ojek, gue langsung cuzzzz ke pusat oleh-oleh. Ini penting. Bisa ribet dan ribut nantinya kalau enggak ada yang dibawa. Yang bagus aja jadi bahan omongan, apalagi yang enggak bagus. Selesai dari pusat oleh-oleh, membelah kemacetan, gue pun balik ke tempat nginep. Mandi, beberes dan ... masih bisa santai ternyata.

    Malamnya, gue balik ke rumah dengan travel yang sama seperti saat berangkat. Tentu dengan tentengan yang lebih banyak dari awalnya. Oh ya, tas baru juga, hehehehe.

    Penutup

    Setelah sekian lama, gue memang merasa ini jadi kesempatan menyenangkan untuk belajar lagi. Gue memang perlu berkumpul bersama para penulis dan pembelajar lagi, kalau memang harus menulis lagi. Dan satu hal yang menggelitik gue adalah ... gimana gue nantinya bisa menularkan hasil pelatihan menulis esai ini—sebagai guru—pada murid-murid gue. Justru itu yang sebenarnya jadi PR besar gue.

    Oke, sampai jumpa di cerita lainnya. Seee u

    Tidak ada komentar:

    Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Blognya Bening Pertiwi. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

    Note :

    Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.

    Diberdayakan oleh Blogger.