Soal Tawangmangu Tidak Pernah Seserius Ini

Nggak ada yang seserius pagi kali ini. Semilir yang merambat pelan di antara anak rambut yang belum tersentuh air dan shampo, tetiba mengingatkan waktu yang tidak akan bisa tertebus oleh apapun lagi. Ya, entah kenapa tetiba saja kenangan soal perjalanan di Tawangmangu kembali membias. Ah, rasanya sulit dicerna dan dipercaya ya?

 
Seperti ini rasanya. Meninggalkan terik dan panasnya kota Solo, rasanya tak perlu jaket atau baju tebal apapun. Pun saat melewati perbatasan masuk kota Karanganyar yang jalannya membelah jadi dua. Lalu alun-alun kabupaten yang ramai di akhir minggu. Kemudian melaju ke arah lampu merah penghabisan hingga tidak ada lagi jalur motor. Hanya untuk—beberapa langkah setelahnya—menemui jalan bercabang. Tinggal pilih saja, kanan atau kiri. Kanan jalur Tawangmangu lewat Ngargoyoso—jalur desa, lebih sepi tapi jalannya agak sempit—dan kiri jalur tawangmangu lewat jalur utama—jalur kota, lebih ramai tapi jalannya luas--. Hingga sampai di SPBU sebelum terminal. SPBU terakhir sebelum naik. Ah ya, ada baiknya mengisi bahan bakar di sini. supaya tidak repot mencari SPBU nanti di atas.

Selepas SPBU, lampu merah dan terminal, ambil jalur kanan menuju Tawangmangu. Karena jalur kiri menuju full magic alis kebak kramat. Setelah lewat sini, udara perlahan berubah menjadi lebih dingin. Angin dingin perlahan mengalir. Ah ... dan dari sini cerita mengalir.

Seperti yang sudah-sudah, Tawangmangu selalu ikut ambil bagian dalam cerita tak bernama ini. Di bagian mana pun. Di waktu dan tempat manapun. Selalu ada cerita di sana. Dan pada akhirnya, rasa rindu bukan hanya kepada orangnya saja. Tapi juga pada waktu bersamanya, momen bersamanya, tempat yang pernah dikunjungi bersama, makanan yang dinikmati bersama, makanan yang dibenci ataupun disukainya serta banyak perasaan yang sempat tertebar bersamanya.

Seperti hari itu. Duduk berdua di sisi pendopo. Menatap tanaman putri malu yang berbaur dengan sejumlah pepohonan taman di depannya. Dan kita hanya terhalang tiang. Saling bersandar pada tiang. Berharap, tiang hanya sekadar formalitas. Bicara soal ujian yang tidak disampaikan kabarnya. Bicara soal ujian yang semakin memperlebar jarak antara kita. Hingga setelahnya ... waktu dan jarak benar-benar makin melebar hingga tidak mampu terlampaui lagi. Hingga tidak ada lagi alasan untuk melewati waktu dan jarak yang terlanjur menjauh itu. Tapi hanya itu saja, tidak lebih.

Soal Tawangmangu tidak pernah seserius ini. “Desemberku selalu pilu’, cerita kala itu. Semoga tidak ada lagi pilu di Desembermu. Semoga yang jadi kenangan tetap jadi kenangan. Semoga kenangan ini tidak pernah hilang. Bahkan meski hanya salah satu antara kita yang mengingatnya.
Soal Tawangmangu Tidak Pernah Seserius Ini Soal Tawangmangu Tidak Pernah Seserius Ini Reviewed by Bening Pertiwi on Desember 13, 2018 Rating: 5

8 komentar:

  1. sp sih na? *kedipkedip#desembertakkanlagipilu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiraaaaaa
      Kangeeeeen
      Ini cm cerita lama aja 😅😅😅

      Hapus
    2. Na......#hug
      ap kbr?

      sp tau cerita lama ni bisa jd novel^^

      Hapus
    3. Alhamdulillah baik, msih klebihan bbrp lapis lemak d pinggang ini 😅
      Na sering kangen bisa nulis lama kyak dulu lagi. Tapi bsok udh harus blik gawe lagi

      Hapus
    4. wah, kudu diet nih hbis liburan.....

      iyakk Na, kdng butuh mood yg bagus u nulls lg ^^

      Hapus
    5. Ingin kuyus, tapi hobi makan. Apalah ini 😂😂😂

      Hapus
  2. Ayo kakak kakak, semangat nulis lagi, hehe.. aku juga sama, baru beberapa bulan ini semangat nulis lagi, karna baru di acc adsense sih, hihi..

    Mampir dong kaak..
    www.kyndaerim.com

    Makasiih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, salam kenal.
      Terimakasih udah mampir, komen dan berbagi semangat 😅
      Keren ih bisa acc adsense

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.