Kisah yang (pernah) Benar-benar Ada di November-Desember

Kita bicara soal apa yang disebut masa lalu oleh sebagian orang. Dan sebagian yang lain menyebutkan sebagai kenangan. Lalu sisanya yang tidak seberapa menyebutkan sebagai kenyataan.

 
Kemudian, dari masa lalu, kenangan dan kenyataan itu, sebagian menganggapnya sebagai sumber ketakutan dan hantu menyeramkan. Tapi yang lain terus saja menangisinya dan enggan untuk beranjak dari sana. Hanya sebagian kecil saja yang sudah bisa menerimanya, memahaminya sebagai sebuah kenyataan hingga menertawakannya seperti melihat film komedi garing di waktu lampau.

Seperti akhir November—awal Desember yang basah, seperti itu juga kisah ini. Tidak pernah ada awalnya. Pun tidak pernah ada akhir dan ujungnya. Hanya ada, begitu saja. Bahkan tidak jelas, siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya dan siapa pemeran antagonisnya. Alurnya sendiri tidak mengatakan semuanya. Tidak memiliki prolog, perkenalan, klimaks, penyelesaian masalah hingga epilog. Hanya ada, begitu saja.

Satu hal yang pasti dari kisah ini, adalah dua hal. Pertama, kisah ini benar pernah ada. Dan kedua, kisah ini terjadi pada akhir November—awal Desember di sebuah musim.

Rasanya? Ah, jadi sekarang kita bicara soal rasa? Baiklah. Masih ingat sejuknya musim gugur dan dinginnya musim salju di sebagian belahan bumi?—meski tidak ada di sini—seperti itulah kisah ini. Sulit dikatakan. Karena memang, cerianya musim semi dan hangatnya musim panas terasa begitu singkat dan lewat saja. Tapi, tetap saja, kisah ini pernah benar-benar ada.


Kisah yang (pernah) Benar-benar Ada di November-Desember Kisah yang (pernah) Benar-benar Ada di November-Desember Reviewed by Bening Pertiwi on November 24, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.