Menulis Bisa Sendirian,Tapi ...

Menulis bisa sendirian, tapi menjadi penulis butuh teman. Ada yang ingat kalimat ini? Beberapa tahun lalu, kalimat ini sering wara-wiri lantaran dipopulerkan oleh komunitas Kampus Fiksi. Sebuah komunitas kepenulisan yang melatih penulis dan mewadahi penulis, yang digagas oleh penerbit Diva Press. 
Saya pernah berkesempatan untuk ikut kegiatan Kampus Fiksi ini juga, dua kali pula. Pertama menulis non fiksi dan kedua menulis fiksi. Pesertanya? Dari seluruh Indonesia. Tidak jarang ada teman-teman dari luar pulau Jawa bahkan sengaja datang untuk bisa ikut. Dan lagi, antriannya pun tidak kalah panjang. 

Oke, cukup nostalgianya, hehe 

Jadi, entah bagaimana kalimat ini muncul lagi dan mengusik saya. Iya, ya, menulis itu memang bisa dilakukan sendirian. Tapi menjadi penulis butuh teman. Menjadi penulis butuh orang lain. Untuk apa? banyak hal yang bisa dilakukan dengan adanya teman ini. Jadi pembaca pertama, editor, pemberi masukan, pemberi kritik, pemberi semangat, dll 

Semenjak tidak lagi di Solo, menjadi penulis di sini ternyata cukup berat. Tahun 2015-2016 dulu, masih mending karena masih konek dengan beberapa teman dari Solo. Dari mereka saya masih mendapatkan informasi sekaligus kesempatan menulis ‘bersama teman’ Tapi setelah itu, satu per satu koneksi pun terputus. Alasan? Ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak kesibukan yang mau tidak mau jadi pengalih perhatian. Akibatnya? Kangen saat punya teman yang model seperti itu lagi 

Kalau diingat-ingat, terakhir buat konten untuk blog (dan dibayar) itu tahun 2016. Setelah itu kesibukan yang lebih banyak menyita. Meski setelah itu sempat punya dua naskah sih yang jadi buku. Tapi rasanya beda aja. Kalau buku yang prosesnya panjang, nunggunya panjang, terbitnya masih lama dan panennya juga lama. Hehehe. Sementara itu, kalau konten blog/web kan buatnya lebih cepat dan panennya juga enggak perlu nunggu terlalu lama. Dasar aku. 

Tapi yang aneh, beberapa kali kesempatan kembali menulis konten di blog/web ternyata saya abaikan. Padahal kangen nulis model ini lagi. Alasan? Lama nggak nulis, takut nggak bisa konsisten dan ngejar target. Soalnya nulis konten kan target banget. Masalahnya, kalau lagi sepi gini, akhirnya kangen kan nulis konten lagi. Sekarang? Karena sudah jarang nulis akhirnya tulisan jadi kaku. Kecepatan mengetik pun banyak berkurang. Apalah aku ini. 

Dari tadi ngeluh terus ya. Tapi serius ini, kangen buat tulisan buat konten lagi. Dulu belum banyak orang yang bekerja di bidang ini. Tapi sekarang? Saingan banyak banget cuy. Ada nggak sih buat konten yang lumayan santai, nggak harus dikejar dateline? Dasar aku! Kebanyakan mau. 

Tapi memang sih, kalau Cuma gini-gini aja ya nggak ada perubahan. Pada akhirnya, yang namanya penulis (apapun profesi resminya) memang butuh teman. Teman dalam bentuk apapun. Teman ..., hehehehe
Menulis Bisa Sendirian,Tapi ... Menulis Bisa Sendirian,Tapi ... Reviewed by Bening Pertiwi on September 14, 2020 Rating: 5

2 komentar:

  1. Aku juga ingin jadi penulis rasanya,


    tapi apa jadi designer? tapi kayaknya gagal :(

    dan aku bingung.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.