Flash Fiction – Bohong

“Kenapa kau terus saja berbohong seperti itu?”

Jelas bisa kubedakan kalau mata itu tidak mengatakan kejujuran. Seperti yang telah lalu dan kemudian di lain hari. Seperti rapal pagi yang tak pernah kau lewatkan, kebohongan itu pun perlahan jadi kebiasaanmu. Hingga pada akhirnya, tidak ada bedanya lagi. Mana kebohonganmu dan mana kejujuranmu.

“Sudah telanjur.”
Begitu katamu tiap kali rentetan protes terus saja kudengungkan di telingamu. Meski pada akhirnya, dengungan itu bak angin lewat. Tidak pernah benar-benar berdengung di kepalamu, hingga kau mau mendengarkannya.

“Baiklah, akan kucoba.”

Tiap kali bulir bening nyaris mengalir dari sudut mataku, itu pula yang kau katakan. Meski nyatanya, tidak pernah berbeda dengan sebelumnya dan sebelumnya lagi. Kata-kata itu juga Cuma pemanis sembari kau ulurkan tanganmu menyapu leleran di pipiku.

“Aku lelah.” Ujarku akhirnya. Dan malam itu, pertama kalinya kukatakan kejujuran padamu. Karena selama ini, semuanya memang hanya bohong belaka.
Flash Fiction – Bohong Flash Fiction – Bohong Reviewed by Bening Pertiwi on Agustus 11, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.