Review Novel Muslihat Berlian (Tsugaeda)

Review Muslihat Berlian ini jadi ulasan novel berikutnya yang aku tulis. Oke, jadi cerita dulu, buku ini baru datang hari Minggu sore dan baru aku ambil Senin paginya. Belum sempat baca, hanya sempat buka sedikit. Dan sore ini, Selasa, kuhabiskan sekitar dua jam lebih sedikit untuk menjelajah 239 halamannya.

review novel muslihat berlian tsugaeda

Muslihat Berlian

Penulis: Tsugaeda
Penerbit: Penerbit One Peach Media
ISBN: 978-623-5515-20-5
Jumlah halaman: 239 halaman
Cetakan pertama: November 2021
Harga: Rp75.000,00


Jun ingin mengubah nasib. Gadis pujaannya tak mungkin mau menerimanya jika ia hanya orang biasa saja. Oleh karena itu, ia nekad keluar dari pekerjaannya dan memulai bisnisnya sendiri supaya kaya-raya. Namun, usahanya gagal dan justru mengantarkannya pada masalah besar.

Sekarang Jun terjebak pada konflik antara dua kelompok mafia. Agar selamat, ia harus setuju terlibat dalam pencurian berlian di sebuah bank. Akan tetapi, tidak ada yang bisa menjamin ia takkan celaka, walaupun berhasil melakukan misi berbahaya ini.


Sejujurnya, ada banyak hal yang ingin aku tulis setelah menyelesaikan membaca novel ini. Sampai bingung harus mulai dari mana. Oke, sambil mendinginkan kepala, aku mulai review Muslihat Berlian kali ini.


Sinopsis Muslihat Berlian

Mengikuti kata hatinya, demi sang gadis pujaan, Jun memilih mengundurkan diri dari bank tempatnya bekerja. Dia memang hanya mengagumi gadis itu dari jauh. Tapi keputusan gadis itu untuk pergi ke luar negeri, membuat satu tombol on dalam diri Jun pun menjadi aktif.

Dengan menguras seluruh tabungan dan deposito yang dimilikinya, Jun memulai kemandiriannya untuk ‘berkontribusi dalam perekonomian nasional’ (halaman 34). Investasi kripto, saham dan usaha bandeng jadi pilihan Jun. Sayangnya, hidup Jun berubah seratus delapan puluh derajat saat semua usahanya berakhir kosong melompong.

Belum cukup dengan kegagalah usahanya, kecerobohan Jun mencairkan deposito rahasianya ternyata membawa Jun ditangkap oleh kelompok mafia pimpinan Yasuo. Dan di sinilah, Jun terperangkap dalam konflik antara dua kelompok mafia besar.

Akhirnya, Jun pun dipaksa terlibat dalam urusan pencurian kuda milik si lawan bisnis hingga pembobolan berlian yang disimpan dalam brankas bank. Jun tidak bisa menolak. Karena menolak berarti kematian. Jun hanya bisa pasrah keluar dari mulut singa dan masuk mulut buaya.

Tapi, Jun harus bertahan hidup! Apalagi sebuah rahasia lama masa lalunya pun akhirnya terungkap. Sosok itu muncul, membawa Jun untuk menyadari siapa sebenarnya dirinya. Bisakah Jun keluar dari krisis besar kali ini? Bisakah Jun mencapai tujuan aslinya? Atau apakah Jun sebenarnya punya tujuan lain?


Aku Tertipu Judulnya: Berlian

Tiga novel penulis Tsugaeda sebelumnya (Rencana Besar, Efek Jera, dan Sudut Mati) bicara soal white colar crime dan investigasi terencana. Dan bisa diprediksi kan ya, isinya tentang kejahatan terstruktur yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di balik meja, dengan rapi dan terencana.

Waktu info pre order buku ini keluar, penulisnya pernah mengungkapkan kalau novel keempatnya kali ini berbeda dengan ketiga novel sebelumnya. Baik dari tokoh maupun tema ceritanya. Dan ternyata aku masih tertipu dengan hal itu.

Saat membaca judulnya, kupikir ini akan seperti novel-novel sebelumnya. Judulnya adalah bentuk kiasan dari cerita. Eh ternyata, novel kali ini benar-benar membahas soal berlian. Loh, jadi judulnya saja sudah mengatakan isi ceritanya, tentang berlian. Dan iya, kali ini aku tertipu dengan judulnya. Novel Muslihat Berlian ini memang benar-benar membahas tentang pencurian berlian, sama seperti judulnya.


Alur Cepat dan Plot Twist yang Menyenangkan

Kalau belajar dari novel penulis Tsugaeda sebelumnya yang sudah aku baca, harusnya aku tidak langsung percaya saja dengan karakter yang ada dalam cerita ini. Tapi, kali ini aku kembali tertipu dan dibuat cengo dengan endingnya.

Alur cerita Muslihat Berlian ini sendiri relatif cepat. Karakter Jun diceritakan sebagai sosok yang polos dan agak bego, tetapi juga cerdik. Atau kecerdikannya muncul karena kepepet? Kira-kira seperti itulah aku melihat sosok Jun.

Setelah keluar dari bank tempatnya bekerja, Jun menjadi pengusaha yang akhirnya gagal. Proses ini butuh waktu beberapa pekan saja. Cerita beralih pada Jun yang ditangkap oleh mafia pimpinan Yasuo. Cerita bergulir cepat lagi saat Jun yang tadinya menjadi pesuruh kelompok mafia pimpinan Yasuo berubah menjadi anak buah kelompok mafia lawan pimpinan Jim. Keluar dari mulut singa, masuk mulut buaya. Jim melakoni kehidupannya dalam beberapa hari saja berkali-kali dipukuli, dilempar dan nyaris mati saat ditangkap oleh kedua mafia secara bergantian.

Rasa-rasanya aku ingin melemparkan sandal ke kepala Jun, si tokoh utama. Bisa-bisanya dia bikin orang kasihan, tapi ternyata oh ternyata, dia jauh lebih licin daripada yang kubayangkan. Dan yang paling bikin kesal adalah plot twist di bagian endingnya. Dari awal membaca buku ini, aku tidak pernah berpikir kalau ada ada begitu banyak plot twist di sini. Oke, Jun, kamu aku maafkan kok.


Jun, Kid versi lokal

Karakter Jun awalnya dimunculkan sebagai tokoh yang polos dan naif. Apalagi alasannya keluar dari pekerjaannya dan menjadi pengusaha, hanya karena gadis pujaan yang bahkan tidak pernah ditembaknya, adalah alasan paling absurd yang pernah ada. (Pantas kalau Flo menertawakan alasan Jun ini)

Tapi saat mengikuti perjalanan Jun dari bab ke bab, aku mulai berpikir kalau Jun ini seperti karakter Kaito Kid yang ada di komik Magic Kaito dan Detective Conan. Kid adalah seorang anak dari pesulap terkenal Kaito Kuroba yang juga punya pekerjaan sampingan ‘pencuri di bawah cahaya bulan’. Dan Kid mengikuti jejak ayahnya ini.

Saat mengikuti cerita Jun, aku berpikir kalau Jun ini juga mengikuti jejak ayahnya, sang pencuri legendaris Rudi Rojas. Rasanya terlalu kebetulan kalau karakter Jun ini Cuma pemuda polos. Apalagi dia ahli sulap juga, seperti Kaito Kid. Dan kecurigaanku kali ini terjawab juga di bab akhir, tentang siapa dan bagaimana sebenarnya Jun ini.

Memang tidak bisa menyandingkan sepenuhnya karakter Jun dengan Kaito Kid. Tapi bagiku, Jun adalah karakter yang jauh lebih realistis. Tidak semua hal yang direncanakannnya berhasil. Dan tidak semua yang terlihat hitam benar hitam, atau putih tetap putih. Selalu ada sisi abu-abu di sini, ini yang jadi ciri khas Jun. Kemahiran Jun dalam negosiasi terhadap kedua pimpinan kelompok mafia juga patut diacungi jempol. Apakah saat bekerja di bank, ada juga pelatihan cara negosiasi ya?


Penutup

Menyelesaikan buku ini dalam dua jam lebih sedikit, adalah hal yang menyenangkan. Mengikuti perjalanan Jun saat harus dilempar bolak balik dari cengkeraman Yasuo dan juga Jim, membuat gemas. Rasanya aku tidak menyesal ikut pre order novel ini.

Tadinya aku berpikir kalau di akhir cerita, karakter Alisa akan muncul lagi, bukan sekadar nama saja. Sayangnya ternyata tidak. Tapi, ada satu karakter yang aku curigai di akhir cerita. Apakah karakter ini aslinya adalah Flo atau Alisa? Atau bahkan karakter baru? Atau bahkan kalau rencana yang disusun Jun selama ini, juga punya dalang cerita lainnya di baliknya. Rasanya akan jadi plot twist berlipat-lipat kalau begini.

Dan terakhir, aku harus bilang, Jun adalah karakter nekat yang cerdas. Tidak mungkin kecerdasan sang ayah tidak menurun pada Jun, meski dia tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan ya, aku masih ingin melempar sandal di kepala Jun untuk satu hal ini.

Terima kasih, Jun. karena sore ini sudah mengembalikan kerakusan membacaku kembali. Berharap Jun muncul di cerita lainnya, mungkin aku harus menahan diri soal ini. Karena sang penulis pernah bilang, akan hiatus dulu. Dan itu artinya, entah kapan aku bisa membaca petualangan Jun lagi. Semoga tidak terlalu lama ya.

Oh iya, Jun. Kalau kamu mau, kamu juga boleh mampir ke dalam ceritaku. Heheheh. Sampai jumpa di review buku lainnya. Tetap simak review buku menarik lainnya di https://www.beningpertiwi.com. Selamat membaca.

Note: ada banyak hal yang aslinya ingin aku tulis. Tapi ternyata yang terketik hanya 1000-lebih sekian kata ini. Nanti kalau aku ingat lagi, aku tambah deh, hehe

Review Novel Muslihat Berlian (Tsugaeda) Review Novel Muslihat Berlian (Tsugaeda) Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

26 komentar:

  1. Di bank, Jun bekerja sebagai apa? Teller, petugas CS,atau bankir? Trus, adakah hubungan antara gambar kuda di sampul buku dgn isi cerita? Bikin penasaran nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. baru nyadar kalau di sampul gambarnya kuda, hehehehe
      jelas ada hubungannya dong, antara kudo, jun dan bank
      pokoknya baca aja, seruuuu

      Hapus
  2. Malah galfok ke hal lain. Dua jam untuk 295 halaman?? Woww berapa halaman per menit itu kecepatan bacanya mbak 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukunya emang kelihatan tebal, tapi ternyata kertasnya yang lumayan tebal, jadi enggak terasa banyaknya
      aku kalau lagi kerasukan baca ya gini, mbak. emang kacau banget, hehehehe

      Hapus
  3. Numpang tanya juga: tipe alur cerita yang cepat karya Tsugaeda ini, miripkah dengan karya Dan Brown, Angel and Demon misalnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau disandingkan dengan angel and demon, mungkin enggak ya.
      lebih cocok dibandingkan dengan novel crime lokal
      tapi keseruannya enggak kalah dengan buku luar kok

      Hapus
  4. mba bening aku mau bilang mba bening patut bersyukur sebanyak banyaknya bisa anteng membaca dua jam tanpa ada gangguan hahahahah..... itu sebuah kenikmatan yang didambakan oleh mamak rempong spt saya tapi nyaris tak pernah terwujud.... ku rindu bisa baca buku selama itu tanpa dijeda.... lhaaa kok curhat wkwkwkwwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak. alhamdulillah masih punya kesempatan buat duduk manis membaca tanpa terganggu
      semoga tetap punya kesempatan ini seterusnya, hihihihi
      semoga mbak juga punya kesempatan untuk bisa baca dengan tenang, hehe

      Hapus
  5. Berapa halaman sih mba ini novelnya? cepet banget bacanya dua jam aja 🥺🥺🥺 pengen ih baca novel hepi lagi tanpa gangguan, skrg gangguannya drakoran mulu haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. 239 halaman aja kok, mbak. enggak terlalu tebel
      iya nih, drakor kadang enggak bisa diabaikan gitu aja,

      Hapus
  6. Kpn ya bs pnya me time buat baca lg…baru baca 2-3 halaman udh direcokin ma anak2…hikshiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau gitu, bacanya bareng anak aja, mbak. hehehe
      ya dua-tiga halaman, tiap hari juga udah bagus itu, enggak perlu sekali selesai kok

      Hapus
  7. Menarik bgt ulasan novelnya.. aku pribadi lbh suka komik ketimbang novel tapi aku jg suka baca.. ini brarti si Jun ga tau latar blkg ayahnya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, si jun awalnya enggak tahu soal ayahnya
      tapi ... ups, nanti spoiler dong

      Hapus
  8. Wuih menarik banget nih. Aku membayangkan baca ni mungkin sensasinya kaya baca detektif conan ya mbak. Beli ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku bayangin si kaito kid waktu baca buku ini, mbak
      lebih kerasa nyes-nya

      Hapus
  9. Penasaran alasan sebenarnya dibalik alasan absurd si Jun keluar dari bank, hehe. Bukunya ada kelanjutannya nggak mbak? Atau emang endingnya plot twist gini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, baca aja deh, takut spoiler
      sampai saat ini sih, belum ada lanjutannya
      enggak tahu tuh penulisnya

      Hapus
  10. Aku jadi penasaran itu gimana bisa dia malah terjebak sama jaringan mafia ya ampunnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. pokoknya seru ini, baca bukunya langsung aja, mbak, hehe

      Hapus
  11. Seru banget pasti bukunya sampai habis dibaca dalam waktu dua jam saja, padahal tebalnya hampir 300 halaman yaa..aku juga suka genre seperti ini seru kayak nonton film..

    BalasHapus
    Balasan
    1. seruuuu ... si jun ini kayak enggak ada capeknya, lanjut terus. yang baca juga gitu, lanjut terus, hehe

      Hapus
  12. Bikin gak berhenti membaca ya mba, ceritanya seru, Jun harus pontang panting karena bisnisnya hancur dan harus terlibat dg mafia, pasti bikin deg degan juga, kahirnya nasib jun gimana mba??

    BalasHapus
    Balasan
    1. bangeeet ... pokoknya si jun ini nyebelin, polos, eh tapi ternyata cerdas dan licik juga dia

      Hapus
  13. keren loh bisa baca novel 200an halaman dalam dua jam, bearti menarik banget ceritanya. kalo aku bisa berhari2 mba, gampang ngantuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau seru ya bisa selesai cepet ini
      kalau bosenin, ya lama sih
      sama aja, hehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.