Jalan-jalan – Candi Sambisari, Yogyakarta

Jadi, sebenarnya ini jalan-jalan udah cukup lama. Tapi biasa sih, males nulisnya. Sekarang mumpung lagi On, ditulis deh. Waktu itu sama sekali nggak ada rencana mampir ke sini sih. Tapi waktu maen ke tempat temen di Jogja, diajak ke sini. 

Menurut Wikipedia, candi yang dikenal sebagai Candi Sambisari ini termasuk candi Hindu (Siwa). Letaknya di Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta atau sekitar 12 km sebelah timur kota Yogyakarta ke arah Solo. Kalau dihitung dari komplek Candi Prambanan sekitar 4 km saja. Candi Sambisari ini dibangun pada abad ke-9, masa pemerintahan raja Rakai Garung pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Untuk masuk area candi ini, tidak mahal. Hanya dengan tariff tiga ribu rupiah saja, sudah bisa masuk. Tapi ini tidak termasuk parkir lho ya.
Sekilas, tidak akan terlihat menjulang seperti candi lainnya, karena candi ini terletak lebih rendah dari tanah sekitarnya, sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Ada kemungkinan candi ini telah tertimbun abu vulkanik merapi selama bertahun-tahun lamanya. Ini terlihat dari ditemukannya banyak material batu vulkanik di sektiar bangunan candi.

Candi ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1966 oleh seorang petani yang tengah mencangkul sawahnya. Cangkulnya saat itu memukul batu keras yang setelah dilihat ternyata memiliki ukiran. Butuh nyaris 21 tahun area ini diteliti hingga bentuk utuh candi bisa disatukan dan dilihat seperti sekarang ini.

Bangunan candi ini memang memiliki ukuran relatif kecil dibanding candi pada umumnya. areanya sekitar 50 m x 48 m, dikeliling pagar batu. Kompleks ini terdiri dari candi utama yang didampingi tiga candi perwara atau pendamping.
Saat masuk ke candi induk, bisa ditemukan hiasan berupa seekor singa yang berada dalam mulut makara (hewan ajaib dalam mitologi Hindu) yang menganga. Bentuk makara di Candi Sambisari dan merupakan perubahan dari bentuk aslinya, yakni makara di India yang bisa berupa perpaduan gajah dengan ikan atau buaya dengan ekor yang membengkok.

Setelah anak tangga terakhir pintu masuk candi utama, akan ditemukan selasar selebar sekitar 1 meter. Di sini, dijumpai tiga relung yang masing-masing berisi arca. Di bagian utara, terdapat arca Dewi Durga dengan delapan tangan yang masing-masing menggenggam senjata. Di bagian timur, ada arca Ganesha yang merupakan anak dari Dewi Durga. Sementara itu, di sisi selatan terdapat arca Agastya dengan aksamala (tasbih) yang dikalungkan di lehernya.

Jika melihat bilik candi induk, maka akan ditemukan lingga dan yoni dalam ukuran besar, sekitar 1,5 meter. Lingga dan yoni ini menunjukkan jika candi dibangun sebagai pemujaan untuk Dewa Siwa. Selain itu, lingga dan yoni di bilik candi induk juga dipakai untuk membuat air suci. Air yang diguyurkan pada lingga akan dibiarkan mengalir melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah.

Puas berkeliling candi induk, menuju arah barat, bisa ditemukan tiga candi perwara atau pendamping yang menghadap arah berlawanan. Diduga candi perwara ini sengaja dibangun tanpa atap, karena saat penggalian tidak ditemukan batu-batu yang merupakan bagian atap candi. Bagian dalam candi perwara tengah memiliki lapik bujur sangkar yang berhias naga dan padmasana (bunga teratai) berbentuk bulat cembung di atasnya. Kemungkinan, padmasana dan lapik dipakai sebagai tempat arca atau sesajen.

Puas jalan-jalan di area candi, saatnya foto-foto. Di bagian sisi candi, agak ke atas juga ada taman yang bisa jadi spot foto yang asyik. Oh ya, biar lebih meyakinkan lagi, perlu juga lho foto dengan latar belakang tulisan ‘candi sambisari’.

Asyik kan jalan-jalannya? Sampai jumpa di jalan-jalan lain ya. ^_^


Jalan-jalan – Candi Sambisari, Yogyakarta Jalan-jalan – Candi Sambisari, Yogyakarta Reviewed by Bening Pertiwi on Januari 30, 2016 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.