Review Buku Cilacap (1830-1942)

Daftar Isi [Tampil]
    Review Buku Cilacap (1830-1942) dari penulis Susanto Zuhdi ini punya arti cukup istimewa bagiku. Sebagai orang yang lama tinggal di Cilacap, rasanya agak malu juga karena tidak tahu sejarah daerah sendiri. Ya minimal hal-hal yang memang umum dikenal lah ya. 

    Pertama kali menemukan buku ini secara tidak sengaja di marketplace, saat berburu novel. Dan judul buku ini pun muncul, lalu masuk wishlist. Sayangnya, butuh waktu agak lama juga hingga akhirnya checkout. Setelah sampai pun, tidak langsung selesai dibaca, hahaha. Bukan karena bukunya tidak menarik. Tapi justru saking menariknya, jadi selalu merasa kalau mau baca buku ini, harus benar-benar fokus dan butuh waktu khusus. 

    So, ini ulasanku tentang buku Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa.

    review buku cilacap 1830 1942

    Cilacap (1830-1942)

    Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa

    Penulis: Susanto Zuhdi
    Penerbit: Penerbit Ombak
    ISBN: 978-602-258-407-0
    Jumlah halaman: 176 halaman
    Tahun terbit: 2016

    Sekilas Buku Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa

    Dari beberapa artikel yang kubaca, jadi buku ini sebenarnya adalah disertasi dari sang penulis, Dr. Susanto Zuhdi yang terbit sekitar 1991-an. Di tahun 2004 sendiri, tulisan ini juga sudah pernah diterbitkan sebagai buku di salah satu penerbit. Nah di 2016, sekian tahun kemudian buku ini juga Kembali terbit di penerbit lainnya.

    Dalam bukunya, penulis membagi pembahasan buku ini dalam lima bab utama. Seperti judulnya, bab dalam buku ini juga dimulai dari tahun 1830 hingga 1886 yang menjadi latar informasi pengisi bab pertama, Sebelum Kereta Api Prospek Pelabuhan dan Kebijakan Pemerintah Batavia.

    Melengkapi bab pertamanya, bab kedua berisi informasi setelah keberadaan kereta api, dengan judul Sesudah Pembukaan Kereta Api. Yang sayangnya tidak mencantumkan tahun. Pada bab ketiga, dilanjutkan dengan Depresi dan Pelabuhan Cilacap 1930-1940. 

    Periode waktu yang lebih pendek jika dibandingkan latar pada bab pertama dan kedua. Bab keempat kemudian diisi dengan Pertumbuhan dan Perkembangan kota Cilacap lalu Kota Pelabuhan Cilacap Menjelang Perang Pasifik sebagai bab penutup, atau bab kelima.


    Sejujurnya aku tidak membaca buku edisi pertamanya, karena langsung baca buku edisi keduanya ini. Jadi tidak bisa membandingkan secara detail perbedaan isinya. Tapi, dari gambar, tahun serta informasi lain yang dicantumkan, yang membedakan adalah keberadaan Masa Depan Pelabuhan Cilacap: Sebuah Epilog yang berada pada akhir buku.

    Sebagai sebuah buku yang merupakan hasil penelitian yang bukan baru, tidak berarti buku ini ketinggalan zaman. Buktinya, tiap versi terbitnya, buku ini telah mengalami penyuntingan ulang dan penambahan sejumlah informasi terbaru.

    Mengapa Buku Ini Menarik? Review Buku Cilacap (1830-1942)

    Seperti sudah disebutkan di atas, aku sebenarnya tidak terlalu paham soal sejarah Cilacap sendiri. Jadi, rasanya membaca buku ini nano-nano. Banyak informasi baru yang menurutku jauh lebih menarik dan sering bikin bilang ‘wow’ saat mencecap tiap halamannya.

    review buku cilacap 1830 1942

    Sebagai kabupaten terbesar di Jawa Tengah, Cilacap memiliki ceritanya sendiri. Bukan hanya soal keberadaan Pulau Nusakambangan yang terkenal itu, tapi juga soal ibukota kabupaten yang berada di ujung selatan kabupaten, bukan di tengah-tengahnya. 

    Sebagai warga Cilacap, rasanya tidak menampik kenyataan jika akses menuju ibukota kabupaten yang kurang strategis ini jadi masalah. Tapi, ya mau bagaimana lagi.

    Yang jadi pertanyaan, bagaimana kehidupan Cilacap di masa lampaunya? Buku Cilacap: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa memberikan informasi baru soal keberadaan pelabuhan. Sebenarnya bukan hal aneh sih, karena saat datang ke Cilacap, keberadaan pelabuhan Cilacap yang seringkali disinggahi kapal pengangkut minyak mentah adalah pemandangan yang biasa. Yang tidak biasa, Pelabuhan ini ternyata juga ada sejak masa lampaunya.

    Berbeda dengan pantai utara yang memiliki banyak kota-kota pelabuhan yang maju pada masa lalu hingga masa kini, maka kota-kota di sebelah selatan Pulau Jawa jauh lebih sepi meski sama-sama berhadapan dengan laut lepas. Salah satunya karena pantai utara lebih ‘tenang’ jika dibandingkan dengan pantai selatan yang lautnya lebih bergelombang karena berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.


    Meski kurang ‘dianggap’, nyatanya pemerintah Belanda saat itu pernah membangun pelabuhan di Cilacap. Meski tidak semeriah dan seramai pelabuhan di pantai utara, pelabuhan ini memang nyata adanya. Mungkin berhubungan juga dengan keberadaan pantai Nusakambangan yang sedikit banyak membantu agar laut lebih tenang.

    Karena keberadaannya yang di luar kebiasaan, seorang ahli sejarah ekonomi Dr. J. Thomas Lindblad bahkan sempat mengatakan jika pelabuhan Cilacap ini ‘salah letak’. Meski dalam perkembangannya, pelabuhan ini juga memberikan peran secara ekonomi dan politik bagi pemerintah Hindia Belanda saat itu. Sebagai buku yang mengalami alih bentuk dari disertasi, buku dari penulis Dr. Susanto Zuhdi ini membahas penelitian sejarah yang masih jarang dilakukan di Indonesia.

    Peran Pelabuhan Cilacap yang cukup penting dan bisa bersaing dengan pelabuhan-pelabuhan di pantai utara menjadi pendekatan yang digunakan penulis dari sisi ekonomi. Cilacap menjadi salah satu pelabuhan ekspor hasil tanam paksa wilayah Jawa Tengah sebelat barat laut dan Priangan Timur. Barang-barang ekspor yang tercatat dikapalkan dari pelabuhan ini seperti kopi, nila, minyak kelapa, kopra dll.

    Pendekatan politik digunakan berdasar letak Cilacap. Secara geografis, Cilacap berada di zona sepi pelayaran. Meski begitu, menjadi keuntungan tersendiri karena menghadap Australia. Meski tidak dipersiapkan secara maksimal, Pelabuhan ini pernah jadi rencana titik evakuasi orang-orang Belanda dan kolega-koleganya menuju Benua Australia saat terjadi penyerangan oleh Jepang pada tahun 1942.

    Informasi Menarik Lainnya

    Sejumlah informasi menarik yang sulit ditemukan pada buku umum, dapat ditemukan dalam buku ini. Contohnya tentang Sungai Citanduy, yang membelah Cilacap dengan Jawa Barat, ternyata telah menjadi salah satu jalur lalu lintas perdagangan yang padat. Sungai ini digunakan sebagai jalur angkut produksi hasil tanam paksa dari daerah Galuh pedalaman menuju Samudera Hindia. 

    Produksi kopi yang digudangkan di Cisurupan, Cikajang, Pameungpeuk, dll, dibawa ke Banjar dan dihanyutkan lewat Citanduy sebelum dikapalkan melalui Cilacap. Dari Cilacap produk ini langsung dikapalkan menuju Eropa tanpa melalui Cirebon atau Batavia. Hal ini terjadi sebelum dibukanya jalur kereta api yang menghubungkan Cilacap hingga Yogyakarta pada tahun 1887.


    Selain Cilacap, dalam buku ini juga dicatat sejumlah pelabuhan kecil di Jawa barat seperti Parigi, Cilauteureun, dan Pelabuhan Ratu yang telah ada sejak abad 19. Keberadaan pelabuhan-pelabuhan kecil ini awalnya dipersiapkan sebagai pelabuhan cadangan bongkar muat jika Laut Jawa diblokade musuh di tahun 40-an.

    Penutup

    Seperti judulnya, uraian panjang tentang sejarah pelabuhan Cilacap ini berakhir saat kedatangan Jepang ke Indonesia. Evakuasi oleh Pemerintah Hindia Belanda yang mulanya direncanakan dari Pelabuhan Cilacap menuju Benua Australia pun kacau karena ternyata pelabuhan tiap siap sebagai tempat evakuasi.

    review buku Cilacap 1830 1942

    Di masa kini, keberadaan Pelabuhan Tanjung Intan di Cilacap ibarat pertanyaan: Apakah Cilacap akan kembali memiliki perannya sebagai Pelabuhan penting di pantai selatan pulau Jawa? Penulis membahas hal ini dalam satu bab tambahan tersendiri di akhir buku, Masa Depan Pelabuhan Cilacap: Sebuah Epilog.

    Sebagai sumber referensi sejarah, buku ini berhasil menarik perhatianku. Pembahasan sejarah pelabuhan Cilacap dan kota-kota di sekitarnya diuraikan dengan sangat mudah. Meski referensi yang digunakan penulisnya kebanyakan berasal dari arsip kolonial dan buku luar, tetapi secara umum, penulisan sejarah dalam buku ini netral, mengalir, dan sangat mudah dipahami.

    Oke, itu reviewku dari buku Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa. Mungkin aku bisa menggunakan sejumlah iformasi dalam buku ini sebagai latar penulisan fiksi sejarah juga, hehe. Sampai jumpa di review buku lainnya. Tetap simak review buku menarik lainnya di https://www.beningpertiwi.com. Selamat membaca.

    5 komentar:

       
    1. Wah.. jadi tahu kalau Cilacap itu kabupaten terbesar di Prov Jateng. Soal letak ibukota kabupaten yg kurang strategis, aku jadi teringat kabupaten tempat kelahiranku. Bisa dikata strategis karena dekat dgn kota tetangga yg lebih ramai dgn beberapa fasilitas/infrastruktur utama (di antaranya lapangan udara militer), tapi jauh dari pusat kabupatennya

      Btw, mempelajari sejarah suatu wilayah itu, selalu menarik dan banyak nambah wawasan ya

      BalasHapus
    2. Cilacap yang populer dengan minyak bumi dan Nusakambangan ternyata punya sejarah yang menarik ya. Beneran baru tahu disini kalau Cilacap punya pelabuhan yang penting peranannya di masa lalu.

      BalasHapus
    3. Seru banget ya bukunya, jadi nambah pengetahuan tentang daerah sendiri biar makin sayang..malu kalau kita nggak kenal sejarah daerah tempat tinggal kita, mestinya Ungaran juga ada buku begini ya..

      BalasHapus
    4. Wuih keren banget, dari desertasi jadi buku. Aku jadi tertarik, penasaran tentang Cilacap, terus aku lihat itu dari gambarnya juga menarik ya

      BalasHapus
    5. ternyata mba bening lama tinggal di Cilacap yah..... kalau aku malah selama ini yang banyak diketahui ya seputar Nusakambangan aja mba....

      BalasHapus

    Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Blognya Bening Pertiwi. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

    Note :

    Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.

    Diberdayakan oleh Blogger.