Review Novel Batu Salju Sulung Prasetyo

Sebelum cerita lebih banyak soal novel ini, aku mau cerita dulu. Berawal dari sebuah email yang masuk kira-kira bulan Oktober lalu. Sang pemilik email menawarkanku untuk membuat ulasan dari sebuah novel. Sejujurnya, aku sendiri belum pernah mendengar nama sang penulis, apalagi judulnya.

Singkat cerita, novel ini pun mendarat ke alamatku. Meski butuh waktu lebih lama dibanding saat membaca buku biasanya, akhirnya novel ini selesai kubaca juga. Sebelumnya aku mau minta maaf dulu, karena memang butuh waktu lebih lama, baik untuk membaca apalagi membuat ulasannya. Dan here we go, semoga ulasannya tidak mengecewakan ya.

novel batu salju

Batu Salju (Sekuel Pertama Petualangan Andrei Trotski)

Penulis: Sulung Prasetyo
Penerbit: Lingkar Bumi
Tahun terbit: September 2022
Jumlah Halaman: 375 hal


Sinopsis Singkat

Kisah tiga makhluk bumi yang terus berjalan menjalani takdir dan menggapai mimpi di kepala. Andrei Trotski, ilmuwan yang bermimpi menemukan obat segala penyakit di dunia. Bosilino yang tercekik kemiskinan dan berharap menjadi kaya. Dinggisou, seekor hewan asli Papua yang menjadi manusia karena takdir menentukannya.

Sampai akhirnya ketiganya bertemu di dalam bagian kecil peta, di pulai paling timur Indonesia, Papua. Masing-masing berjuang untuk menyelamatkan diri dan pemikiran mereka. Mengantarkan pada kesimpulan tak terduga, seperti juga yang kerap kita dapatkan di keseharian berbatas malam.

Bahwa hidup kadang tak seperti kita harapkan. Bahwa hidup tak perlu harus mengulang dan menyesali apa yang telah dilakukan. Bahwa hidup adalah masalah menatap masa lalu dengan apa adanya, dan melihat masa depan dengan harapan dan usaha terbaik yang bisa dilakukan.

Review Batu Salju

Membaca novel ini membuatku harus melihat dari berbagai sudut pandang. Tokoh yang dihadirkan bukan melulu hitam putih, malah cenderung abu-abu. Dan menariknya, tiap tokoh diceritakan dengan detail, lengkap bersama kisahnya masing-masing.

Dinggisou yang Melawan Takdir

Di awal buku, diceritakan kalau ‘Dinggisou’ adalah hewan khas tanah Papua. Jujur, ini pertama kalinya aku tahu ada nama hewan ini. Saat membaca deskripsi di awal buku, aku berpikir kalau hewan ini mirip dengan monyet atau sejenisnya. Tapi, saat minta bantuan google untuk menunjukkan gambarnya, uwow ... ternyata jauh dari bayanganku.

Kesan seram ditampilkan sejak awal. Tentu lantaran latar belakang tempatnya yang tidak memungkinkan mereka muncul sebagai hewan yang lucu. Tapi, gambaran di mesin pencari, memunculkan hewan ini sebagai makhluk ‘sejenis’ kangguru, dengan ukuran tubuh kecil dan lucu. Well ... tidak salah jika haru membuat deskripsi ‘seram’ sih. Karena situasinya memang memaksa demikian.

Mengambil sudut pandang hewan (dengan instingnya) bukan hal mudah. Keren sih, karena pasti butuh riset yang tidak mudah dan butuh waktu tidak sebentar. Apalagi kisah yang dihadirkan bukan kisah unyu apalagi romantis.

Sebuah kisah perjuangan untuk bertahan hidup, hewan yang hanya memiliki naluri. Mereka dasarnya bukanlah pengganggu apalagi perusak. Tapi, keadaan (baca: manusia) yang memaksa naluri ‘melawan’ mereka untuk bangkit.

Bosilino yang Menolak Berhenti

Namanya unik, ya. Sepertinya si penulis memang punya imajinasi keren untuk memilih nama nih. Jangan ditanya asal dan deskripsi fisiknya. Karena jelas, tidak akan nyambung. Tapi entah kenapa, nama ini memberikan kesan keren.

Menjalani hidup yang berat dan serba dilematis, akhirnya membuat Bos (panggilan dari sejumlah orang) memilih jalan yang keliru. Sayangnya, percobaan pertama ini nyatanya mengantarkan Bos ke balik jeruji. Bukannya tobat dan kembali ke jalan yang benar, Bos malah menemukan jalan lain yang menurutnya bukan hanya menarik, tapi juga menjanjikan. Sayangnya, Bos tidak tahu kalau selalu ada jalan terjal untuk sampai kesana. Dan dengan ‘nekat’, Bos memilih jalan itu.

Andrei Trotski yang Harus Merelakan untuk Mendapatkan

Karakter berikutnya ini bukan orang biasa. Orang asing-kah dia? Ternyata tidak. Seperti aku bilang tadi, sang penulis suka memilih nama yang unik. Tapi nama kali ini sepertinya cocok untuk disandang oleh sang pemilik nama karena profesinya.

Porsi paling besar dari buku Batu Salju, ya memang tentang karakter Andrei. Tidak hanya punya latar belakang sendiri, tetapi kemajuan kisahnya juga yang paling banyak. Meski begitu, kisahnya bisa dibilang cukup biasa, terutama jika ditemukan pada buku-buku berbahasa asing. Tapi Andrei dan petualangannya muncul dalam cerita tidak terduga.

Yang paling menarik dari cerita Andrei adalah kepiawaian sang penulis menceritakan kisah perjalanannya. Detail cerita saat adegan di bawah air, lengkap dengan peralatan, situasi, dan masalah-masalah yang terjadi, membuat cerita sangat hidup. Seperti menceritakan pengalaman sang penulis langsung. Yup, seperti benar-benar mengalaminya.

Bertemu dalam Batu Salju.

Loh, jadi ada tiga tokoh utama dalam buku Batu Salju ini? Kalau melihat judulnya, maka tokoh utamanya ‘hanya’ Andrei. Tapi kalau membaca sampai akhir, maka kita akan tahu kalau tiap tokoh adalah tokoh utama untuk kisahnya masing-masing.

Sejujurnya, alur cenderung agak lambat saat awal buku. Butuh sekitar setengah buku hingga akhirnya konflik benar-benar muncul. Kecuali kisah Dinggisou yang memang sudah penuh konflik sejak awal. Dan ya, mereka bertiga ini akhirnya bertemu di sekitar seperempat akhir dari buku, di pegunungan Papua.

Sejujurnya, Papua sendiri masih jadi tempat yang sangat asing dan jauh bagiku. Tidak pernah membayangkan seperti apa situasi di sana. Apalagi daerah pegunungannya. Tapi buku ini membawaku berpetualang tidak hanya di pegunungan Papua saja tetapi di sepanjang pantai eksotis di pinggiran Papua.

Penutup

Membaca buku ini, butuh waktu lama bagiku. Kalau bicara fisik, mungkin faktor huruf yang terlalu kecil bagiku (meski sudah pakai kaca mata) dan juga beberapa typo yang membuatku kadang memilih berhenti dulu sebelum melanjutkan membaca.

Tapi akan berbeda kalau bicara ceritanya. Ide yang tidak biasa menjadikan buku ini istimewa. Latar belang sang penulis yang juga wartawan rupanya punya andil cukup banyak. Karena kisah yang disajikan detail tetapi tidak kehilangan keindahan bahasanya. Sama sekali tidak mirip berita.

Kalau di halaman sampul buku ini tertulis sekuel pertama, artinya akan ada kisah Andrei selanjutnya. Aku berharap, setidaknya ada akhir bahagia untuk pasangan Dinggisou ataupun kisah lain yang lebih baik untuk Bosilino. Dan untuk Andrei? Semoga dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa harus berkorban lebih banyak lagi.

Oke, itu cerita dan curhatku soal buku Batu Salju ini. Skor dariku 7/10. Sampai jumpai di tulisan lainnya dan selamat membaca.

Tidak ada komentar:

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Blognya Bening Pertiwi. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.

Diberdayakan oleh Blogger.