Cerita dari Dua Jenak Jumpa

Sekian lama tanpa kabar berita—atau lebih tepatnya, aku sudah tidak memedulikannya—dia muncul kembali dengan tulisan barunya. Bukan sekadar tulisan singkat di blog, tapi satu buku lengkap dengan tebal 400an halaman lebih. Sungguh keajaiban, jika bocah itu akhirnya mau muncul lagi.

Menulis

Sepertinya tidak sopan menyebutkan bocah lagi. Karena, bagaimanapun, bocah itu sudah menghasilkan bocah sendiri. Lebih tepat kalau dia dipanggail om, tapi tidak dengan panggilan kakek atau opung. Ah ya, dia orang asli pulau jawa kok, bukan pulau seberang.

Aneh rasanya membahas orang yang sama, setelah sekian tahun berlalu. Seperti pulang? Seperti itu rasanya mengakses kembali blog lamanya yang ternyata masih aktif dan terus mengupload tulisan. Aku meragukan kalau dia cukup peduli dengan alamat blognya yang belum premium, desain blognya yang sangat sederhana atau bahkan jumlah pengunjung blognya. Menulis, itu yang dia lakukan. Hanya itu saja.

Selalu ada yang menarik dalam tiap tulisannya. Selalu ada hal baru yang diurakainnya dengan cara menyenangkan. Aneh kan? Padahal harusnya aku sudah bosan membaca cerpen-cerpen biasa. Tapi, justru cerpen-cerpen yang cenderung berat, yang dia buat, malah menyenangkan untuk disimak dan dibaca lagi.

Oh ya, ada satu cerpennya yang aku sukai, lebih tepatnya favorit. Cerpen itu memiliki tokoh wanita dengan latar belakang sebuah kota di Jawa Tengah. Entah, rasanya seperti dia menulis tentang aku. Tapi, bagaimana cara menemukan cerpen itu lagi di kolam blognya? Aku sendiri lupa judul cerpen satu itu. Sudah terlalu banyak tulisan di sana. Aku sudah bilang kan, kalau dia sepertinya tidak terlalu peduli dengan penampilan blognya? Ya jadi, jangan berharap bisa menemukannya dari menelusiri kategori tertentu untuk menemukan cerpen itu. Pun tidak banyak informasi yang bisa dicari dari sana, kecuali menelusurinya satu per satu. 
Haruskah aku melakukan itu? Semacam menuntaskan sebuah rindu. Ah, rindu.

***

Dulu, dia pernah jadi kurator cerpen untuk tantangan menulis di sebuah akun burung biru. Berkali-kali kutulis beragam cerita seperti yang dia mau. Tapi, tidak ada satu pun ceritaku yang sepertinya menarik perhatiannya. Sepertinya ceritaku hanya suatu yang lalu dan lalang, pergi tanpa jejak.

Hingga akhirnya ada satu cerpenku yang akhirnya menarik perhatiannya. Cerpen itu bertema ‘hutan’. Saat itu, dengan riset super singkat, aku menulis adaptasi cerita rakyat suatu daerah di Jawa Tengah. Tentu dengan bumbu romantis lebih banyak dibanding fakta sejarahnya. Sepertinya halnya cerpennya yang kusuka, ternyata cerpenku yang satu itu pun disukainya. Dia memenangkan cerpenku pada tantangan menulis kala itu. Dan ‘harusnya’, ada satu buku datang ke rumahku sebagai hadiahnya. Sayang, sepertinya dia lupa atau ... memang melupakannya.

Menulis sendirian

Aku tidak benar-baner tahu, apakah nama daerah itu memang menarik perhatiannya benar. Yang jelas, dalam 400 halaman yang dia tulis dan terbit belum lama ini, tidak ada kisah itu di sana. Ah, apakah dia sudah melupakannya? Tidak ada yang tahu benar, kecuali dia sendiri.

Kadang kalau dipikir lagi, cerita ini aneh. Tidak ada hal yang istimewa dari dia ataupun diriku. Tidak ada interaksi tertentu dalam jumpa yang hanya dua kali. Tapi, jumpa yang hanya jenak itu, ternyata menjadi alasan dari banyak cuitan dan tulisan. Apakah dia istimewa? Entah. Apakah tanpa sadar, dia sudah masuk dalam hatiku? Entah. Karena memang tidak seperti itu adanya. Tidak pernah ada harapan yang terbentang. Tidak pernah ada rasa nyaman yang tercipta. Hanya saja, kehadirannya bisa memberikan begitu banyak alasan untuk menulis, lagi dan lagi.

Eh, kamu mau tahu alamat blognya? Tunggu, aku sendiri lupa lagi. Entah bagaimana kemarin aku bisa menemukannya. Tapi kali ini aku tidak berniat menemukannya lagi. Kamu juga, sebaiknya tidak perlu mencarinya. Aku takut kamu akan terpesona dengan tulisan-tulisannya dan enggan berhenti. Hei! Aku tidak pelit. Hanya saja, kali ini aku enggan berbagi. Tapi kalau suatu saat kamu menemukan blognya, nikmati saja tiap tulisannya. Tapi jangan sampai kamu mabuk oleh tulisan-tulisan itu.

Ps. Beberapa tulisan di blog ini juga terinspirasi dari dia. Percayalah! Saat penulis mengenalmu, maka kamu akan hidup abadi dalam tulisannya.



Cerita dari Dua Jenak Jumpa Cerita dari Dua Jenak Jumpa Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

4 komentar:

  1. Oh..oh.. siapa dia...#jadimalahnyanyi :D

    Wah, inspirator nulis nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. tulisannya bersuara, hahahahaha
      ini bukan jebakan umur kan

      Hapus
  2. "saksi semua, apakah sah?"
    "Saaaah.."
    "Alhamdulillah,,,"
    "'audzubillahiminassyaitonirrojimm.... bismillahirohmanirrohim, Alhamdulillah irobbil'alamin ~~~"

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiiin
      betewe ini lagi latihan apa gimana nih?

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.