Lebaran, Cerita Suatu Hari

Selamat Lebaran, selamat Idul Fitri. Maafkan lahir dan batin ya. Dan selamat makan-makan lagi. Betewe, masih aman kan ya? Jarum timbangan belum geser ke kanan lagi? hehehehe, miaaan

Eid mubarak

Ini lebaran kedua bagiku tanpa mudik. Ya, seperti tahun kemarin, lebaran kali ini enggak kuhabiskan di kampung. Karena you know, so called corona. Kalau tahun kemarin memang benar-benar ketat, sekarang sebenarnya lebih longgar sih. Bisa Salat Ied di masjid/lapangan. Cuma ya memang—katanya—enggak boleh mudik, ya apa boleh buat. Biasanya kalau lebaran gini postinganku tentang nostalgia sekolah. Cuma masa lebaran aja, bisa lewat—atau bahkan mampir—SMA, yang memang letaknya jauh dari tempat tinggal sekarang. Apa kabar SMA? Apa kabar teman-teman?

Baca juga Reuni Online jilid 1  

Sekarang semuanya makin terbiasa dengan ponsel. Mulai dari belajar hingga komunikasi pasti dengan ponsel. Makin lama ponsel makin lengket aja nih. Buktinya? Beberapa hari memaksa nulis kok ya syusah sekali. Berbeda dengan biasanya.

Lebaran, entah dari mana perubahannya dari kata Idul Fitri. Kalau orang jawa, lebaran itu dari ‘lebar’—dengan e yang dibaca sama seperti kata kentang, belang, dll—dan ‘an’ sebagai imbuhan. Kata ‘lebar’ dalam bahasa Jawa bisa diartikan sebagai ‘setelah’ atau selesai. Memang enggak salah sih. Momen Lebaran kan memang setelah sebulan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Dan akhiran ‘an’ ditambahkan seperti orang Jawa umumnya yang suka memodifikasi kata. Oke, pembahasan ini tidak ada dasarnya aja ya. Ini murni kataku aja, hehehe

Baca juga Story Selamat Idul Fitri

Tapi yang jelas, seperti masyarakat negeri ini umumnya, Lebaran jadi momen untuk berkumpul, terutama dengan keluarga. Sampai istilah mudik Lebaran pun jadi populer. Sebuah budaya yang sudah ada bertahun-tahun lamanya di negeri ini. Dan sekarang, saat enggak bisa mudik, ya mau gimana lagi. Tetap ada yang kurang.

Menjadi salah satu orang yang tidak bisa mudik tahun ini, sebenarnya ada enak dan enggaknya. Enggak enaknya, ya enggak bisa kumpul dengan keluarga. Enggak bisa menarik diri dari komunikasi, lantaran kalau di kampung kan susah sinyal, hahahaha. Enggak bisa makan makanan khas kampung dan melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan di kampung.

Baca juga Tips Tetap Segar di Bulan Ramadan   

Meski begitu, tetap ada enaknya sih. Bisa rebahan di rumah tanpa ada yang ganggu. Enggak harus bermacet-macetan di jalan saat mudik ataupun balik. Dan ya ... agak ngirit sih, soalnya enggak harus ngasih THR buat keponakan, hahahaha. Jahat ya? ya gimana dong, gue bukan bagian orang berTHR banyak sih.

Tapi ternyata semua itu masih belum bisa memaksa diri untuk menulis. Memang, biar biasa nulis butuh perjuangan juga. Dan itu bukan hal mudah pula. Ah mungkin memang saatnya rehat sejenak kali ya. Ya masa iya, harus nulis terus. Kan juga perlu kegiatan lain yang lebih beragam.

Silaturahmi lebaran

Oke, tulisan ini memang agak ngaco jadinya. Entah awalnya membahas apa, tengahnya berisi apa dan endingnya juga belum jelas akan bagaimana. Tapi, ini hasil memaksa menulis setelah beberapa waktu. Jadi tolong, apapun bentuknya, jangan dihakimi. Cukup dinikmati saja, dibaca jika memang ada waktu luang dan senggang. Tidak perlu lah direpotakan dengan urusan typo ataupun salah ketika yang enggak penting. Yang jelas, untuk bisa sampai di sini saja butuh perjuangan yang tidak mudah. Paling tidak sudah berusaha dan memaksa diri. Kalau memang belum jodoh untuk bisa menyelesaikan tulisan atau membuat tulisan baru yang lebih bermutu, mungkin akan ada kesempatan lainnya. Nikmati saja. Toh tidak ada ruginya.

Life must go on. Hidup harus terus berlanjut. Libur lebaran yang enggak seberapa ini memang harusnya dinikmati. Bukan karena ada waktu luang ataupun banyak uang. Tapi lebih ke --- kesempatan menarik diri dari semua kesibukan. Meski kenyataannya, tetap tidak bisa benar-benar lepas dari kesibukan dan grup yang tidak pernah sepi. Tidak apa-apa. toh semuanya akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti semula. Semua akan terus lalu dan laju, tanpa bisa dihentikan. Waktu juga akan terus saja melaju. Dan ya, kira-kira seperti inilah kisah Lebaranku. Enggak menarik ya? Tidak masalah. Bisa menulis hingga sekian banyak saja sudah melegakan.

Sekali lagi Selamat Lebaran, selamat Idul Fitri. Maafkan lahir dan batin ya V
Lebaran, Cerita Suatu Hari Lebaran, Cerita Suatu Hari Reviewed by Bening Pertiwi on Mei 13, 2021 Rating: 5

9 komentar:

  1. Selamat LEBAR-an buat yg nggak mudik. Bisa transfer THR dunkz kesini,
    Wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah ya, timbangan masih aman lah. atau malah enggak ditengokin sama sekali. weeeeee ...

      Hapus
  2. Maaf lahir batin ya.
    Met lebaran :)
    Dan liburan...

    Sapa bilang g ditagih THR :D
    Yg satu ini wajib bin kudu ^_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf lahir batin juga, hira
      seneng deh hira mampir kesini
      gimana kabar nih?
      met liburan, eh udah masuk hari ini ding

      Hapus
    2. Alhamdulillah baik.
      Iya ini, lama gak mampir karena mager untuk nulis :D
      Gimana kabar, Na

      Hapus
    3. alhamdulillah baik,
      ayok nulis lagi dong, sini sini biar ditemenin, hehehehe

      Hapus
    4. Hayuuukk...
      Semangat klo ada temennya :D

      Btw, apa kabar Tiwi tak?
      Sudah berapa tahun enggak ngobrol

      Hapus
  3. Ga mudik ga baju baru tetaap lebaran..kl ak lebaran sepi begini paliing nyaman..begini aja terus tapi sehat..hahah...tanpa riweh harus kesana kesini dan mendengar pertanyaan aneh2 yg penuh basa basi...����

    BalasHapus
    Balasan
    1. di rumah aja, rebahan sambil mengosongkan isi toples jajan, hehehehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.