Berebut dengan Semut, Berebut Kesempatan

Beberapa hari belakangan, kopi kembali jadi teman setia gue. Setelah kegiatan yang cukup menyita waktu dua pekan lalu. Dan kesempatan rehat menikmati keindahan alam seharian itu. Lalu kini, semua harus kembali pada kenyataan, ada kegiatan lain yang menunggu di depan sana. Ada kesibukan lain yang sudah menanti untuk diselesaikan.

Semut di dahan

Seperti malam-malam lainnya, serangkan kantuk sedikit banyak teredakan oleh seduhan kopi panas. Tidak perlu secangkir penuh. Karena memang tidak perlu banyak darinya. Dan lucunya, dari sekian cangkir yang menemani tiap malam, paling hanya setengahnya saja yang habis oleh tegukan. Bagaimana sisanya? Rupanya gue harus berbagi dengan semut yang datang dan ikut menikmati kopi yang dicampur gula itu.

Bicara soal semut yang menggerumuti kopi, seperti itukah juga kesempatan? Iya, kali ini gue bicara soal kesempatan. Sebuah kesempatan bisa saja ada. Tetapi, masalah yang punya nama lain ‘menunda’ bisa saja merebut kesempatan itu, seperti semut yang merebut setengah cangkir kopi yang mulai dingin dan kehilangan efeknya.

Orang bijak bilang, kalau kesempatan itu tidak datang seringkali. Tidak datang secara terencana bahkan tidak datang dalam keadaan kita siap menjemputnya. Kesempatan seringkali datang dengan cara tidak terduga, dalam situasi tidak terduga, dalam waktu tidak terduga dan terbatas. Singkat, padat, dan jelas. Dan kalau tidak segera dimanfaatkan, maka kesempatan itu akan hilang menguap dan terbang.

Loh, kan bisa ciptakan kesempatan kedua, ketiga, keempat atau lainnya?

Benar, kesempatan memang bisa diciptakan. Entah kedua, ketiga, keempat atau lainnya. Tapi lagi-lagi, apa artinya kesempatan yang diciptakan itu kalau tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Apa artinya kesempatan itu kalau hanya dibiarkan saja, nganggur dan akhirnya hilang begitu saja.

Baca juga Halo, Diriku Hari ini  

Sulit mengambil kembali kopi yang sudah diserbu semut. Butuh perjuangan berat untuk mendapatkannya kembali. Atau bahkan lebih baik mencari yang baru. Sama seperti kesempatan, jika sudah terlewatkan maka akan sulit untuk diambil kembali. Jika akhirnya memilih untuk menciptakan kesempatan yang baru, maka tidak akan sama lagi.

Dan malam ini, saat tulisan ini gue buat, kopi gue juga sudah diserbu semut, seperti biasa. Meski memang hanya tersisa sedikit cairan dan ampas di bawahnya. Tapi, tetap saja semut-semut itu juga mendapatkan apa yang mereka mau. Apa yang menjadi salah satu sumber kehidupan mereka. Gue? Akan ada kopi-kopi lainnya yang siap menemani malam-malam gue.

Dan pada akhirnya, yang bisa dilakukan sebagai manusia hanya berusaha. Menciptakan kesempatan-kesempatan lainnya lalu memanfaatkannya dengan baik. Seperti ungkapan bijak, ‘jangan berhenti mematung saja di depan pintu yang tertutup di hadapanmu. Tapi, carilah pintu lain yang masih terbuka untukmu.’ Akan selalu ada kesempatan baru. Akan selalu ada peluang baru. Akan selalu ada hal baru untuk dikejar dan diperjuangkan.

Tulisan malam ini sungguh random, tanpa rencana dan tanpa kerangka. Hanya ungkapan keresahan karena kopi yang diserbu semut. Sampai jumpa di kopi-kopi hangat lainnya. Sampai jumpa di tulisan lainnya.
Berebut dengan Semut, Berebut Kesempatan Berebut dengan Semut, Berebut Kesempatan Reviewed by Bening Pertiwi on Maret 04, 2021 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.