Secuil Cerita Tahun 2020

Bagaimana tahun 2020-mu? Apa saja yang kamu temukan di tahun 2020 lalu? Atau ... apa saja yang (terpaksa) kamu lewatkan di tahun 2020 kemarin? Setelah Januari, Februari, Maret, dan sekarang sudah Januari lagi di tahun baru, rasanya seperti mimpi. Masih bisa bertahan hingga saat ini, adalah hal yang luar biasa. Dan ini ceritaku.

gambar laptop dan kopi
laptop dan kopi

Maret, Awal dari Semuanya

WFH pertama persis setelah salah satu rangkaian ujian bagi anak-anak dilakukan. Masih sempat merasakan ujian. Hingga setelahnya, semua tampak buram. Dan akhirnya waktu pun terlewatkan. Persiapan yang dilakukan berbulan-bulan selesai begitu saja. Ya, tahu-tahu selesai. The end. Jangan tanya rasanya, ruwet. Ah ya, bahkan ada yang harus tertunda.

April, memaksa diri belajar

Bulan April, semua dipaksa untuk belajar lagi, belajar ulang. Bahkan jadi cerita Ramadan paling berbeda dari tahun-tahun silam. Semua merunduk, menunduk, meminta penuh harap agar semua segera berakhir. Agar semua segera selesai. Agar ada kesempatan bertemu sapa tanpa jeda. Ah ya ...

Mei, Juni, Juli, Cepat Sekali rasanya

Tiga bulan ini berlalu begitu cepat. Meski beban kerja tidak sama seperti biasa, dan justru punya kesempatan untuk untuk mengembangkan diri ikut pelatihan daring, tapi tetap saja rasanya berbeda. Ada yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Sudah mulai capek. Tapi mau bagaimana lagi?

Agustus, mulai menghangat

Situasi cukup membaik. Seperti sebuah harapan, yang sebentar lagi sampai. Bahkan yang tidak ada kabarnya sejak beberapa bulan silam, akhirnya memberikan kepastian. Tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Ketat. Tapi tetap harus diperjuangkan kan? Sekali lagi, berjuang lagi, tidak mengapa bukan?

September, kerja keras

Kerja keras lagi. Belajar lagi. Berjuang lagi. Ada yang datang ada yang pergi. Ada yang kecewa ada yang bahagia. Meski akhirnya masih tetap sama, setidaknya sudah berjuang sejauh ini. Setidaknya, ah ... kenapa sampai saat ini? Tidak bisakah ada kesempatan kedua?

Oktober, November

Kesibukan kembali menyerang. Setidaknya, bisa mengalihkan dari luka dan rasa kecewa. Beberapa kegiatan daring dilakukan. Kalau memang belum ada kesempatan bersua fisik, paling tidak investasi untuk diri sendiri lebih dulu. Belajar lagi, lagi, dan lagi.

Ah iya, di bulan-bulan ini pun mulai belajar soal keuangan. Agak terlambat, memang. Padahal pendemi sudah terjadi sejak beberapa bulan silam. Tapi bukankah tidak ada kata terlambat untuk belajar lagi? Tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi?

Hai, Desember

Ada yang berbeda. Ada yang dilakukan. Dan inilah yang dilakukan. Salah satunya domain untuk blog ini. Aneh, tapi rasanya lega, bukan? Setelah gegalauan berbulan-bulan lalu, akhirnya nekat untuk melakukannya. Dan sekarang, di sini ... kembali menulis.

Bagaimana rasanya kembali menulis? Seperti hidup lagi. Memang, tidak dimungkiri, kalau berbulan-bulan ini juga tetap menulis. Tapi kali ini berbeda. Ada kawan-kawan yang membersamai. Ada orang yang bisa ditanyai. Ada yang mau berbagi. Ada yang bersedia datang dan memberikan komentar dan masukan. Ada yang ... ah, rasanya tidak sendirin lagi.

Benar, kata kampus fiksi. Menulis itu bisa sendirian. Tapi menjadi penulis butuh teman. Ini secuil cerita tahun 2020 milikku. Bagaimana denganmu?
Secuil Cerita Tahun 2020 Secuil Cerita Tahun 2020 Reviewed by Bening Pertiwi on Desember 30, 2020 Rating: 5

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.