Sensasi Derealisasi, Nyata?

Kalau diinget-inget sih, kaca mata mulai nangkring di wajah sejak 2016. Berarti hampir empat tahun lamanya gue pakai kacamata. Nah, jadi ceritanya, beberapa waktu belakangan (ditambah banyaknya aktivitas di depan komputer), ada rasa pusing yang banyak menyerang. Hmmm ... kepikirannya sih, ‘ah jangan-jangan minus mata ini nambah nih’.

Hingga akhirnya, menyempatkan diri untuk cek lagi di optik. Cek manual, memang terasa bedanya. Pada saat cek dengan alat, memang terbukti ada yang berubah. Hanya saja ternyata ... bukannya nambah, eh minus gue malah berkurang? Huh, bisakah?


Jadi, kalau menurut mas-mas optiknya, kalau minus-nya masih sedikit, alias kurang dari -1, maka ada kemungkinan minus berkurang. Tapi, kalau sembuh total mah enggak bisa. Nah selain minus, mata gue kebetulan silinder juga. Artinya ada ketidaksempurnaan bentuk lensa mata gue, sehingga ada ketidaknormalan saat melihat. Nah makannya, meski minus gue bisa dibilang sedikit, tapi tetap harus dibantu kaca mata karena silinder. Waktu gue bandingkan hasil cek empat tahun lalu dengan cek terbaru, minus gue berkurang. Yang kanan berkurang seperempat, yang kiri berkurang setengahnya. Kalau silinder tetap.

Dengan pertimbangan karena belakangan gue selalu berada di depan komputer yang lebih lama dari biasanya, gue berpikir untuk ganti lensa yang ada filternya. Habis chit chat sama mas-mas optiknya, akhirnya gue pilih lensa yang lumayan harganya. Berhubung gue masih suka dengan frame lama, jadi nggak ganti frame, Cuma ganti lensa aja.

Masalah justru timbul setelah ganti lensa ini. Awalnya, semua tampak begitu bening dan jelas. Jelas banget nget nget. (bandingannya sama lensa kaca mata lama yang sudah agak gores). Cuma, waktu dipakai keluar ruangan, melihat tempat jauh, eh kerasa nggeliyeng ini kepala. Duh kenapa sih? Ini kacamata ukurannya udah bener kan?

Jadi, waktu gue pakai buat melihat tempat jauh, rasanya gambar itu kayak goyang. Terus kepala juga agak pusing. Kalau menurut mas-mas optiknya, itu karena mata masih perlu penyesuaian dengan lensa yang baru. Satu dua hari gitu, katanya. Tapi iseng kan, gue nyari dan googling. Jadi ternyata gue mengalami namanya ‘derealisasi’. Lebih jelasnya, cek artikel tentang derealisasi ini ya. Jadi semacam penyesuaikan kembali mata, karena melihat dengan lensa berbeda. Apa yang gue lihat terasa nggak nyata. Dan yang paling gue rasakan adalah pusing. Ini bertahan sampai hari berikutnya. Jadi, sekitar dua hari gue merasakan lumayan pusing. Dan di hari ketiga, akhirnya pusing ini pun berangsur menghilang. Legaaaa ...

Oh iya, dibanding si minus yang lebih umum, silinder ini bener-bener khusus ya. Jadi, mata silinder yang disebabkan ketidaknormalan bentuk lensa, secara khusus menunjuk pada satu titik tertentu. Di resep yang ditulis mas-mas optik, ada satuan derajat yang menunjukkan sudut tertentu yang harus dikoreksi pada mata silinder. Sudut ini yang nantinya menentukan pemasangan kata mata, agar tepat dan berfungsi mengoreksi kelainan mata silinder. Jadi, bener banget tuh, kalau kaca mata silinder nggak boleh asal dipakai orang lain, karena memang didesain khusus untuk si pemilik kaca mata. Gitu kira-kira.

Oke, sekian cerita tentang kaca mata baru. Semoga kaca mata ini awet ya. meski frame-nya model lama, yang nggak apdet-apdet banget, yang penting gunanya. Btw filter kaca mata yang sekarang bener-bener mantep euy. Biasanya kan kalau kelamaan di depan layar (dengan kaca mata lama yang filternya lebih sedikit) udah mulai pusing dan mata lelah. Tapi yang sekarang, bertahan lebih lama.

Eh inget ya, meski kaca mata bisa membantu penglihatan pun yang berfilter, tetapi tetap penting untuk mengistirahatkan mata sesekali dengan memandang ke tempat jauh, biar mata enggak jenuh dan otot mata juga tetap terlatih.

Gitu, kira-kira. Sekian curhatan soal mata kali ini, sampai jumpa di tulisan lainnya.
Sensasi Derealisasi, Nyata? Sensasi Derealisasi, Nyata? Reviewed by Bening Pertiwi on Juni 15, 2020 Rating: 5

2 komentar:

  1. Teringat sebuah kisah saat aku pertama kali memakai kacamata. Bumi terasa berputar putar, namun sekarang tidak lagi karena aku jarang memakainya XD.

    Kisah si rabun jauh yang susah melihat jelas kala kurang cahaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau lama nggak ketemu komputer sih, nggak ngaruh ya, apalagi kalau min cuma sedikit. tapi kalau sering ketemu layar, ya udah deh kerasa banget. kalau enggak pake, cepet capeknya tu hmmm ...

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.