Reuni Online Jilid 1

Entah ide siapa awalnya, jadi temen-temen SMP tetiba buat grup. Lah, bukannya ini hal yang biasa? Kalau bagi kami, generasi yang pisah-lulus di zaman HP masih mono dan polyponik ini jadi istimewa. Semacam ajang reuni satu angkatan. Hehehe, kelihatan banget ya, kapan lulus SMP-nya. Yang jelas, saat itu, saat lulus, belum ada aplikasi whatsapp apalagi model ngobrol dalam grup. 

foto koleksi pribadi
Istimewa juga, karena sebagian besar dari kami keluar kota selepas SMP untuk melanjutkan. Jadi, udah semacam budaya nggak tertulis bagi kami, buat melanjutkan sekolah ke kota lain. Selain kota tempat tinggal kami memang kota kecil—meski sebenarnya ada cukup sekolah SMA, MA bahkan SMK—semangat kami untuk belajar cukup tinggi. Dan itu nggak cukup kalau hanya dipenuhi dalam kota kecil ini saja. Btw, ini asumsi gue aja sih. 

Nah ajang reuni mendadak ini pun membuat kami nostalgila kembali zaman SMP. Dan saat itu pun gue sadar, kalau selama di SMP dulu, gue itu bukan siapa-siapa. Iya, ini curhatan. Teman-teman memang kenal gue, tapi nggak dekat. Ya gimana, sejak lulus SMP, gue juga melanjutkan keluar kota yang otomatis lost contact dengan banyak kawan, kecuali sebagian kecil sahabat dekat gue. 

Seperti reuni umumnya, selalu ada hal menggelitik yang mengusuk. Terutama bagi gue. Ada rasa minder dan malu, saat mendengar kabar kawan-kawan dengan segala macam aktivitas dan kesuksesan mereka. Lalu dengan keluarga kecil mereka juga. Hingga akhirnya, gue lebih banyak jadi penyimak pasif aja di grup. Bukan apa-apa, Cuma gue nggak punya kata-kata untuk disampaikan, gitu. 

Setelah banyak obrolan panjang dan gaje, ada yang punya ide untuk reuni beneran via online sekaligus ngobrol dengan salah satu guru. Dan guru itu adalah guru matematika di kelas 8. 

Jadi, malam minggu kemarin, akhirnya terlaksana meeting online dengan pak Guru ini. Gue yang terlanjur pengen Cuma nyimak, akhirnya telat gabung. Itu pun Cuma nyimak suara aja, nggak aktifkan video. Ada banyak reuni dan nostalgia momen lama. Ada juga curhat sedih dan bahagia dari kawan-kawan. Ada juga pengakuan dosa. Tapi dari semua itu, akhirnya semua memang gak bisa membenci guru. Seperti apapun waktu itu, semua berterimakasih pada ‘galak’ dan ‘tegas’nya pak guru. Iya, manfaat itu semua baru terasa saat ini. Butuh waktu dan pengalaman panjang untuk sampai di sini. 

Obrolan pun lanjut hingga membahas beberapa hal cukup sensitif soal pendidikan dan sekolah. Gue Cuma bisa tersenyum, dan bilang dalam hati ‘seperti itulah dunia pendidikan’. 

Pengalaman ini menyenangkan, sungguh. Mungkin berbeda dengan alumni SMA gue, yang udah aktif sejak berpuluh tahun silam, bahkan punya struktur organisasi yang rapi dan punya kegiatan jelas. Yang jelas, gue berharap ada banyak hal positif dari reuni kali ini. Terimakasih kawan. 

(eh ya, jadi inget sama first crush jaman SMP kan, hehehe. Ada juga cerita ditolak dan hmmm ... gue perlu cerita ini?) 

Kalau kalau ini Cuma ketemu online, semoga ada kesempatan ketemuan fisik ya. Etapi kasih waktu gue dulu, untuk bertumbuh lebih percaya diri. Untuk membuktikan kalau gue mampu. Dan untuk punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Sampai jumpa di reuni online jilid berikutnya.
Reuni Online Jilid 1 Reuni Online Jilid 1 Reviewed by Bening Pertiwi on Juni 19, 2020 Rating: 5

2 komentar:

  1. Emang kalo ketemuan offline harus ada sesuatu yang dibanggakan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. secara teori, enggak.
      tapi kenyataan kerasa begitu sih. kalaupun bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, paling enggak, punya jawaban jika ditanya beragam pertanyaan 'menyebalkan' dari kawan-kawan, entah karena basa basi atau benar-benar kepo, hehehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.