Coba Memaki

Dalam budaya ketimuran Indonesia, memaki bukanlah kebiasaan yang bisa diterima oleh semua orang. Meski dalam lingkup budaya kecil, ada beberapa hal yang dapat dikatakan memaki. Hmmm ... tapi kadang ada juga, bersuara dengan nada tinggi dan terkesan membentak, meski sebenarnya bukan memaki.

Ada yang kepikiran pengen memaki? Dalam budaya dan kebiasaan rumah dan lingkungan tempat tinggal gue, memaki bukanlah hal yang biasa dilakukan. Bahkan terkesan dihindari, tentu dengan berbagai alasan dan manfaat. 


Duh, kok jadi kaku gini sih

Oke, gini aja, kita pakai bahasa yang lebih enak dan nyante aja. Jadi, selama sekian tahun tinggal di Solo—yang khas dengan budaya jawa-nya—gue menemukan banyak hal dari kawan-kawan. Jika ada sebagian kawan-kawan yang terkesan lebih ‘halus’ saat berbicara, maka ada juga kawan-kawan dari daerah timur, kebanyakan lebih ‘ekspresif’ saat berbicara. Well, ini bukan rasis ya, ini juga bukan dalam rangka membandingkan. Gue Cuma cerita, suer.

Nah, ada beberapa kata dan kalimat yang gue dapat dari kawan-kawan yang berasal dari daerah timur Solo, yang menurut gue menarik untuk disimak. Dan kata-kata ini, menurut kami yang jarang mendengarnya apalagi menggunakannya, cenderung agak kasar. Meski sebenarnya, yakin deh, nggak ada niatan untuk kasar. Tapi memang beberapa kata itu berbeda dan terlihat lebih ekspresif.

Sebut saja salah satu kata terkenal: ‘jancok’ bersama segala tulisan dan turunannya. Entah kenapa, gue selalu tertarik dengan kata ini. Menurut kawan-kawan yang memang terbiasa menggunakan kata ini, mereka sama sekali tidak ada niatan untuk memaki atau mengatakan hal jelek. Bahkan bisa dibilang kata biasa, yang memang umum dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam banyak interaksi, kata ‘jancok’ ini justru jadi simbol keakraban. Jadi gini ... nggak semua orang menyebutkan kata ‘jancok’ ini pada saat berbicara. Dan bahkan, dalam berbagai kesempatan, gue menemukan sebagian kawan-kawan gue memakai kata ini hanya di lingkungan kecil pertemanannya yang memang sudah akrab dan dekat. Dan well ... kalau dipikir, jusrtu kata ini jadi bentuk sapaan mesra antar kawan yang berasal dari daerah yang sama. Sebuah kata yang menjadi pemersatu orang-orang yang berasal dan merasa berasal dari daerah yang sama. Bahkan bisa jadi idenditas daerah.

Tapi, bagi kami yang tidak terbiasa mendengar kata ini, ‘jancok’ terasa asing. Well ... justru ini yang menarik. Jadi, gue punya cita-cita untuk mengatakan kata ini, jika suatu saat, ada situasi menyebalkan yang memberikan kesempatan bagi gue untuk menggunakannya. Soalnya, dalam budaya gue, nggak mungkin menggunakan kata ‘jancok’ ini dalam obrolan sehari-hari. Bisa-bisa gue dimaki orang-orang, hehehe

Serius, pengen gitu rasanya, di sini, jauh dari daerah asalnya dan memakai kata ini untuk memaki. Apakah rasanya akan lega? Atau justru akan menimbulkan pandangan tidak enak dari orang-orang di sekitar ya? Atau justru malah akan jadi identitas, yang membuat gue kembali merasa seperti berinteraksi dengan kawan-kawan dari jauh. Apakah gue perlu melakukan sosial eksperimen soal kata ini? Sepertinya akan menarik.

Well, ini semata-mata Cuma keinginan terpendam ya. Belum tentu juga akan gue lakukan, kecuali berada dalam situasi tertentu yang memang mengharuskannya, hehehehe
Coba Memaki Coba Memaki Reviewed by Bening Pertiwi on Juni 02, 2020 Rating: 5

2 komentar:

  1. iya, klo di sby sudah biasa kata tsb. Bukan u makian, krn kadang udah nyampur sama obrolan sehari-hari ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. agak was2 juga nulis ini. pengen nulis ini dari lama, cuma harus milih2 kata yang tepat, biar nggak ada yg merasa tersinggung.
      tapi bener kan ya, kata ini sudah jadi bahasa sehari-hari, bahkan kesannya justru bikin makin akrab antar teman, hehehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.