Bersatu Kita Runtuh, Bercerai Kita Kukuh

Ada yang salah? Enggak kok. Bener, kalimatnya memang seperti itu. Aneh ya? Setelah selama ini terbiasa dengan kalimat ‘Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh’, maka di situasi saat ini, justru sebaliknya.
 
Dalam situasi pendemi global akibat si satu itu (betewe, saya menghindari menulis kata satu itu. Statusnya sudah mute di ponsel saya), intruksi untuk social distancing—yang kemudian berkembang menjadi physical distancing—gencar dilakukan. Ya, mau tidak mau memang harus seperti itu. Bukan karena enggak respek, enggak sayang atau engggak-enggak yang lain. Justru sebaliknya, sikap ini menjadi sebuah opsi yang harus dilakukan karena rasa sayang. 

Saya bukan ahli dalam bidang kesehatan. Pun dalam bahasa Indonesia. Dan memang bukan dua hal itu yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini. Tapi, beberapa hal kemudian menjadi konsekuensi dari ‘jaga jarak’ ini. (untuk saudaranya, si wfh, akan dibahas di tulisan lainnya) 

Kalau bahas soal LDR, sebenarnya unsur ‘jaga jarak’ inilah intinya. Hehe. Dalam konsep LDR, mau tidak mau ya jaga jarak. Bahkan memang pilihannya Cuma jaga jarak. Nggak sudah disuruh pun sudah jaga jarak. Dan kalau memang sudah terbiasa, ya udah jalanin aja. 

Beda cerita kalau antar orang dekat. Jaga jarak di satu sisi adalah bukti rasa sayang, yang ingin menjaga orang terdekat dari risiko penularan, dari siapapun dan dari sumber apapun itu. Tapi di sisi lain, tidak adanya interaksi secara fisik menjadi hal yang canggung. Ada yang hilang rasanya. Ada yang aneh. Ada yang ... kurang. 

Belum lagi kalau harus jaga jarak di tempat umum. Banyak orang yang kesulitan melakukan hal ini. Terutama menyangkut transportasi umum. Nggak semua orang punya kesempatan untuk menikmati jaga jarak, atas dasar sayang pada diri sendiri dan peduli pada orang lain. Tidak jarang, mereka ini nggak punya pilihan. Harus sulit melakukan jaga jarak karena berbagai alasan. 

Dan sebagai penutup, ada satu cerita sedih dari twitter tadi. Sebuah video seorang balita yang berlari riang menyambut ayahnya (yang petugas kesehatan) baru saja pulang setelah peperangan panjang di faskes. Meski tangan si ayah terulur, ia kemudian memutuskan untuk meminta anaknya berhenti dan batal memeluknya. Rasa sayangnya terpaksa tak bisa terekspresikan dengan leluasa karena risiko pekerjaannya—di situasi saat ini—. Dan ia hanya bisa mengusap air matanya sendiri sembari menatap anaknya yang mematung menahan tangis. Ya, mereka bahkan terpaksa tidak leluasa menunjukkan rasa sayang mereka. Mereka terpaksa bersikap ‘kejam’ sebagai bukti rasa sayang mereka pada keluarga. Jaga jarak ternyata mengundang irisan bawang merah ini. 

Tenang, saya tidak akan menuliskan cerita sedih lagi kok. Kalau menurut bang Fiersa, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk menabung di ‘Celengan Rindu’. Sampai semuanya kembali pulih seperti semula, ayok kita pecahkan celengan rindu itu bersama-sama. Dan tunjukkan rasa sayang pada orang terdekat, dengan leluasa, tanpa sekat apapun lagi.
Bersatu Kita Runtuh, Bercerai Kita Kukuh Bersatu Kita Runtuh, Bercerai Kita Kukuh Reviewed by Bening Pertiwi on Maret 28, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.