Aku Memilih Bahagia

“Hiks ... hiks ... “ 
“Lah kenapa nangis?” 
“Sedih nih, habis di PHP sama cowok. Huaaaaa!!!” 
Oke, sekian sesi curhat hari ini. 

*** 
Remaja identik dengan masa galau, sedih dan rekan-rekannya. Ya enggak salah sih. Yang salah itu kalau sedih berkepanjangan, nggak tahu asal mula sedihnya, dan terus menerus sedih tanpa ada ujung dan akhirnya. Yang lebih parah, enggak mau cari solusi untuk mengatasi kesedihan ini. Halo ... remaja juga berhak untuk bahagia lho. 


Pertanyaan pertama, apakah kamu bahagia? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu kamu harus ngerti dong, apa sih arti dari bahagia itu sendiri. Jangan-jangan, kamu bisa bilang kalau kamu enggak bahagia, tapi kamu nggak ngerti, sebenarnya bahagia itu seperti apa. Misal nih, kamu dapat rangking satu di kelas, apakah kamu bahagia? Atau misal nih, kamu bisa sarapan tiap pagi, apakah kamu bisa menganggap dirimu bahagia? Atau, apakah bahagia sebenarnya punya standar tertentu? 

Selama ini, para ahli mencoba untuk menjelaskan arti bahagia menurut mereka. Menurut Hurlock (2004), kebahagiaan adalah gabungan dari sikap menerima (acceptance), kasih sayang (affection) dan prestasi (acheivement). Dan untuk mencapai standar bahagia menurut Hurlock ini, ketiga esensi kebahagiaan ini harus dijalani secara bersama. 

Ahli yang lain, Seligman (2002) menyatakan kalau kebahagiaan adalah keadaan psikologis yang positif. Jadi, seseorang yang bahagia memiliki emosi positif yang berupa kepuasan hidup dan juga pikiran dan perasaan yang positif terhadap kehidupan yang dijalaninya. Lebih lanjut Seligman mengungkapkan jika emosi positif bisa berasal dari masa lalu, masa kini dan juga masa depan. Artinya, untuk mencapai sebuah kebahagiaan, maka seseorang ini harus bisa mendapatkan keseimbangan energi positif dari tiga situasi waktu tadi. 

Pusing? Haha ... ya sudah. Kamu nggak harus kok menghapalkan arti bahagia menurut ahli seperti di atas, hanya demi bisa bahagia. 

Nah, buat kamu yang remaja nih, kira-kira setuju enggak dengan konsep bahagia para ahli di atas? Atau, kamu punya konsep bahagia sendiri? Gini deh, coba pejamkan mata sebentar, dan bayangkan hal-hal yang bisa membuat kamu bahagia. Buka mata sekarang! Coba tuliskan hal-hal yang membuat kamu bahagia tadi. Udah? Oke, sekarang bagian selanjutnya. Coba pejamkan sekali mata lagi, dan bayangkan hal-hal yang membuat kamu merasa sedih. Udah? Oke, sekarang tuliskan juga di sebelah tulisan pertama tadi. Coba deh bandingkan, mana yang lebih banyak, hal-hal yang membuat kamu bahagia atau hal-hal yang membuat kamu merasa sedih. Bisakah kamu menyimpulkan dirimu bahagia atau tidak dengan dua perbandingan ini? 

Jujur-jujuran nih, biasanya sih kamu-kamu yang remaja sering kan curhat di media sosial tuh. Ada hal-hal yang membahagiakan dan ada juga yang hal-hal sedih. Sebenarnya, kenapa sih kalian nih yang remaja, suka membagikan hal seperti itu? Apakah ada kepuasan tersendiri ketiga berbagi? Ya ... biar dapat empati dari orang lain, misalnya, kalau kamu posting hal sedih. Atau ... biar orang lain merasa iri dengan postingan yang berisi kebahagiaanmu? Jelas, tiap remaja punya alasan dan tujuan masing-masing ketika membagikan momen bahagia maupun sedih dalam hidupnya, di media sosial. 

Oh iya, sedih ataupun bahagia ternyata juga dipengaruhi berbagai hal dong. Bisa dari diri sendiri ataupun dari luar. Misal nih, urusan pertemanan antar remaja, bisa jadi pemicu rasa galau atau sedih. Masalah keluarga, misalnya, juga bisa membuat remaja enggak bahagia. Sebaliknya, urusan nilai sekolah yang tinggi atau barusa ditembak cowok idaman, juga bisa jadi pemicu bahagia. Bahkan hal sepele macam tiba-tiba ada yang mengirimkan kuota internet saat tengah malam dan krisis kuota, juga bisa membuat rasa bahagia. (ini sih, maunya penulis, hehe) 

Yes! Ternyata bahagia itu beragam. Bahagia menurut satu orang belum tentu bahagia untuk orang lain. Pun sebaliknya, hal menyedihkan pembuat sedih bisa jadi adalah sumber kebahagiaan orang lain. Eits ... bukan berarti berbahagia di atas kesedihan dan penderitaan orang lain ya. Tapi, hal-hal kecil saja ternyata bisa memberikan kebahagiaan bagi sebagian orang. 

Kawan, sejarah mencatat bahwa pencarian kebahagiaan tidak pernah ada ujungnya. Ya ... ketika satu kebahagiaan tercapai, maka—secara naluri—manusia akan mencari dan memburu kebahagiaan lainnya. Bahkan setelah semua usaha dan kerja keras, pada akhirnya naluri manusia akan kembali ke tujuan asal, yakni berusaha mencari kebahagiaan. Jadi, siapkan kamu untuk bahagia? 

Aku Memilih Bahagia Aku Memilih Bahagia Reviewed by Bening Pertiwi on Maret 23, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.