Nengokin Solo sebentar dan Kereta Pertama

Kayaknya tema bulan ini emang jalan-jalan ya, hehe. Setelah bulan kemarin ke Jogja, dan minggu lalu ikut pelatihan penulisan buku, nah giliran minggu ini ke ... Solo. Yayyyy!!! Dan kali ini adalah tugas negara.


Bertolak dari sini sekitar jam sembilan malam, rencana awal naik bus Budiman pun dibatalkan karena ada travel yang bersedia mengatar sampai tujuan. Akhirnya kami bertujuh pun naik travel yang bisa dibilang ... santai-santai ngebut. Sampai di Solo menjelang Shubuh, di SPBU Manahan. Berhubung baru bisa check in hotel setelah Dzuhur, akhirnya kami pun menunggu. Sarapan, mandi, dan lain-lain. Dan berhubung sang sopir punya acara lain, kami pun mau tidak mau menuju hotel. Barang bawaan? Hmmm ... setelah menunggu tidak jelas, akhirnya barang bawaan ditinggal dan tujuan lain adalah ... Goro Assalam. Masih pagi, belum buka.

Beda rombongan, beda gue. Acara yang dijadwalkan hari Sabtu memaksa gue untuk—harus—pulang lebih awal, tanpa ikut rombongan. Dan transportasi yang mungkin adalah kereta. Jadi, ketika yang lain jalan-jalan, gue melipir ke stasiun. Setelah pesan tiket, gue—sedikit—melakukan ide gila, naik bus ke kampus! Ya, kampus gue. Setelah beli minuman, gue menuju halte untuk menunggu bus. Dan ... BST alias Batik Solo Trans pun datang menjemput. Beda jalurnya dengan yang pernah gue tahu dulu. Pun dengan banyak situasi Solo yang berbeda sama sekali. Lalu jalanan yang ... ah gue benar-benar kangen solo. Sekitar setengah jam dan kampus pun di depan mata. Turun di depan halte kampus, gue berencana untuk ikut bus kampus dan keliling sebentar. Tapi sepertinya bus itu sudah tidak tampak. Entah masih ada atau tidak. Yang jelas, gue Cuma sempat foto-foto sebentar saja di depan kampus.

Saat itu WA dari rekan rombongan pun datang. Intinya sih, gue harus segera balik ke hotel. Hmmm, okelah. Tadinya mau naik ojol sih, tapi dihitung-hitung, kok jatuhnya mahal ya? Akhirnya gue memilih naik BST (lagi), meski agak lama. Masih jalur sama seperti tadi. Gue turun di depan RS UNS dan lanjut naik ojol sampai hotel.

Sampai di hotel, ternyata rekan-rekan lain sudah masuk ke ruangan acara. Iya, jadi kedatangan gue ke solo kali ini karena tugas sekolah untuk mengikuti sebuah bimtek yang diselenggarakan oleh Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Nasional. Jadwal yang harusnya kami bisa masuk kamar ternyata diundur entah nanti sore. Duh ... padahal sudah membayangkan bisa rebahan sebentar di kamar hotel eh batal. Outfit gue parah bener kali ini. Tanpa makeup sama sekali, rok panjang, kaos panjang dan jilbab kaos. Bener-bener parah untuk sebuah acara resmi dan lagi gue baru jalan-jalan naik bis. Hmmm ... baiklah.

Acara dimulai hanya sedikit saja terlambat. Setelah pembukaan dan lain-lain, acara langsung dimulai dengan materi dari pembicara. Oke, gue nggak akan banyak cerita soal materi ya. Yang jelas, baru menjelang maghrib kami bisa masuk kamar. Itu pun setelah dipotong makan malam ngebut dan antri untuk mendapatkan kamar.

Sampai di kamar, duduk sebentar lanjut mandi dan siap-siap kembali ke aula acara. Rebahan? Ah lupakan saja. Materi malam ini dilanjut masih dengan terkantuk-kantuk. Rasanya hari ini benar-benar melelahkan bagi gue. Selesai materi langsung ngacir ke kamar, ganti baju, bersihin wajah dan ... tidur.

Hari kedua dimulai dengan lebih baik. Setelah sarapan pagi yang enak, kami kembali ke aula acara dengan lebih segar. Materi hari kedua dilanjut pembicara baru sampai sekitar siangan. Nah setelah Dzuhur dilanjut pemateri ketiga sekaligus praktik membuat perangkat, sesuai dengan materi yang disampaikan. Seperti hari pertama, hari kedua ini juga sampai menjelang maghrib. Belajar dari hari pertama, makan malam kami dahulukan sebelum kembali ke kamar untuk mandi dkk. Jadi, ada waktu lebih banyak untuk mandi dan rebahan, hehe. Malam, materi masih dilanjutkan. Diskusi kelompok dan presentasi. Untungnya nggak kebagian presentasi. Bukan enggak mau presentasi, Cuma memang dengan waktu persiapan yang super pendek itu, rasanya agak sulit untuk tampil. Hari kedua diakhiri dengan tidur yang lebih nyenyak. Eh masih ada tugas sedikit sih. Hmmm

Sarapan hari ketiga tidak senyaman hari pertama. Tapi lumayan lah. Hari ketiga diawali dengan sharing banyak hal dengan kepala sekolah-sekolah keren dari berbagai wilayah. Jelas, acara ini dihadiri guru-guru dari seluruh Indonesia. Dari ujung sumatera hingga papua saja ada perwakilannya. Dan dilanjut dengan materi dari Rumah Belajar. Akhirnya ... download aplikasi ini lagi, hehe. Sempat was-was soal penutupan, takut tidak terkejar kereta. Tapi alhamdulillah semua lancar sih. Makan siang sudah dalam bentuk kotak.

Kembali ke kamar dan ganti baju. Sudah packing tadi pagi, jadi mendingan lah. Setelah pamit dengan rekan sekamar dan yang lain, gue punya tujuan lain. Pusat oleh-oleh. Ya, daripada cicicuit nggak jelas. Untungnya di depan hotel ada pusat oleh-oleh. Cuz deh mampir ke sana sebentar. Nggak kebanyakan mikir dan milih, langsung ambil beberapa dan bayar. Pesan ojol dan cuzzz ke stasiun. Duh, mana ini tas dan bawaan banyak banget lagi.

Membelah panasnya kota solo dengan rok dicincing ke atas—meski pakai dalaman celana sih—tapi tetap saja rasanya aneh, hehe. Sampai stasiun, check in dan masuk ruang tunggu. Masih ada waktu sekitar 45menitan lah. Kotak makan siang pun gue buka. Nikmatnya makan siang setelah kejar-kejaran dengan waktu dan panas, nyam nyam. Dan memang harus sih, buat mengurangi isi tas.

Kereta datang tepat waktu. Gue pun naik dengan barang bawaan yang errrrrggghh. Ternyata dapat gerbong paling belakang. Ya jelas lah, beli tiketnya aja mepet gitu. Gue duduk bareng dua orang ibu-ibu—mungkin akhir 40-an—yang punya tujuan sama, stasiun Banjar. Dan setelahnya ada satu orang lagi mas-mas mungkin 30-an yang naik kemudian dan duduk di depan gue.

Kursi sebelah gue diisi oleh enam orang remaja yang naik dari stasiun Lempuyangan di Jogja. Dari gaya berpakaiannya sih, mereka anak-anak gaul. Entah memang main atau gimana, gue nggak tahu. Yang jelas, nantinya gue tahu kalau tujuan mereka ciamis atau tasik. Jelas nggak turun bareng gue.

Terkantuk-kantuk gue naik kereta. Mungkin karena lelah juga, kepala agak cenut-cenut. Dan agak surprise dengan remaja sebelah kursi. Kebetulan gue lagi libur sholat, jadi bisa memperhatikan mereka. Menjelang maghrib, mereka buka bekal makan dan makan bersama. Entah karena nggak beli banyak makan atau memang sengaja demi kebersamaan. Dari keenam remaja tadi, ada dua remaja yang menyempatkan tayamum dan lanjut Sholat Maghrib. Iya, Sholat. Nggak salah lihat kok. Bahkan gue rekam kok, hehe. Sory. Ternyata mereka masih inget Sholat ya. Ya, jangan pernah menilai penampilan deh. Habis Sholat? Ya balik nge-HP lagi. Eh tapi, ada juga kok yang habis Sholat masih sempat murojaah hafalannya. Duh dek, kalian benar-benar keren banget sih.

Nah kalau ini, cerita dari kursi depannya. Ada dua remaja pria yang—sepertinya bareng—ngobrol. Dan salah satu dari mereka membawa buku tentang .. duh, kok malah lupa sih sebutannya. Itu lho, tanaman yang banyak di aceh dan bisa dibuat rokok yang bikin nge-fly. Itu deh. Mereka ngobrol seru sepertinya. Dan gue sempat foto judul bukunya. Mungkin bisa gue cari buku itu suatu saat nanti, untuk bahan bacaan.

Btw, ini perjalanan pertama gue naik kereta Solo-Banjar. Sebelumnya, belum pernah sama sekali. Sampai di stasiun Banjar setengah 7 malam. Turun dan menyeret bawaan agak kesusahan, ditambah jemputan yang super lama. Sampai di rumah, mandi, makan dan tidur. Benar-benar melelahkan hari-hari ini. Hmmm ...




Nengokin Solo sebentar dan Kereta Pertama Nengokin Solo sebentar dan Kereta Pertama Reviewed by Bening Pertiwi on Desember 09, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.