Perhatian atau Obsesi?



Kata dasar dari perhatian adalah perhati. Btw, saya baru tahu hal ini. Menurut kbbi, per-ha-ti, ber-per-ha-ti-an dapat diartikan sebagai mempunyai perhatian atau menaruh minat. Sedangkan kata me-mer-ha-ti-kan diartikan sebagai melihat lama dan teliti; mengamati; merisaukan; mengindahkan. Dan kata per-ha-ti-an sendiri merujuk pada arti hal memperhatikan; apa yang diperhatikan; minat. Lalu pelakunya sendiri disebut pe-mer-ha-ti­ yang dimaksudkan sebagai orang yang memperhatikan; peminat; pengamat.



Oke, belajar bahasa dulu ya, hehe


Lain perhatian, lain obsesi. Ternyata menurut kbbi, obsesi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa. Memiliki kata dasar obsesi, ob-se-si diartikan sebagai gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan. Ter-ob-se-si berarti terkena obsesi.


Duh, artinya aja udah nyeremin gini ya si obsesi ini. Jadi mau nulis apa sih ini sebenarnya?


Oke, ini masih berkutat soal hubungan ya. Entah itu simbiosis mutualisme ataupu jenis simbiosis lainnya. Entah hubungan saling menguntungkan atau yang satu untung dan yang lain rugi.


Perhatian dalam sebuah hubungan itu perlu dan wajib. Care atau peduli itu harus. Siapa sih yang nggak ingin tahu kabar dan keadaan si dia-nya. Apalagi kalau jauh. Apalagi yang LDR. Jadi pertanyaan lagi apa, udah pulang belum, udah makan belum atau pertanyaan lainnya, sebenarnya adalah bentuk perhatian pada pasangan. Siapa sih yang nggak seneng diperhatikan? Siapa sih yang nggak bahagia ada yang selalu peduli. Pun hubungan yang bersifat saling menguntungkan ini, harus ditunjang oleh kedua pihak. Yakali yang perhatian Cuma satunya aja, yang lain enggak perhatian. Kan males banget. Enak di kamu, enggak enak di gue dong.


Tapi, seperti halnya makanan, yang berlebihan selalun nggak baik. Begitupula dengan hubungan.


Perhatian yang berlebihan dalam hubungan, ada kalanya akan menimbulkan rasa tidak nyaman lagi. Terkekang dan semacamnya. Tiap jam ditanya pertanyaan yang sama, lagi di mana, sama siapa, ngapain aja. Sehari sekali dua kali, masih wajar. Tapi tiap setengah jam sekali? Awalnya sih seneng-seneng aja, lama-lama bikin bete. Kan perhatian? Iya sih, minum air segelas pas haus enak kan? Tapi kalau udah nggak haus, masih dipaksa minum, bkukan enak lagi eneg. Gitu juga dengan perhatian. Sesekali tuh bikin seneng, tapi kalau tiap jam, bikin muak.


Ya, emang sih, kembali pada masing-masing orang. Ada yang enjoy aja dengan perhatian ekstrem gitu. Tapi ada juga yang lama kelamaan jadi males. Pada akhirnya, itu bukan lagi perhatian. Alih-alih berubah jadi obsesi tersendiri. Nggak bisa nggak tahu kabar pasangan. Kekhawatiran yang berlebihan. Curiga yang overdosis. Cemburu yang keterlaluan. Perhatian bukan lagi bikin nyaman, tapi jadi nggak aman.


Efeknya? Matikan notif ponsel. Etapi kalau nggak dibalas tiap chat, bisa jadi perang dunia. Nggak bebas upload foto. Bahkan ada yang rela untuk me-ngecualikan pasangan untuk tidak bisa melihat status terbaru. Wow ...


Perhatian dan obsesi itu beda ya. Tapi jangan sampai juga perhatian berubah jadi obsesi. Kenapa nggak coba percaya sih sama pasangan? Minta dipercaya, eh malah nggak mau percaya pasangan. Coba deh komunikasikan juga. Kalau ‘harus laporan tiap jam’ itu bikin nyaman atau enggak. Kalau nyaman-nyaman aja, ya lanjutkan. Tapi kalau bikin nggak nyaman, ya tahan diri lah. Hubungan butuh kesepakatan kedua pihak. Hubungan itu bikin nyaman, bukan bikin makin terhimpit perasaan.


Udah sih, mau nulis gitu aja. Semoga gue dipertemukan dengan pasangan yang perhatian tapi juga ngasih kepercayaan penuh. Sekaligus bisa dipercaya dan suka juga dikasih perhatian. Eh, mintanya kebanyakan ya? Amin-kan aja deh, hehehehe






Perhatian atau Obsesi? Perhatian atau Obsesi? Reviewed by Bening Pertiwi on Oktober 02, 2019 Rating: 5

2 komentar:

  1. Kykny dulu sy obsesi sm mas Kenshin, Na. Bkn perhatian. Pengenny ngliatin pilem dia mulu *lol"

    BalasHapus
  2. 😅😅😅
    Baiklaaaa

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.