Balada Enam Kilogram

(Percaya deh, diet nggak selamanya indah doang, hihihi)
Turun enam kilogram dalam waktu satu tahun, bukan sebuah rekor istimewa sebenarnya. Ini masih bisa dibilang biasa. Hmmm ... dengan tinggi yang Cuma segini, dan bobot segini, sesuai perhitungan sih dengan turun enam kilogram itu, jadi masuk area hijau, alias area ideal.


sumber gambar : https://www.health.harvard.edu/diet-and-weight-loss/the-perfect-diet
Kalau lihat iklan soal penurun bobot badan, kayaknya emang seru banget ya. Badan yang tadinya jumbo, oversize dan sebutan teman temannya itu, berubah menjadi ideal nan didamba. Eits, tapi turun bobot badan bukan berarti selesai gitu aja sih. Nyatanya, turun bobot badan nggak berarti semua masalah selesai gitu aja. Nyatanya, masih banyak hal hal lain yang juga harus dibahas dan ditunaikan.

Intermezo ya, gue nggak secara khusus diet untuk nurunin bobot badan. Karena sebenarnya, bobot badan gue dulunya masih termasuk ideal (secara perhitungan) meski tampilannya belum enak dilihat. Kalau kata bapak sih, yang penting sehat. Gue memang pernah diet secara khusus dengan salah satu produk makanan diet. Jadi sarapan dan makan malam, diganti minum produk itu. Nggak perlu disebut kan ya, hehehe. Hasilnya? Sempat turun empat kilogram, hingga ketika gue berhenti, eh naik lagi dua kilogram. Jadi gue hanya berhasil menurunkan dua kilogram saja. Nah yang satu kilogram entah ilang kemana, mungkin karena nafsu makan gue yang jadi berkurang pasca diet. Satu kilogram lainnya ilang waktu gue sakit. Dan dua kilogram lainnya ilang saat bulan puasa. Jadi, ditotal ilang enam kilogram dalam rentang hampir setahun. Alhamdulillah, hingga dua bulan setelah puasa pun, nggak ada penambahan bobot badan gue lagi. Alias, nggak ada kenaikan lagi.

Yang sebenarnya pengen gue ceritain adalah kisah setelah penurunan bobot badan ini.

Masalah pertama, adalah donor darah. Iya, gue termasuk salah satu yang cukup aktif ikut donor darah. Dan selama ini, kalau donor, semua aman aja. Karena bobot gue selalu di atas 50 kilogram (di sini batas minimal donor harus 50 kilogram). Nah dengan bobot gue sekarang, khawatirnya gue ditolak donor, meski HB maupun tekanan darah normal. Dan donor terakhir gue pun gagal, lantaran gue lagi flu dan ditolak sama perawatnya, hiks ... Dilemanya adalah, kalau gue naikin bobot lagi, nggak jadi langsing gue, tapi bisa donor. Atau ... gue tetap dengan bobot sekarang, Cuma terancam nggak bisa donor. Eh, gimana ini? Donor kemarin ini pun gue nggak ngaku sama perawatnya kalau bobot gue di bawah limapuluh. Dan ternyata masih gagal karena flu. Emang niat baik, tapi nggak jujur itu, nggak diridhoi ya, hiks.

Masalah kedua, lemak yang masih nyisa. Kalau menurut temen gue yang ahli gizi, tubuh yang sehat itu harusnya kadar lemaknya rendah, alih alih lemak itu berubah jadi otot. Nah, setelah turun bobot tubuh, masih ada tuh lemak nyisa di beberapa bagian tubuh. Selain nggak sehat, nggak indah juga dipandang dong ya. Masak bergelambir gitu. Solusinya sih Cuma satu, olahraga. Nah ini nih, yang kadang masih susah dilakukan. Kulit yang pernah melar akibat terisi terlalu banyak lemak kan nggak bisa mengkeret otomatis. Harus ada perlakukan, olahraga. Padahal olahraga aja males, hihihihi. Dasar gue! Belum lagi garis garis cantik sisa melar, stretch mark, yang nggak bisa ilang gitu aja.

Masalah ketiga, ukuran celana dan baju. Oke, gini ya, dengan turun enam kilogram saja, ternyata lingkar pinggang gue menyusut delapan centimeter. Dan ini jadi masalah besar bagi gue. Karena sebagaian besar celana ataupun rok gue jadi kedodoran. Duh, maaaak. Iya, iya, kalau model celana/rok dengan karet sih enggak masalah. Nah model model yang non karet ini. Kan sayang nggak bisa dipakai lagi karena kebesaran. Hmmm ... ada sih yang beberapa yang gue akali, gue pasangi karet/elastis dalamnya, hingga bisa gue pakai kembali. Selain rok dan celana, baju gue juga jadi kedodoran semua. Bahkan meski bagian jahitan di bawah lengan dan kupnat udah ditambah pun, masih kerasa kedodorannya. Bukan berarti gue suka baju ketat ya. Gue Cuma suka baju dengan ukuran pas di badan. Nggak kedodoran, sesuai bentuk tubuh tetapi nggak ketat juga. Nah loh, gimana ini. Ini berlaku banget sama dress juga, terutama yang nggak ada aksen serut atau tali di pinggang yang nggak bisa diatur kelonggarannya. Kan nggak lucu, masak pakai dress, tapi kedodoran. Intinya sih, turun bobot badan itu konsekuensinya harus beli baju baru, hahaha ... atau harus ngantri ke tukang jahit, buat ngecilin baju. #ups

Masalah keempat, ke-pede-dan dalam penampilan. Pede itu, saat penampilan keren. Pakai baju sesuai tubuh, baik warna, ukuran maupun acaranya. Dan wajah yang cerah ceria. #ehe. Gue nggak akan bahas wajah ya. Ini urusannya sama baju. Jadi, dengan bobot gue yang dulu, gue suka nggak pede pakai baju. Gue selalu nyari baju dengan size besar. Nah, dengan bobot yang sekarang, otomatis ukuran pakaian gue turun ya, yang dulunya L sekarang jadi M, bahkan S khusus untuk dress. Cuma masalahnya, sampai saat ini gue belum pede pakai baju yang ukuran M atau S ini. Kadang sering mikir gini pas liat orang lain pakai baju, kok luwes banget. Ya iyalah luwes, badannya aja kecil. Gue juga bisa dong ya, sekarang pakai baju gitu, kelihatan luwes dan nggak gendut. Nyatanya ... gue masih belum pede dengan baju yang macam macam. Gue masih nyari aman dengan pakai pakaian lama gue, yang masih size besar. Karena mengubah kebiasaan dan memunculkan rasa pede berpakaian ternyata nggak bisa instan ya. Terbiasa bertahun tahun dengan ketidak pede an berpakaian, justru sekarang saat punya kesempatan, eh guenya yang nggak pede.

Jadi, begitulah cerita soal penurunan bobot tubuh yang gue alami. Buat elu2 yang berniat menurunkan bobot tubuh, nggak Cuma sekadar mikir gimana caranya turun ya. Tapi pikirkan juga hal hal lain yang mungkin jadi konsekuensi atas penuruan bobot tubuh elo. Yang Cuma turun enam kilogram aja, gue ngerasa repot sama penampilan. Apalagi yang mengalami turun lebih banyak lagi.

Dan .... dari semua hal ini sih, yang utama, nggak peduli mau elo masuk kategori big size ataupun small size, asal sehat. Jadikan apapun ‘sehat’ sebagai tujuan utama elo. Percuma gendut dan sakit, atau kurus dan sakit. Mau gendut atau kurus, asal sehat dan bahagia. Selamat berbahagia, kawan kawan

Btw, gue bersyukur banget kok dengan bobot gue yang sekarang. Karena yang perlu gue lakukan adalah menemukan solusi atas semua kekhawatiran di atas. Hidup sehat dan bahagia #chuuu


PS : btw, gue nulis begini bukan bermaksud body shamming ya. Gue Cuma berbagi beberapa hal yang jadi kekhawatiran gue aja. Ya siapa tahu ada pembaca yang punya solusi atas kekhawatiran gue ini. Atau mungkin punya pengalaman yang sama, share aja ya. Sila komen di bawah.

Oh ya, gue pakai istilah ‘bobot’ bukan ‘berat’ ya di tulisan ini. Karena yang benar memang ‘bobot’, jika satuannya kilogram. Istilah ‘berat’, yang benar menggunakan satuan newton. Gitu, kata guru fisika, hihihihi
Balada Enam Kilogram Balada Enam Kilogram Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

6 komentar:

  1. Hehe...dilematis y na, kurusan serba repot jg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya na, hp ilang akun yg bs dipake komen tinggl ini^^ mknny hira ninggalin almt surel biar na g bingung :)

      Hapus
    2. semoga dapat ganti yang lebih canggih ya, hihihihi

      jadi keinget, hape Na juga sempat eror beberapa bulan yg lalu
      kontak dan data hilang semua
      untung masih bisa login akun medsos
      jadi masih bisa kontak kawan2
      hmmmm

      Hapus
    3. Hehe...g na, gantiny yg murah2, cause orngny lupaan, ini dah berapa kali tertinggal d tempt kerja. Blm lg ketinggaln d rmh ^^ g kebayang klo yg ktinggln hp yg mhl:D

      Iya ni, no na n tiwi sm yg lainny hilang. Untung msh bs ninggalin jejak d medsos "_"

      Hapus
    4. hihihihi ...
      kalau begini medsos jadi ngebantu banget ya
      jadi masih ada cara untuk hubungi

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.