Story – Menjaga Kehormatan (Nama Baik) Suami

Hai, hai ... balik nulis lagi. Lebih tepatnya, maksa nulis lagi. Tema kali ini soal keluarga. Ehm ... bukan gue sih. Ini cerita rekan kerja. Bukan gue ya, catet! Hahaha

Bisik bisik yang merembet menjadi ribut dimulai saat beberapa rekan kerja komplain, karena salah satu atasan tidak berada di tempat saat sedang ada kegiatan penting, karena menemani istrinya yang baru melahirkan. Sebagai bawahan, wajar kan ya, kalau kami kami ini sangat sering ngeributin sang atasan.
Nah, masalah dimulai saat ternyata, pesan pesan di ponsel sang atasan dibalas oleh si istri. Awalnya, nggak ada yang tahu kalau si istri ini yang membantu membalas pesan pesan beliau. Sampai suatu saat, balasan (soal pekerjaan) yang ada menjadi kacau lantaran muncul balasan pesan yang ... kurang bertanggungjawab. Kira kira begini balasannya, ‘biar yang lain belajar, masak iya mau ngerepotin (suami) saya terus.’ Jeger!!!! Balasan ini ternyata jadi masalah.

Iya, jadi masalah lantaran staf/bawahan yang lain beranggapan kalau ini nggak sopan. Masak iya, si istri ini yang balas pesan pesan si suami. Bukan berarti istri nggak boleh buka ponsel/balas pesan di ponsel suami. Tapi, kalau balasannya sesuai arahan si suami, tentu nggak akan jadi masalah.

Well ... kalau dilihat dari sudut pandang si istri, ya siapa sih yang suka kalau suaminya repot liatin hape terus. Istri tentu butuh perhatian, apalagi kondisi baru melahirkan. Menurutmu gimana?

Cuma masalahnya (dari sudut pandang staf/bawahan dan lembaga), situasi saat itu, ada kegiatan penting di lembaga (berhubungan dengan orang luar juga), yang sebenarnya menuntut keberadaan si suami. Dia orang penting ya, yang saat itu tanda tangan maupun kehadirannya dibutuhkan. Sebenarnya, staf/bawahan yang lain bisa memaklumi ketidakhadiran si atasan ini. Cuma, ya kalaupun tidak hadir, si atasan tetap bisa memantau atapun memberikan intruksi meski lewat ponsel. Sayangnya, solusi tengah tengah ini diintervensi.

Ribet ya? Ya begitulah ... nggak ada yang bisa disalahkan karena hal ini.

Masalah selesai? Enggak dong ... karena gue dan beberapa rekan yang lain (tim masih single) yang kemudian diperingatkan oleh staf staf senior, untuk tidak bersikap seperti istri si atasan ini. Tidak sembarang ikut campur urusan suami. Tidak sembarang membalas pesan di ponsel suami. Apalagi ini urusan pekerjaan. Tahu, silahkan. Ikut komentar, juga silahkan. Tapi, tidak ikut campur saat membalas pesan di ponsel. Jika terpaksa balas pesan, balaslah sesuai intruksi si suami.

Dan semua itu dengan alasan, ‘menjaga kehormatan suami’.  Lebih khususnya, menjaga nama baik suami. Sudah risiko menjadi istri orang penting, untuk bisa lebih legawa dan mengalah, karena suaminya bukan Cuma miliknya sendiri. Tetapi juga milik umat, staf dan lembaganya. Gue dan yang lain Cuma bisa mengiyakan hal ini dalam hati. Kami hanya bisa menyimak dan mendengarkan saja.

Kemudian gue mikir sih ... menikah dan membangun keluarga bukan hal sepele soal hidup berdua saja. Bukan juga hanya soal dua keluarga pula. Tapi juga soal lingkungan yang lebih luas lagi. Menikahi seseorang bukan hanya menikahi orangnya saja. Tapi juga menikahi keluarganya, pekerjaannya dan orang orang di sekitarnya.

Terimakasih untuk pelajaran penting sederhana ini. Kalau nggak ada kayak gini, mungkin gue nggak akan tahu dan ngerti.

(ini cerita nyata ya. Gue menuliskannya bukan untuk membuka aib atau menjelek jelekkan seseorang. Tapi semata agar pengalaman ini bisa jadi pelajaran buat diri gue sendiri maupun orang lain)
Story – Menjaga Kehormatan (Nama Baik) Suami Story – Menjaga Kehormatan (Nama Baik) Suami Reviewed by Bening Pertiwi on Juli 08, 2019 Rating: 5

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ampuuuun, komennya kehapus, hahahaha
      gak sengajaaaaaaaa

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.