My (Dream) Novel

Jadi ternyata kerinduan akan menulis nggak Cuma gue yang merasakannya. Beberapa waktu belakangan, ada kawan yang juga posting hal yang serupa. Kangen nulis. Rupanya menulis seperti ini saja belum cukup (serius) bagi kami, untuk disebut tulisan, karya. Rupanya, curhatan sederhana ini saja masih belum bisa memberikan rasa puas dan nyaman, akan sebuah kerinduan, rindu menulis.


Ah, benarkah rindu menulis? Atau rindu menyelesaikan tulisan? Sepertinya tidak jauh berbeda.

Jadi, dari obrolan di salah satu grup (gue Cuma nyimak), kawan penulis satu ini selalu punya cara menyenangkan saat menulis. Atau lebih tepatnya, dia selalu berhasil menghadirkan rasa menyenangkan saat menulis. Dan nggak heran, tulisannya banyak. Karya karyanya terus saja terbit. Jujur, gue iri dengan perasaan seperti itu.

Dari semua obrolan panjang di grup, ada sebuah kesimpulan menarik yang sebenarnya sudah umum diketahui, tapi memang bagi gue, perlu untuk ditegaskan lagi. Sebelum menulis novel, penting untuk membuat plot. Agar tidak berhenti apalagi kehilangan arah dan jadi debu ... eh

Ada lima point penting dalam sebuah cerita. Lebih tepatnya point pokok naskah fiksi. Pertama story world atau gue lebih suka menyebutkannya sebagai setting. Setting ini termasuk di dalamnya ada tempat dan waktu. Jelas, gue harus bisa membayangkan dengan jelas tempat tempat yang akan jadi latar cerita di novel gue nantinya. Ditambah lagi dengan setting waktu. Kapan kisah ini terjadi? kalau kata kawan penulis ini, senangnya membuat setting adalah bisa jalan jalan, meski tidak secara fisik, hehehe

Kedua, karakter. Iya, karakter atau tokoh. Dalam pelatihan menulis yang ... gue lupa kapan ikutnya, tokoh adalah penghidup cerita. Atau gini deh, characters makes a story, not story makes a characters. Jadi, karakterlah yang membuat cerita. Semakin unik karakter yang dibuat, maka ceritanya pun akan semakin unik. Saat mentok membuat cerita, bukan karakter yang perlu diubah menyesuaikan cerita, tapi ceritalah yang harus dibuat sesuai dengan karakternya. Jika bisa demikian, itu artinya karakter yang dibuat unik dan kuat. Dan ini point penting yang bisa jadi daya tarik cerita, kekuatan karakter. Seorang kawan pernah ngasih tips juga sih. Kalau susah menciptakan karakter, cari tokok/orang/sosok terkenal deh, terus jadikan dia karakter dalam ceritamu. Perlahan nanti kamu akan bisa menemukan karakter yang ‘kamu banget’.

Ketiga, plot atau alur cerita. Sebenarnya sih ini justru yang terakhir ya. Rangkaian lengkap cerita, bisa dalam bentuk poin poin ataupun ringkasan. Cerita dari awal, konflik hingga penyelesaikan. Lengkap kap kap. Harus lengkap. Katanya sih biar nggak kehilangan arah dan nyasar, apalagi mentok, hehehe

Keempat, tema. Ini harusnya sudah dibuat dari awal sih. Memangnya mau nulis pake tema apa sih? Tema sepanjang masa yang nggak ada habisnya ... CINTA. Hahahaha. Dan sepertinya gue masih terlibat sama tema satu ini deh.

Kelima, style atau gaya tulisan. Yang satu ini sebenarnya sih tergantung penulisnya ya. Ada yang memang sudah punya gaya tulisan sendiri yang jadi ciri khasnya. Tapi ada juga yang masih meraba dan mencari cari gaya yang paling pas, khas dari dirinya (itu gue). Tapi, nggak punya gaya tulisan bukan berarti nggak jadi nulis lho ya.

Nah, dari kelima tema ini, gue lagi bikin karakter. Ada beberapa karakter dan nama yang sudah gue siapkan. Cuma memang, gue butuh detail dari tiap karakter yang gue buat. Ya, seperti tadi di atas, kekuatan karakter. Makannya, gue lagi nyari tokoh yang memang sangat mirip dengan karakter gue. Semoga segera bisa lanjut ke bagian lainnya ya, dan jadi naskah lengkap. Amiiiin.
My (Dream) Novel My (Dream) Novel Reviewed by Bening Pertiwi on April 06, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.