Balada kuli gaji vs Pekerjaan impian

Kopi sudah habis satu cangkir. Kepala agak senut-senut sih, mungkin terlalu lelah. Dan tangan juga terasa pegal menjelang kesemutan. Ah ya ... seperti ini rasanya punya kesibukan atau pekerjaan.

Cita-cita utama seorang pekerja adalah segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang ke rumah, tidak berencana untuk lembur. Bahkan kalau perlu sangat menghindari lembur, jadi diusahakan semua selesai agar si bos tidak mengusulkan ide absurd weekend à lembur. Selalu berusaha untuk memastikan jika hari libur tidak terganggu oleh apapun soal pekerjaan.

 
Sebagai pekerja-normal-biasa-tidak-terlalu-istimewa, yang namanya lelah serta mengeluh pasti ada. Tapi gue juga inget kata-kata bijak, ‘syukuri kesibukan/pekerjaan elo sekarang. Bisa jadi, kesibukan/pekerjaan elo sekarang adalah impian orang lain yang tidak punya pekerjaan/kesibukan itu.” Kekata ini yang tidak jarang jadi hiburan tersendiri pada saat lelah dan ingin mengeluh.

Jadi seperti ini rasanya bekerja.

Ada yang bertahan dengan pekerjaannya dengan berbagai alasan. Ada yang memilih menepi dari pekerjaan itu dan mencari pekerjaan—membosankan—lainnya. Ya, seperti itulah siklus kehidupan. Tidak pernah benar-benar beranjak, hanya berputar sesuai siklus yang akan kembali posisi semula.

Kalau nggak mau kerja dan capek, ya punya usaha sendiri dong. Jelas, ini impian banyak orang. Nyatanya, ada banyak alasan untuk tidak memilih peluang/kesempatan ini. Dan tidak orang tidak punya hal untuk menyalahkan atau menghakimi alasan maupun pilihan ini. Toh ini pilihan mereka. Dan mereka sendiri yang nantinya akan bertanggungjawab dengan konsekuensinya.

“Pengen resign deh, capek kerja di sini.”

Nggak semua keinginan harus diwujudka kok.

“Pengen berhenti aja. Nggak nyaman lingkungan kerjanya. Karak ter orang-orangnya toksik banget!”

Mungkin elo butuh menyesuaikan diri lebih dan bawa anti virus paling kuat untuk mengatasi rang-orang toksik.

“Pengen berhenti, tapi nanti cari pekerjaan baru juga nggak mudah. Gue harus mulai dari awal lagi dong. Jadi newbie lagi. Males!”

Elo butuh rehat sebentar. Dinginkan kepala. Lalu pikirkan manfaat dan kerugian untuk tetap bertahan di pekerjaan ataupun memilih berhenti. Kalau udah yakin, baru putuskan.

“Lingkungan di tempat kerja gue toksik banget!”

Kalau elo nggak bisa mengubah lingkungan/sistem di sekitar elo, maka yang harus elo lakukan adalah mengubah mindset elo. Lingkungan kerja elo mungkin hanya ruangan 8x8 m, gak bisa diperluas lagi. Tapi pikiran dan hati elo masih bisa diperluas lagi tanpa batas. Itu yang harus elo lakukan.

Nggak ada yang sempurna dengan diri elo. Pun dengan rekan kerja dan lingkungan pekerjaan di sekitar elo.

Yang sekarang berpikir untuk bertahan di tempat kerja hingga lima-sepuluh tahun lagi, bisa saja dua hari lagi tetiba resign. Siapa yang akan tahu? Atau, orang yang sudah berencana resign sejak tiba bulan silam, ternyata akhirnya malah bertahan hingga bertahun-tahun nantinya. Bisa saja.

Pada akhirnya, ini jadi nasehat untuk diri gue sendiri. Bersyukurlah elo yang punya pekerjaan/kesibukan yang sesuai dengan passion elo. Hingga tiap kali elo menjalaninya, elo nggak merasa sedang bekerja. Alih-alih seperti sedang menikmati waktu luang dengan melakukan hobi. Buat elo yang punya kesibukan/pekerjaan yang nggak sesuai passion—hanya demi bertahan hidup—nikmati saja waktu elo, jaga kesehatan karena elo perlu siapkan waktu khusus untuk tetap menikmati passion elo, supaya elo tetap waras. 
Jangan lupa juga ngopi, supaya elo tetap waras, hehehehe ^_^
Balada kuli gaji vs Pekerjaan impian Balada kuli gaji vs Pekerjaan impian Reviewed by Bening Pertiwi on Maret 08, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.