Cerita terjemahan - COMEBACK

Tulisan di bawah ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Inggris dari salah satu majalah. Well, detailnya nanti di bawah ya. Libur kemarin itu, lagi gabut banget. Jadi iseng buat menerjemahkan cerpen bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Semoga nggak ada masalah ya. Tenang aja, gue akan tetap menuliskan nama penulis aslinya dan dari mana gue mengutip. Enjoy ^_^

COMEBACK by Lathifah Indah Larasati 

(diterbitkan di majalah Story edisi 55 / Th.V / Mei 2014)

“Oh! Maaf, dear! Apa kau baik-baik saja?”

Aku melihat ke arah sepatuku yang terkena noda wine. Aku mendongak dan menemukan seorang wanita tua di depanku, mungkin pertengahan 70-an.

“Oh, tidak apa-apa.”

Dia mengeluarkan sapu tangannya dan—mencoba—berjongkok untuk mengelap sepatuku. Aku menghentikannya sebelum dia mematahkan pinggangnya.

“Kau tidak perlu melakukannya. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku hanya perlu ke toilet.”

“Aku akan pergi bersamamu, kalau begitu ... “

“Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri,” ujarku dengan senyum setengah hati.

Tolong tinggalkan aku sendiri, batinku. Tapi dia memahaminya berbeda, “Aku ingin memastikan kau baik-baik saja,” dan dia melihat sekeliling seperti mencari seseorang. “Aku terpisah dari cucuku, sebenarnya.”

Aku tidak tega meninggalkan seorang wanita rapuh sendirian di pesta yang ramai dan memberikan pinggangku untuk pegangannya.

“Siapa namamu, dear?”

“Samanta, Nyonya.”

“Kau bisa memanggilku Wulan.”

Aku pergi ke toilet sendirian saat—aku merasa aneh memanggil seseorang yang lebih tua, terutama jauh lebih tua dariku dengan nama—menunggu di luar. Butuh waktu singkat bagiku membersihkan sepatuku dan dua menit berikutnya kuhabiskan merapikan kembali riasanku selambat mungkin.

Aku tidak benar-benar ingin kembali ke sana lagi. Dengan orang-orang asing di sekelilingku, itu membuatku tidak nyaman. Ibuku sudah lenyap di tengah lautan manusia di sana yang tidak ingin kudatangi. Aku tidak bisa pulang sekarang karena kami berkendara bersama. Dan sekarang ada wanita tua ini yang menunggu di luar, mungkin akan terus menempel denganku hingga cucunya yang menghilang, hanya Tuhan yang tahu, menemukannya.

Aku menikmati kesendirian. Aku lebih suka sendiri daripada bersama orang yang tidak kusukai. Tapi sekarang aku harus keluar dan menghadapi dunia sosial.

Aku keluar dari toilet dan menemukan wanita tua itu tengah bicara dengan seorang pria muda, sekitar seusia denganku atau mungkin lebih muda, yang sepertinya cucunya. Aku baru saja berbalik untuk meninggalkannya, karena sudah ada yang menjaganya, saat dia memanggilku. Aku berjalan kembali pada mereka, masih, dengan senyum setengah hati.

“Samantha, ini cucuku, Luke. Luke, ini gadis yang tadi kuceritakan.”

Luke mengulurkan tangannya, “Terimakasih sudah menemani neneku. Aku tersesat tadi.”

Aku menjabat tangannya dan semuanya berubah jadi gerak lambat. Seperti waktu berhenti dan aku hanya melihatnya. Mata cokelatnya, senyum tipisnya, dan tahi lalat kecil di tulang pipinya. Dan semuanya jadi normal lagi.

“Senang bertemu denganmu,” ujarku dengan senyum yang agak terlalu bersemangat. Wow, cara untuk menarik perhatian pria, Sam. Aku melepas genggaman tangannya sedikit lebih cepat. Inilah kenapa kau tidak pernah punya kakasih, Sam.

“Apa kau datang ke sini sendiri?”

“Tidak. Aku datang bersama ibuku tapi di ada di sana,” aku menunjuk luatan manusia di depanku.

Wulan tiba-tiba saja berbalik dan menepuk pundak seorang pria tua, “Pak Sutomo!”

Luke melihat ke arah neneknya dan menghebuskan nafas panjang, “Teman lain lewat, kesempatan untuk beranjak.”

“Itu rima,” aku tidak bermaksud mengatakannya, tapi itu keluar dari mulutku.

Luke nyengir dan melihat ke arahku. Aku tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki—ataupun perempuan—di sekitarku dan tatapannya membuatku tegang.

“Mau berkeliling denganku sebentar?” tanyanya.

Mungkin ini waktunya untuk membuka pintu lagi, Sam. Aku tahu kau kesepian di sana. Biarkan dia masuk. Hati kecilku bicara begitu. Dan aku membiarkan mereka mengontrolku.

***

Aku tidak ahli dalam hubungan, tapi aku yakin jika seseorang mengirimimu pesan setiap hari, maka artinya dia menyukaimu. Dan itu yang terjadi padaku dan Luke selama beberapa minggu ini. Kami bertukar nomer di pesta itu dan dia mengirimiku pesan, seperti tidak pernah kehabisan ide.

L : “Apa kau mau pergi ke Jakarnival?”

S : “Tidak, aku mau tidur seharian.”

L : “Haha. Kirimi aku pesan besok!”

Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku di hari berikutnya.

S : “Hei, mau keluar dan mungkin nonton film?”

L : “Aku bukan penggemar mall.”

S : “Ya, aku juga.”

L : “Kau bisa datang ke rumahku dan nonton banyak film. Kalau kau mau.” “ps: aku punya home theater”

S : “Apaaaaa? Kau ini konglomerat atau apa? Kenapa kau punya home theater?”

L : “Tidak, itu ayahku. Untuk nonton banyak film! Ya atau tidak?”

S : “Yaaaa! Apa aku harus datang di akhir pekan?”

L : “Sampai jumpa di akhir pekan!”

***

“Mau pilih filmnya?”

“Ummm, tidak, aku percaya seleramu memilih film,” ujarku. Masih mencoba menenangkan diri saat pertama kali datang ke rumah Luke, yang lebih mirip kastil daripada rumah. Dan bahkan ada lift!

“Bagaimana kalau ini?” Luke memegang DVD Atonement.

“Atonement sudah diadaptasi jadi film?!”

“Kau baca bukunya?”

“Tiga kali! Buku favoritku selama ini.”

“Kau harus lihat filmnya. Aku menangis seperti bayi saat pertama kali menontonnya, dan aku tidak merasa malu,” ujar Luke mulai memutar film Atonement.

Dua jam berlalu seperti angin. Dan aku juga menangis seperti bayi. Terutama saat adegan Robbie dan Cecilia harus berpisah karena perang, “Aku akan menunggumu, Robbie. Kembalilah. Kembalilah padaku.”

“Kau benar, tidak ada yang perlu merasa malu menangis karena Atonement,” ujarku sambil terkekeh.

Kami menghabiskan siang dengan makan—aku bertemu ibunya, seorang yang menyenangkan—dan bermain board games—karena kami berdua generasi tua—sampai senja dan akhirnya aku harus pulang.

“Samantha!” Luke memanggilku dari pintu saat aku beranjak pergi dari rumah. Aku berbalik. “Kembalilah,” ujarnya sambil tersenyum, “Kembalilah padaku.”

“Maukah kau menungguku?” aku membalaskan sambil terkekeh.

“Tentu saja.” Senyumnya berubah menjadi senyum sungguh-sungguh.

Dan saat itulah aku membuka lebar pintuku untuknya, hanya untuknya.

***

Aku menekan bel rumah Luke dan pembantunya yang membukakan pintu untukku. Aku mendengar ibu Luke memanggil dari ruang depan. Pembantunya pergi ke sana dan aku mengikutinya.

“Oh! Samantha! Kejutan!”

“Selamat sore, Sylvia. Apa Luke ada di rumah?”

“Oh, tidak. Dia ada di rumah sakit.”

“Rumah sakit? Apa dia sakit?” Aku tiba-tiba menjadi begitu khawatir.

Wajah Sylvia melemah, “Oh, kau tidak tahu ... “

***

“Luke, ingatkan aku lagi berapa lama kita bersama.”

“Tiga bulan, dua minggu, lima hari, dan satu jam?”

“Dan di Tiga bulan, dua minggu, lima hari, dan satu jam, apa kau pernah berpikir untuk mengatakannya padaku kalau kau sakit kang ... kalau kau sekarat, ini penting?!!” suaraku meninggi.

Ekspresi Luke berubah dari tegang menjadi lega. “Aku tahu kau akan mengetahuinya cepat atau lambat ... “

“Kenapa kau tidak bilang padaku?”

Dia mengembuskan nafas berat, “Karena, aku takut kalau kau tidak tahan dan akan pergi seperti mantan pacarku yang lain.”

“Tidak akan,” kutatap matanya.

“Bagaimana aku tahu kalau kau tidak akan pergi?”

“Karena aku punya satu minggu sebelum kau tahu kalau aku tahu dan aku masih ada di sini, bersamamu.”

Luke menatapku, memastikan kalau dia tidak dipermainkan. Dan saat dia yakin, dia tersenyum padaku dengan senyum malaikat yang pernah kulihat.

“Kita akan melewati ini bersama,” kugenggam tangannya.

Sore itu, saat aku mengucapkan selamat tinggal padanya. Kami berciuman untuk pertama kalinya. Ciuman yang sangat berarti bagiku. Dan aku mempercayainya sepenuh hati. Dan aku memintanya agar memercayaiku sepenuh hati juga. Dan dia melakukannya.

***

Kami merayakan delapan bulan kebersamaan, seminggu sebelum kenangan itu. Kami masih berciuman seperti ciuman pertama kami. Dan saat aku menciumnya, aku merasakan aroma morfin. Tapi tidak masalah, asal aku masih bisa menciumnya.

Saat itu sudah larut saat aku mendapat telepon dari rumah sakit. Aku datang secepat mungkin, meski masih belum cukup cepat.

Saat aku tiba di sana, dia sudah berada di peti dingin itu. Dan aku tidak menangis. Aku sedih, tapi aku tidak menangis. Tidak ada air matapun yang tumpah dari mataku. Sampai hari berikutnya, Sylvia datang ke rumahku dan memberikan surat.

“Aku menemukannya di bawah bantalnya,” dia hanya mengatakan itu lalu pergi.

Aku membacanya di kamarku dan saat itu seluruh air mataku tumpah. Aku sedih, aku marah tapi sekaligus juga lega.

Sayangku, Sam,

Aku akan menunggumu di ujung yang lain. Tapi tak perlu terburu-buru datang ke sini. Hiduplah dengan bahagia. Aku akan menunggumu. Kembalilah.

Dengan cinta, Luke.



Ps: Butuh dua hari untuk menerjemahan cerpen ini ternyata. Meski sebenarnya bukan cerpen yang panjang. Tapi tetap saja menerjemahkan dan mengubahnya menjadi tulisan dalam bahasa Indonesia yang tetap enak dibaca bukan perkara mudah. Butuh dua kali kerja, hehehe. Enjoy ... kalau banyak yang suka, mungkin gue akan menerjemahkan juga beberapa cerpen lain dari majalah untuk diposting di blog ini. OH ya, maaf kalau ada beberapa typo maupun misspelling ya.
Cerita terjemahan - COMEBACK Cerita terjemahan - COMEBACK Reviewed by Bening Pertiwi on Januari 28, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.