Flash Fiction – Kau dan Secangkir Kopi, Bagiku

Aku lebih dulu mengenalmu sebelum mengenal kopi. Dan jangan salahkan aku jika akhirnya jadi kecanduan begini. Jadi, saat kau pergi, aku memilih meninggalkan hatiku yang memang untukmu dan melabuhkan cinta yang lain pada secangkir kopi.
Aroma itu, yang kau hirup sambil merapatkan mata dan merapal mantera. Wewangian itu, yang selalu berhasil menarik garis bibirmu menjadi lebih lebar lagi dalam beberapa saat saja. Meski kemudian semua ilusi itu pun menguap terbang, seperti hilangnya kamu dari hadapanku.

Meski kamu tidak ada lagi di sini untuk memenuhi ruang pandangku atau hanya membuat nafasku makin sesak, tapi kenyataannya silhuetmu masih tetap di sana. Dalam jarak pandang yang selalu bisa kuhafal adanya. Selalu ada, tetapi tidak pernah bisa kuraih. Karenanya, aku memilih tak menjulurkan tanganku jika itu hanya membuatmu menghilang setelahnya. Biarlah bayangmu yang makin samar itu, yang tetap bisa kujadikan alasan bertahan dan berkali duduk menunggu di kafe ini. Menunggu kamu di sudut tempat kita pertama dan terakhir sua.
Flash Fiction – Kau dan Secangkir Kopi, Bagiku Flash Fiction – Kau dan Secangkir Kopi, Bagiku Reviewed by Bening Pertiwi on November 27, 2016 Rating: 5

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.