Karena Nikmatnya Kopi Bukan Pada Tegukan Pertama

Katanya, nikmatnya kopi itu ada pada tegukan kedua, bukan yang pertama. karena yang pertama sudah dicuri oleh aromanya. Bahkan saat kepulan uapnya mulai menghilang dan kopi di cangkir berubah dingin, masih ada rasa pahit yang bisa dicecap. Bukan karena ‘tinggal sisa’. Tapi karena tiap bagian kopi punya waktunya masing-masing untuk dinikmati.

Bagaimana dengan cinta? Apakah cinta itu seperti kopi? Yang hangat mengepul di awal saja? yang sedikit nyelekit di pertama kalinya, tetapi nikmat dan memabukkan di kecupan kedua dan seterusnya. Lalu, saat semuanya berubah dingin, maka nikmatnya tinggal pahit saja yang terus terdiam dan lelap di cecap lidah.

Ah, cinta tidak seperti itu. Cinta masih bisa bisa kembali memanas saat semuanya cocok. Tapi juga bisa mendingin abadi, saat semuanya benar-benar pergi. Rasa pahit kopi bisa hilang dan tergantikan oleh rasa lainnya. Tapi tidak dengan cinta. Meski satu cinta telah lalu dan pergi. Dan cinta lain sudah datang menggantikan, ternyata hati tidak bisa benar-benar menghapusnya.

Karena hati akan tetap membiarkannya ada, tetap memberikan ruang untuk semua kenangan cinta yang pernah ada. Hati tidak pernah kehabisan tempat untuk tiap kenangan yang pernah dihadirkan oleh cinta. Karena cinta itu sendiri yang menciptakan banyak ruang dan bilik dengan sekat-sekatnya sendiri, tanpa harus saling berebut mengisi. Tanpa harus saling menghapuskan.

Bagaimana dengan jatuh cinta? Cinta pertama? Atau apalah namanya. Cuma butuh dua-tiga cecap untuk mengenal dan jatuh cinta pada rasa kopi yang baru terhidang. Tapi butuh waktu tak sebentar, untuk mengenal dan bisa meyakini sebuah cinta. Cinta yang benar-benar mampu mengetuk pintu hati, membuatnya merekahkan lagi satu ruang dalam hati bernama kenangana.

Kenapa harus jatuh cinta? Bukankah jatuh itu sakit? Katanya, yang sakit itu yang bikin ‘nagih’. Rupanya manusia sudah terbiasa dengan rasa sakit bernama cinta. Bohong kalau cinta itu Cuma soal kebahagiaan. Justru lebih banyak rasa sakitnya. Dan karena terbiasa itulah, istilah yang dipakai adalah ‘jatuh cinta’ bukan ‘bangun cinta’.

Bagaimana dengan yang memilih istilah kedua? Tentu ada alasannya. Dan tentu semuanya punya porsi, waktu dan tempatnya masing-masing. Ah yang jelas, semunya punya hati dan sandaran masing-masing.

Selamat malam kamis, untuk kamu tambatan hati yang ada di suatu tempat di bumi. Ayok ketemuan segera dan buat orang-orang yang sok sibuk iri dan nyinyir itu terbungkam oleh cerita kita. Ketjup manis dari jauh #muaaaah
Karena Nikmatnya Kopi Bukan Pada Tegukan Pertama Karena Nikmatnya Kopi Bukan Pada Tegukan Pertama Reviewed by Bening Pertiwi on September 14, 2016 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.